DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 15


__ADS_3

Usai jalan-jalan mereka mampir ke rumah paman Haris. Di rumahnya hanya ada bibi Maya dan anak perempuannya yang masih berusia dua tahun. Bibi Maya menyambut mereka dengan sangat ramah, dan Tania juga langsung akrab dengan Maya. Apalagi dengan Rara, Tania sangat senang bertemu Rara yang lucu, imut dan menggemaskan itu, ditambah dia memang sangat mendambakan seorang buah hati. Dengan bertemu Rara membuatnya sangat terhibur dan bahagia.


Setelah kurang lebih dua jam, Aldi dan Tania berada di rumah Bibi Maya, akhirnya mereka berpamitan, karena hari juga sudah sore.


Tania dan Aldi menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan penuh kebahagiaan. Hari-hari dilalui dengan penuh suka cita. Namun tidak bisa dipungkiri, Aldi sangat mendambakan seorang anak dalam pernikahannya. Tapi dia berusaha bersabar dan tidak menunjukkan kepada Tania. Dia tidak mau membuat Tania bersedih.


Bel rumah berbunyi saat Aldi dan Tania sedang bersantai di ruang tengah. Bi Surti cepat-cepat membuka pintu rumah. Didepan pintu berdiri seorang wanita dengan tubuh langsing, tinggi dan berkulit putih. Serta wajahnya yang cantik dan sangat terawat itu. Dan ternyata dia adalah Meri.


Meri terlihat sangat jauh berbeda dari Meri yang dulu waktu masih SMA. Sekarang dia terlihat jauh lebih cantik dan seksi dengan penampilannya yang elegan dan berkelas itu.


"Tania nya ada bi?" tanya Meri


"Ada non, kalau boleh tau non siapa ya?"

__ADS_1


"Saya sahabatnya Tania."


Bi Surti mempersilahkan Meri masuk lalu memberi tahu kepada Tania kalau ada sahabatnya yang datang. Tania sangat girang, dia tau itu pasti Meri. Tania langsung bergegas ke ruang tamu, Aldi pun mengikutinya dari belakang.


"Meri...! aku kangen banget sama kamu Mer," ucap Tania sambil memeluk Meri.


"Sama Tania, aku juga kangen banget sama kamu."


Lalu keduanya berpelukan erat, dua sahabat baik yang sudah lama tidak bertemu, bahkan sudah hampir lima tahun. Setelah lulus SMA Meri memang tidak pernah pulang ke Jogja. Orang tuanya yang justru ke Jakarta menemuinya. Dia sangat serius mengejar karirnya sampai dia bisa berhasil dan sukses seperti sekarang.


"Hai Mer," jawab Aldi sambil menjabat tangan Meri.


Meri menatap Aldi, tatapan yang penuh arti. Seperti ada sesuatu yang tersimpan dari tatapan Meri.

__ADS_1


Aldi laki-laki normal, sudah jelas dia terpesona dengan penampilan Meri sekarang yang terlihat sangat cantik. Namun dia berusaha menepis rasa kagumnya pada Meri dengan memandang istrinya Tania yang juga cantik alami, baik hati dan menyayanginya dengan sepenuh hati.


Lalu mereka bertiga ngobrol tentang banyak hal sampai larut malam, bahkan mungkin obrolan mereka tidak akan selesai sampai besok pagi. Namun karena besok Meri ada jadwal pemotretan, dia berpamitan pulang.


Selain cantik,Meri seorang model yang bertanggung jawab dan profesional dalam pekerjaannya, sehingga tak heran kalau banyak tawaran job untuknya.


Dan lagi-lagi, dua sahabat itu berpelukan seperti tidak ingin berpisah lagi.


"Lain kali kesini lagi ya Mer, aku masih kangen banget sama kamu," ucap Tania


"Iya, tapi gak bisa sering-sering ya. Soalnya jadwal pekerjaanku padat banget. Tapi aku usahakan kalau ada waktu luang aku pasti kesini,"


"Tapi kalau bisa ke sini nya jangan sendiri dong, bawa sekalian pacarmu. Masak model cantik gini gak punya pacar." ejek Tania.

__ADS_1


"Iya, nanti aku bawa pacar, tapi pacar orang." jawab Meri sambil matanya melirik ke arah Aldi.


Bagi Tania ucapan Meri itu hanya sebuah lelucon, tapi tidak bagi Aldi, dia mengerti kalau ucapan Meri itu mempunyai arti tersendiri.


__ADS_2