
Untuk memberikan kesempatan bagi yang memiliki pasangan, DJ mengganti musiknya dengan musik blues. Lampu disko dimatikan, diganti dengan lampu yang agak redup. Sehingga suasana menjadi romantis.
"Apa kamu pernah berdansa?" bisik Riko di telinga Meri.
"Belum pernah,"
"Maukah kamu berdansa dengan ku," ucap Riko sambil mengulurkan tangannya.
"Boleh," jawab Meri, yang lalu menyambut uluran tangan Riko.
Meri merangkul Riko, sedang tangan Riko memeluk tubuh Meri. Lalu mereka mulai berdansa. Bagi Riko berdansa dengan Meri sesuatu yang sangat spesial, karena dia bisa menyalurkan hasrat birahinya yang ingin memiliki Meri dengan memeluknya, meski tidak bisa mendapatkan cintanya.
Sedangkan bagi Meri, Riko hanyalah pelampiasan atas kekecewaannya pada Aldi. Namun meski demikian, tetap saja pelukan Riko membuatnya nyaman dan bergairah meski dia tidak mencintai Riko. Bahkan dia tidak menolak saat Riko memeluknya dengan erat.
Malam mulai larut, tepat jam sebelas malam Meri mengajak kedua temannya pulang. Meri juga minta ijin menginap di kosan mereka. Selain malas pulang, besok juga hari Minggu, pikir Meri. Dan kedua temannya itu dengan senang hati mengizinkan Meri menginap.
"Kalian mau pulang? tanya Riko.
"Iya mas, udah malam nih" jawab Meri.
"Ya udah, aku antar kalian ya, aku gak mau terjadi apa-apa sama kalian. apa lagi ini udah larut malam,"
"Makasih ya mas, maaf ngerepotin."
__ADS_1
"Iya gak pa-pa."
sesampainya di kosan, Rani dan Siska masuk duluan. Mereka memberi Meri dan Riko ngobrol sebentar.
"Makasih ya mas udah mau nganterin kita."
"Iya, aku juga makasih buat malam ini. Aku akan jadikan ini kenangan terindah dalam hidupku."
Meri hanya tersenyum, dia mendekati Riko. Lalu perlahan dia mencium pipi Riko.
"Ini sebagai permohonan maaf dari Meri karena tak bisa membalas cinta mas Riko."
"Iya gak pa-pa, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Sekali lagi terimakasih buat semuanya," ucap Riko sambil tersenyum.
"Bye Mer."
Setelah masuk ke dalam kamar, Rani dan Siska langsung berebut menanyakan Riko pada Meri.
"Mer, cowok tadi pacarmu ya?" tanya Rani
"Bukan, dia mas Riko mantan kakak kelasku dulu,"
"Aku mau dong di jomblangin sama dia,"
__ADS_1
"Jangan mau Mer, Rani tu play girl. Mending buat aku aja mas Riko nya,"
"Enak aja bilang aku play girl, kamu sendiri juga play girl. Itu si Ari sama si Doni mau di kemanain." gerutu Rani.
Mereka pun bergadang sampai larut malam, dengan obrolan-obrolan yang seru dan candaan-candaan yang konyol.
Sore itu terlihat Tania sedang membersihkan halaman saat Aldi mengunjunginya. Aldi sedikit heran, karena biasanya simbok yang mengerjakan itu. Tania menghentikan pekerjaannya lalu dia mengajak Aldi duduk di teras rumah.
"Tumben kamu bersih-bersih rumah, emang Simbok kemana,"
"Simbok lagi sakit, aku udah coba ajak dia ke rumah sakit tapi gak mau. Simbok bilang gak perlu ke rumah sakit, mungkin hanya kecape'an, dibawa istirahat aja nanti juga sembuh. Tapi tetap saja Tania gak tega mas liatnya, Tania jadi bingung,"
"Ya udah, biar aku yang bicara sama Simbok. Aku akan bawa simbok ke rumah sakit bagaimanapun caranya,"
"Makasih ya mas."
"Iya."
Lalu Tania mengantar Aldi ke kamar simbok. Dengan sopan dan lemah lembut, bahkan seperti kepada ibu kandungnya sendiri, Aldi berusaha merayu simbok agar mau dibawa ke rumah sakit.
Dan akhirnya Simbok pun luluh dengan perlakuan Aldi yang seperti anaknya sendiri. Dia pun bersedia dibawa ke rumah sakit.
Tania tersenyum bahagia, dia semakin yakin kalau Aldi memang pria yang baik, yang memang pantas mendapatkan cintanya.
__ADS_1