
Sepulang dari makam sang bunda, Lisa bergegas turun dari mobil lalu berlalu ke kamar mandinya mengganti seragamnya sendiri tanpa minta bantuan orang lain sesuai pembelajaran yang ia dapatkan tadi di sekolah, bu guru bilang kita harus belajar mandiri, semakin kita besar kita tidak boleh selalu meminta bantuan pada orang tua kita, apalagi kalau cuman ganti baju atau mandi, harus dibiasakan, Gurunya juga menjanjikan hadiah jika ada yang berhasil belajar mandiri dalam seminggu ini, maka dari itu Lisa bertekad akan berubah menjadi mandiri.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Lisa merangkak naik ke atas ranjang hello kittynya, ya ranjang dengan nuansa warna pink itu milik tuan putri Lisa.
Krek
Terdengar suara pintu terbuka, dengan cepat Lisa menoleh ke arah pintu, tubuh yang masih menempel cantik pada kasurnya tidak bergerak sedikitpun.
"Selamat siang oma."
"Selamat siang cucu oma, habis pulang sekolah jangan langsung bubuk dong sayang, makan dulu yuk." Ajak oma pada Lisa.
"Tadi udah makan bakso sama papa ."Lisa menjawab apa adanya.
"Gitu ya, yaudah deh syukur kalau udah makan, sekarang Lisa boleh bubuk siang, bubuk yang nyenyak ya." Oma mengecup pelan kening Lisa.
Setelah memastikan Lisa benar-benar tertidur, oma pun beranjak keluar dari kamar Lisa, menutup pintu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang dapat menganggu tidur siang Lisa.
"Hallo Gio, om boleh minta tolong nggak?"
Terdengar suara papanya Rayhan diseberang telepon.
"Boleh om, apa yang bisa Gio bantu om."
Papanya Rayhan meminta Gio agar menemani Rayhan di rumah sakit untuk malam ini karena dia akan mengadakan perjalanan keluar kota untuk urusan bisnis,hanya Gio yang dekat dengan keluarga mereka,maka papanya Rayhan memutuskan meminta bantuan pada Gio.
"Ma, Gio balik ke rumah sakit ya ma, mungkin malam ini Gio nginap disana karena om ada urusan ma."Gio yang sudah memakai pakaian santainya kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian, namun sebelum itu ia sempatkan untuk meminta ijin pada mamanya.
"Besok pagi pulang nggak?Nanti kalau Lisa nanyain gimana?"
"Mama tenang aja, besok pagi-pagi Gio udah sampai rumah, sebelum Lisa bangun jadi Gio tetap yang anatar Lisa ke sekolah."
Begitulah Gio, rasa sayangnya pada Lisa sangat besar, bahkan lebih dari pada rasa sayangnya pada dirinya sendiri, lelah letih yang ia rasakan ia tetap akan memprioritaskan putri kecilnya itu.
Satu jam setelah Gio pergi,
__ADS_1
"Eh Lisa udah bangun." Lisa menghampiri omanya yang sedang mencuci piring
"Iya oma." JawabLisa yang masih sedikit lemas karena bangun tidur.
"Lisa mandi dulu gih, habis itu sholat. Nanti oma bikinin cemilan."
"Iya oma."
"Oh iya oma, papa pergi ya, pulang kan nanti?"
"Nanti papa nggak bisa pulang, masih ada urusan yang harus papa Lisa selesain."
"Terus besok Lisa dianter siapa?"
"Besok pagi papa pulang kok, jadi besok papa bisa nganterin Lisa sekolah." oma menjawab dengan tangan terus mencuci piring.
"Sama mama cantik ya oma."
"Nanti oma tanyain kakak Firanya dulu ya, sekarang kamu mandi dulu."
Fira pulang dari kantor menggunakan taksi online, ia sampai rumah tepat pukul empat sore.
Setelah seleai mandi, Fira keluar dari kamarnya menuju dapur, terlihat sang malaikat tanpa sayap di kehidupannya tengah berkutat dengan alat-alat dapur, ia pun mendekat dan memeluk sang mama, menghujani wajah mama dengan kecupan-kecupan lembut.
"Duh ada apa ini, kayaknya anak mama lagi bahagia banget."Goda sang mama yang masih melanjutkan kegiatannya tanpa merasa terganggu dengan tingkah laku Fira. Sedangkan Fira malah semakin mempererat pelukannya itu.
"Pingin dimanja sama mama."
"Udah lama setelah baby Rasyid lahir Fira nggak pernah dimanja sama mama." Tambahnya lagi
"Mama masak apa ma?"
"Mama enggak masak, cuman goreng udang csama ayam kesuakaanmu sama abangmu."
"Uwh mama, makin cintak deh sama mama."
__ADS_1
Setelah menyelsaikan menggoreng mama danFira duduk di meja makan, osre ini hanya terlihat mereka berdua di meja makan, sedangkan keluarga Rama tak nampak batang hidungnya, Fir ayang baru sadar pun mulai menanyakan.
"Ma, kok cukan kita berdua?"
"Yang lain kemana ma?"
Mama menelan nasi yang sudah ia masukkan ke mulutnya sebelum menjawab pertanyaan anak bungsunya.
"Tadi sepulang kerja, Rama ngajakin Dinda sama Rasyid."
"Kemana ma? Kok mama nggak diajak."
"Mungkin kakakmu mau ngajakin keluargnya jalan-jalan, tadi mama sempet diajak tapi mama sedikit lelah jadinya nggak ikut."
Mereka menyelesaikan makannya dengan diakhiri makan pudding buatan Dinda, Fira yang melihat mama berjalan ke arah wastafel segera menghampirinya. Ia mengambil alih kegiatan mencuci piring yang akan dikerjakan oleh mama.
"Mama cantik duduk manis aja, biar Fira yang cuci."Masih dengan tingkah mnajanya menciumi wajah sang mama.
Fira telah selesai mencuci piring dan membereskan dapur, ia berjalan mendekati sang mama yang tengah duduk berselonjor di karpet depan tv, Fira pun mendekat dan merebahkan tubuhnya disana berbantalkan paha sanga mama.
"Ma usap-usap ma."Fira meraih tangan mama dan meletakkannya di atas kepala Fira.
"Kamu tu ya, udah segede gini masih aja manja, harusnya kamu ini yang manjain suami sama anak-anak kamu." Mama mulai mengusap-usap anaknya yang tengah bersikap manja itu.
"Mama apaan sih, suami-suami, Fira masih kecil. Nggak tau yang begituan." Fira mengerucutkan bibirnya tidak terima dengan apa yang mama katakan.
"Kecil gimana. Udah waktunya kamu untuk punya keluarga sendiri."Mama Beralih mengusap pipi Fira, ia jadi teringat saat Fira masih kecil.
"Fira masih belum kepikiran ke arah sana, masih nyaman sendiri dan dimanja keluarga sendiri." Fira mengatakan hal itu dengan diiringi tawa kecil.
"Kamu itu, tapi kalau mama liat kamu sama Lisa, entah kenapa rasanya kalian cocok banget, kamu udah pantes jadi mamanya." Mama teringat akan Lisa, kedekatan Lisa dengan Fira sudah seperti mama dan anak.
"Uhukk" Fira terbatuk karena kaget mendengar kata-kata mamanya itu.
"Ih apaan sih, enggaklah" Fira yang terlihat merona karena malu, apalagi kalau mengingat kejadian hari ini.
__ADS_1
"Ma, emangnya mama ikhlas dan ridho ya kalau Fira nikah sama laki-laki yang udah punya anak." Entah mengapa Pertanyaan itu keluar dari mulut Fira
"Nak, ayahmu dulu pernah bilang, anak itu punya hak sendiri, ia berhak memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya dan apa yang ia cita-citakan, mama sama ayah nggak akan memaksa kalian, baik Rama maupun kamu."