
Setelah tau keadaan Fira baik-baik saja, Aditpun meminta ijin pamit untuk pulang, tapi lagi-lagi mamanya Fira melarang, katanya Adit harus ikut makan malam terlebih dahulu baru boleh pulang.
Adit tidak bisa menolak ajakan mamanya Fira, iapun menurut.
Kini Adit, Rama, dan Dinda tengah makan malam di meja makan, sementara mama menyuapi Fira di kamarnya.
Setelah selesai makan, Rama mulai membuka obrolan.
"Gimana perkembangan hubunganmu dengan Fira?" Tanya Rama pada Adit.
"Adit nggak ada apa-apa sama Fira kak."
"Jangan bohong, kakak tau dari raut wajahmu itu, bagaimana kamu mencemaskannya tadi."
"Itu tidak lebih dari rasa kemanusiaan kak."
"Adit jangan takut, mas Rama tidak akan marah sama kamu jika kamu ngomong jujur." Balas Dinda.
"Ehm, ya seperti yang kakak kira, aku memang mencintai Fira, tapi tidak dengan Fira."
"Tapi mungkin Adit akan mundur perlahan kak, Adit tidak tega dengan Fira. Semenjak Adit mengutarakan perasaan Adit, Fira menjadi sosok pendiam sering melamun, Adit rasa perbuatan Adit kembali membawa luka lama pada Fira, mungkin Fira belum bisa melupakan dia."
"Dia?" Tanya Rama mengetes Adit.
"Dia masalalu Fira kak, Adit juga tidak tau tentang dia, mungkin kak Rama tau tentangnya."Jawab Adit jujur.
"Bagaimana jika Fira mau menerimamu, apa kamu tetap akan mundur?"
"Tidak mungkin kak, selama ini Fira masih berkutat dengan masalalunya, dan menurut Adit kejadian sore tadi karena pikiran masalalunya."
"Adit akan mundur jika bisa membuat Fira bahagia kak, cinta tidak harus memiliki."
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Rama, Adit pun ijin untuk pulang karena hari sudah malam. Adit tidak menemui Fira karena kata mamanya Fira sudah tidur.
Di tengah perjalanan, ponsel Adit bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Ya Hallo"
"........."
"Baiklah aku aku usahakan, jam berapa?"
"......"
"Iya, aku tutup teleponnya."
Setelah mengakhiri panggilan, Adit kembali fokus mengemudikan mobilnya kerumah.
Sesampainya dirumah, Adit disambut dengan tatapan tajam dari makhluk bernama Nana.
"Kenapa liat kakak seperti itu hah?" Tanya Adit geram.
"Kakak ini dari mana aja si, jam segini baru inget rumah."
"Dari rumah Fira."
__ADS_1
"Rumah Fira kenapa kakak disana? Apa terjadi sesuatu dengan Fira." Nana memberikan pertanyaan pada Adit dengan cepat.
Karena merasa lelah dan letih, Adit tidak menanggapi pertanyaan Nana, ia berlalu masuk menuju ke kamarnya.
"Kak Adit jawab Nana." Teriak Nana diujung tangga.
"Nanti Na, kakak capek mau mandi gerah ini."
Setelah mendengar jawaban kak Adit Nana pun tidak teriak-teriak lagi, lima belas menit berlalu dirasa Adit sudah selesai mandi, Nana mengetuk pintu kamar Adit.
Tok tok tok
"Kak, kak Adit udah selesai mandi kan."
"Arghhh, Nana astaghfirullah." Adit mengacak rambutnya kasar, baru aja matanya akan terpejam, tapi Nana malah mengganggunya.
"Ada apa Na, kau selalu ganggu kakak aja."
Adit membuka pintu dengan malas.
"Kenapa kakak tadi kerumah Fira?"
"Fira pingsan."
"APA." Nana kaget dan berteriak di samping telinga Adit.
"Ya ampun Na kamu mau bikin kakak tuli?"
"Maaf kak, Fira pingsan kenapa kak?"
"Hujan-hujanan? - - -."
"Sudah Na, sebaiknya kamu besok temui Fira aja, kakak ngantuk Na."
Sementara di lain tempat.
"Mas, ini kenapa Fira demam lagi?" Tanya Dinda panik setelah mengecek suhu tubuh Fira.
"Bentar mas cek dulu." Rama mengecek keadaan Fira dengan alat-alatnya.
"Di-dingin kak." Fira mengeluh dengan mata tetap terpejam.
"Gimana ini mas, apa kita bawa ke rumah sakit aja?"
Ya Dinda memang dulunya seorang perawat maka dari itu sedikit demi sedikit Dinda tau tentang kesehatan, semenjak Dinda mengandung , Dinda resign dari pekerjaannya sesuai perintah suaminya.
Tanpa menunggu waktu, Rama membopong tubuh Fira keluar dari kamar menuju mobil, sementara Dinda pergi ke kamar mertuanya untuk memberi tahu keadaan Fira.
Kini mereka telah sampai di rumah sakit tempat Rama bekerja, Rama membawa tubuh Fira ke UGD.
"Dokter Rama? Ada apa ini?" Tanya Dokter jaga.
"Sepertinya adek saya terkena tifus dok, coba periksa keadaannya." Ya Rama menduga Fira terkena tifus.
"Din, adekmu nggak apa-apa kan?" Tanya Mama pada Dinda di luar ruangan.
__ADS_1
Dinda mengenggam tangan mertuanya, memberi kekuatan agar mamahnya tetap tenang.
"Mama tenang ya, Fira akan baik-baik aja."
Setelah diperiksa oleh Dokter, Rama keluar dari ruangan UGD, memberi tahu pada mama dan istrinya bahwa Fira harus dirawat selama beberapa hari.
Kini Fira telah dipindahkan ke kamar rawat, matanya masih terpejam, kondisinya makin menurun, ditambah akhir-akhir ini Fira sering telat makan.
"Ma, mama Rama antar pulang aja ya sama Dinda biar Rama yang disini."
"Mama disini aja Ram, mama mau nungguin Fira."
"Ma, mama juga harus jaga kondisi, mama pulang ya biar Dinda dan Rama yang tungguin Fira." Jawab Dinda menambahkan.
"Sudah kalian berdua nurut sama Rama kali ini aja, Mama sama Dinda pulang istirahat di rumah, biar Rama yang tungguin Fira, besok kalian yang gantian jaga Fira saat Rama kerja. "
Akhirnya Mama mau dibujuk untuk pulang, tetapi tidak dengan Dinda, kata Dinda jika Rama mengantarkan mama dan Dinda pulang siapa yang akan jagain Fira, dan Rama pun menyetujui walaupun dengan berat hati.
Setelah kepergian Rama dan mama, Fira mulai membuka matanya.
Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, bau obat yang Fira cium, ia baru menyadari bahwa ia dirumah sakit saat merasakan nyeri di pergelangan tangannya.
"Mbak." Panggil Fira pada Dinda.
"Alhamdulillah kamu udah sadar Ra, gimana apa ada yang sakit?"
"Haus mbak." Dinda segera mengambil gelas yang berada di meja dekat ranjang, ia membantu Fira minum.
"Apa sudah enakan?"
"Sudah enggak begitu pusing mbak."
"Mbak disini sendiri?"
"Mas Rama lagi nganterin mama pulang, bentar lagi juga balik. Apa Fira mau sesuatu?"
Fira menggeleng tanda tidak.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka dan masuklah Rama.
"Udah bangun kamu Ra? Gimana apa ada yang sakit?"
"Enggak kak, Kak ponsel Fira mana?"
"Lagi sakit ponsel Kakak sita."Ujar Rama tegas.
"Mbak." Fira memandang dengan tampang memohon pada Dinda, Fira tau Dinda orangnya tidak tegaan.
"Nggak papa disita dulu, demi kebaikanmu."
"Ih kalian berdua sama aja."
"Sudah-sudah, Kalian istirahat biar kakak yang jaga kalian."
Fira kembali merebahkan tubuhnya dengan dibantu dengan Rama, Dinda membenarkan selimut Fira agar Fira nyaman. Setelah Fira kembali memejamkan matanya, Rama menyuruh Dinda untuk tidur di kasur jaga pasien yang telah disediakan.
__ADS_1
Setelah semuanya terlelap, Ramapun ikut memejamkan matanya di sofa.