
Meri terus berusaha melepaskan diri dari Aldi, namun Aldi tidak peduli. Dia memaksa Meri masuk kedalam mobil, dan Meri sudah tidak bisa lagi menolaknya. Kali ini Aldi benar-benar sangat marah pada Meri, karena dia merasa Meri sudah sangat keterlaluan.
Aldi lalu menjalankan mobilnya, namun pertengkaran masih berlanjut didalam mobil. Meri yang tidak terima dengan sikap Aldi ini pun naik darah. Karena dia sudah dibuat malu didepan rekan kerjanya, dan Meri yang selama ini selalu profesional, merasa hari ini dia telah gagal mempertahankan nama baiknya yang selama ini dia jaga.
"Kamu benar-benar keterlaluan mas, kamu sudah gila, turunkan aku mas. Aku belum selesai pemotretan mas!"
"Kamu yang gila Mer, ibu macam apa kamu ini. kerja,kerja dan kerja. Aku benar-benar muak dengan sikap kamu ini!"
"Dan mas Al pikir aku senang dengan sikap mas Al, aku juga muak mas. Kamu udah bikin aku malu. Turunkan aku mas, aku gak mau ikut kamu, aku benci sama kamu mas!"
Meri menggoncang-goncang tubuh Aldi, meminta aldi segera menurunkannya. Sehingga membuat Aldi tidak bisa berkonsentrasi. Tiba-tiba dari arah tikungan muncul pengendara motor, Aldi yang panik berusaha agar tidak sampai menabrak pengendara motor itu, dengan membanting setir ke arah lain, namun sayangnya mobilnya justru menabrak sebuah pohon besar. Dan kecelakaan parah pun tidak bisa dihindari.
__ADS_1
Keduanya sama-sama terluka parah. Dan Meri yang tidak memakai sabuk pengaman, keadaanya lebih parah lagi dari Aldi.
Keduanya berhasil dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tania yang sudah mendapat kabar pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Pikirannya yang kacau, membuatnya belum sempat mengabari mertuanya. Yang ada dipikirannya, dia ingin segera mengetahui keadaan suami dan sahabatnya.
Sesampainya di rumah sakit, Tania berlari sekuat tenaganya. Dengan air matanya yang mulai menetes. Dan sampailah Tania di ruangan Aldi dan Meri. Aldi masih belum sadarkan diri, sementara Meri yang sudah kritis, terdengar memanggil-manggil nama Tania dengan suara lirih. Tania yang mendengarnya pun langsung mendekati Meri. Tania menggenggam tangan Meri erat-erat, sambil tangan sebelahnya mengusap-usap kepala Meri.
"Iya Mer, ini aku. bertahanlah Mer, ingat Farel Mer," Tania berusaha menguatkan Meri.
"Iya Mer, aku sudah maafin kamu. Aku sayang sama kamu Mer, bertahanlah Mer,"
"A..aku titip Farel Tan, tolong jaga dia. Aku malu, aku tidak pantas jadi seorang ibu. Mungkin lebih baik seperti ini, dia tidak perlu tau, seperti apa ibunya. Karena dia juga pasti tidak mau punya ibu seperti aku,"
__ADS_1
"Cukup Mer, jangan berkata seperti itu lagi. Kamu ibu yang baik Mer, karena kamu sudah melahirkan Farel di dunia ini,"
"Tan...pe..peluk aku Tan, kamu sudah lama tidak memelukku. Aku kangen sama kamu,"
"Iya Mer, aku memelukmu. Aku juga kangen sama kamu Mer," ucap Tania sambil memeluk Meri.
"Tan, bisakah kamu cerita tentang masa lalu kita waktu masih di Jogja. Masa yang sangat indah..."
"Iya Mer, q mulai cerita ya..."
Tania pun mulai bercerita, tentang masa lalu mereka yang sangat indah dan sulit untuk dilupakan. Tania bercerita dengan penuh semangat, meski dengan air matanya yang terus berlinang. Sesekali Meri meresponnya dengan mengiyakan ucapan Tania, kadang-kadang juga dengan senyuman.
__ADS_1