
Setelah satu jam berada didalam kamar, Tania dan Aldi turun ke bawah untuk makan malam. Bi Surti pun sudah selesai menyiapkan makan malam untuk mereka. Hanya menu sederhana, namun kebersamaan yang membuat semua menjadi nikmat dan membahagiakan.
Aldi duduk di kursi, sementara Tania melayani suaminya dengan tulus, mengambilkan nasi, sayur, lauk pauk dan menuangkan minuman untuk Aldi. Sebenarnya itu hal yang sepele, namun jarang istri yang mau melakukannya. Hanya seorang istri yang baik, lembut, tulus dan ikhlas yang sering melakukan hal semacam itu.
"Sayang, bisa buatkan aku teh hangat," pinta Aldi pada Tania. Sebenarnya ada bi Surti, tapi Aldi lebih senang dilayani oleh istri tercintanya.
"Iya mas, tunggu bentar ya," jawab Tania yang langsung bergegas ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya.
__ADS_1
Sementara Aldi mulai menyantap makan malamnya. Tidak lama kemudian, Tania kembali dengan membawa segelas teh hangat untuk suaminya. Lalu mulai menyantap pula makanannya.
Selesai makan malam, keduanya bersantai di ruang tengah. Ngobrol sambil menikmati acara televisi. Dan tiba-tiba saja Tania membahas soal Meri.
"Mas, sebentar lagi kan Meri melahirkan. Apa tidak sebaiknya mas Al belikan rumah untuk Meri. Kasian Meri dan bayinya kalau harus tetap tinggal di apartemen. Kalau dirumah sendiri kan lebih luas dan lebih nyaman. Kalau bisa belinya sekitaran sini aja, biar gak terlalu jauh dari kantor mas Al. Dan aku juga bisa lebih mudah membantu kalau ada apa-apa dengan Meri dan anaknya,"
Ucapan Tania terdengar begitu sejuk di telinga Aldi. Kata-kata yang tulus dan ikhlas dan bukan hanya sekedar basa-basi. Meski Meri telah menyakiti hatinya berulang kali, namun Tania masih tetap menganggap Meri sahabatnya, yang sangat dia sayangi setulus hati.
__ADS_1
"Mas Al kok tanya nya kayak gitu, ya jelas gak pa-pa dong mas. Meri juga kan istri mas Al, mas Al harus adil dong. Masak Tania tinggal di rumah mewah, sementara Meri cuma tinggal di apartemen, ditambah sebentar lagi dia mau punya bayi. Kan kasihan Meri mas. Sebenarnya sudah lama Tania kepikiran tentang ini, tapi karena kita jarang ngobrol bareng, ditambah suasana rumah tangga kita yang kurang baik akibat sikap Meri yang seperti anak kecil, jadinya Tania sering lupa kalau mau membahas soal ini,"
Aldi tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia benar-benar salut dengan Tania. Sedikitpun Tania tidak menaruh benci pada Meri, padahal Meri sudah sering menyakiti hatinya. Dan justru dia malah memikirkan tentang masa depan Meri dan anaknya.
"Mas Al kok senyum-senyum sih, emang ada yang lucu ya?" tanya Tania dengan polos.
"Gak ada yang lucu sayang...aku hanya kagum sama kamu. Memangnya terbuat dari apa sih hati kamu ini, kok bisa ya kamu memiliki hati selembut dan setulus ini. Aku benar-benar orang yang sangat beruntung mempunyai istri sepertimu. Dan kamu orang yang sangat tidak beruntung mempunyai suami sepertiku,"
__ADS_1
Tania mendekati Aldi, memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dada Aldi.
"Siapa bilang aku gak beruntung, selama mas Al masih tetap mencintaiku dan menyayangiku dengan segala kekuranganku. Aku akan tetap menjadi orang yang beruntung. Meskipun aku dimadu," ejek Tania sambil menatap tajam ke arah Aldi. Yang justru membuat Aldi gemas dan langsung mencium bibir mungil Tania.