
Sesampainya di rumah, Meri yang merasa malu karena Aldi justru malah membela Tania ketimbang dia pun semakin uring-uringan. Meri langsung masuk kamar dan mengacak-acak meja riasnya untuk melampiaskan emosinya. Dan di dalam hatinya semakin membenci Tania. Karena meski dia telah memberikan seorang anak untuk Aldi, tetap saja posisinya jadi yang kedua di hati Aldi, dan itu bukan yang dia inginkan. Dia ingin menjadi yang pertama di hati Aldi, selamanya.
Aldi pun tiba di rumah, dengan langkahnya yang setengah berlari, dia langsung menuju ke kamar. Didalam kamar terlihat Meri tengah menangis di tepi ranjang dan dengan keadaan kamar yang sangat berantakan.
Aldi mendekati Meri, berusaha bicara baik-baik dengan Meri. Karena dia tidak mau suasana menjadi tambah kacau.
"Sudahlah Mer, jangan menangis. Maafkan atas sikapku tadi. Aku hanya mencoba menjelaskan, kalau Tania benar-benar tidak bersalah. Aku yang mengajak dia kesini, karena dia sangat merindukan Farel, dan justru dia membantumu menjaga Farel. Jadi disini Tania sama sekali tidak bersalah, mengertilah sayang," ucap Aldi sambil membelai rambut Meri.
"Tapi mas Al lebih mencintai Tania kan ketimbang Meri. Itu yang membuat Meri sangat kesal mas, Meri sudah berusaha memberikan semuanya mas, semua yang mas Al inginkan. Tapi sepertinya mas Al tetap memilih Tania ketimbang Meri, Meri gak bisa terima itu mas. Karena Meri yang sudah membahagiakan mas Al, bukan Tania,"
__ADS_1
Aldi memeluk Meri, berusaha menenangkan Meri, meski itu tidak mudah. Karena hati Meri yang telah diliputi rasa cemburu pada Tania.
"Sudahlah sayang, buang semua rasa cemburu mu itu, buang rasa iri mu itu, kalau aku memilih Tania, tidak mungkin sayang aku datang kesini, memelukmu seperti ini. Kalau aku memilih Tania, sudah jelas sekarang aku di sana dan memeluknya. Karena dia juga butuh aku saat ini,"
Meri mulai merasa tenang, ada benarnya juga yang dikatakan Aldi. Kalau Aldi memilih Tania memang tidak mungkin Aldi datang menemuinya. Meri pun berhenti menangis dan berbalik memeluk Aldi dengan erat.
"Iya, aku sayang sama kamu, sama Farel juga. Jadi mulai sekarang berhentilah bersikap seperti ini. karena ini hanya akan menyakiti hatimu sendiri,"
Meri hanya mengangguk, dia sendiri tidak yakin apa dia bisa berhenti membenci Tania dan bersikap baik pada Tania. Karena dihatinya tetap ada rasa iri dan cemburu pada Tania, yang selalu menyelimuti hatinya.
__ADS_1
Sementara di rumah Tania, Tania duduk di ruang tengah dengan ditemani oleh bi Surti.Tania mengusap sisa air matanya yang masih menetes di pipinya.
"Sudah non, jangan menangis lagi. Non Meri memang seperti itu kan orangnya, jadi gak usah diambil hati ya non," ucap bi Surti mencoba menenangkan Tania.
"Tapi Meri sudah sangat keterlaluan bi, semua yang dia katakan benar-benar terdengar menyakitkan bi. Tania tidak sanggup mendengarnya,"
"Mungkin itu salah satu cara non Meri untuk menjatuhkan non Tania, agar non Tania menyerah lalu meninggalkan den Al, sementara dia bisa memiliki den Al seutuhnya. Bibi yakin, pasti itu tujuan non Meri. Jadi non Tania jangan termakan dengan omongan non Meri, karena memang itu yang dia mau,"
Tania pun terdiam, dia mencoba mencerna perkataan bi Surti. Mungkin juga ada benarnya yang dikatakan bi Surti. Namun Tania memilih diam dan mencoba memikirkan kembali apa tujuan Meri berkata seperti itu.
__ADS_1