
Setelah kurang lebih tiga hari, Aldi dan Tania berada di Jogja. Mengurus segala sesuatu selepas kepergian ayah Tania. Mereka kembali lagi ke Jakarta. Dan Bu Rima terlihat begitu berat melepas kepergian mereka, terutama kepada Tania.
"Sayang, kamu baik-baik ya di sana. Jaga kesehatan, dan jangan banyak pikiran. Mama selalu mendo'akan kalian disini."
"Iya ma, mama gak usah khawatir, Tania akan baik-baik saja. Mama juga baik-baik ya disini."
Begitu juga dengan pak Surya, sebagai seorang ayah dia mengingatkan anaknya, agar selalu menjadi seorang suami yang bertanggung jawab.
"Sekarang kamu tau sendiri kan, kalau papa Tania sudah tidak ada lagi. Berarti tanggung jawab Tania sepenuhnya berada di tangan mu. Jaga dia, dan jangan sampai kamu menyakitinya. Kamu mengerti kan maksud papa?"
"Iya pa, Aldi mengerti."
Setelah berpamitan, mereka pun kembali ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Tania terlihat lebih tenang. Sepertinya dia sudah bisa mengikhlaskan kepergian sang ayah.
Keesokan harinya, Aldi kembali masuk kantor seperti biasa. Sementara Tania belum pergi ke butik. Dia masih kecape'an sehabis perjalanan. Dan dia juga berencana pergi ke apartemen Meri, untuk memberikan titipan ibunya Meri.
Sementara di apartemen, Meri terlihat sangat panik. Di tangannya memegang sebuah testpack. Dia sengaja membeli alat tes kehamilan itu, karena dalam beberapa hari ini, rasa pusingnya belum juga sembuh. Dan perutnya juga terasa mual. Dia berfikir apakah kemungkinan dia hamil. Dan ternyata itu benar, setelah di tes ternyata dia positif hamil.
__ADS_1
Meri buru-buru menelpon Aldi, dia ingin menyampaikan berita kehamilannya.
"Ada apa Mer? aku sekarang lagi meeting, soalnya baru kemaren aku pulang. Jadi aku sangat sibuk hari ini."
"Maaf mas, Meri gak tau. Kirain masih di Jogja. Gini aja, nanti pulang dari kantor, mas Al mampir kesini ya. Ada yang mau aku omongin."
"Iya, nanti aku mampir."
Meri terlihat cemas, dia sedang memikirkan bagaimana nasibnya ke depan. Dan dia juga memikirkan bagaimana nasib anaknya nanti kalau lahir.
"Tidak, aku tidak mungkin hamil." ucap Meri lirih, dia buru-buru mengambil tasnya. Dia berniat pergi ke dokter untuk memastikan apakah dia benar-benar hamil. Karena dia masih belum yakin dengan hasil tes yang baru saja dia lakukan.
"Tania!" ucap Meri kaget. Karena ini pertama kalinya Tania datang ke apartemennya.
"Kaget ya, biasa aja kali. Gak usah syok gitu," gurau Tania.
"Kamu bisa aja Tan, ayo masuk," Meri mengajak Tania masuk.
__ADS_1
Entah kenapa Meri tidak seperti biasanya, dia terlihat canggung dengan Tania.
"Kok kamu gak tanya kapan aku pulang sih Mer," gerutu Tania.
"Kan tadi udah dikasih tau sama mas Al,"
"Sejak kapan kamu punya nomor telepon mas Al?" tanya Tania yang baru tau kalau Meri punya nomor telepon Aldi.
"E... waktu kalian mau ke Jogja kemaren. Aku sengaja minta nomor mas Al, karena aku ingin tau keadaanmu diperjalanan," jawab Meri dengan agak gugup. Karena sudah jelas dia berbohong.
"O... gitu," jawab Tania sambil kepalanya manggut-manggut.
Tania kemudian memberikan titipan ibunya Meri, lalu dia memperhatikan wajah Meri yang terlihat sangat pucat.
"Kamu sakit Mer? kamu pucat banget lho Mer," Tania terlihat agak panik.
"Gak pa-pa Tan, mungkin aku hanya kurang tidur. Hoek!" Meri langsung berlari ke kamar mandi. Lagi-lagi Meri muntah, karena perutnya yang terasa mual terus-menerus.
__ADS_1
Tania menjadi semakin panik, dia takut terjadi apa-apa dengan sahabatnya.