DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 22


__ADS_3

Sesampainya di kantor Aldi langsung menelpon Meri, dia menanyakan soal keberangkatan Meri yang tadi tidak sempat dia tanyakan.


"Besok aku sudah harus berangkat mas,waktunya mepet. Soalnya tawaran pemotretan ini sudah dari Minggu lalu dan aku baru terima job itu kemaren. Mas sendiri kapan berangkatnya?"


"Mungkin aku lusa berangkatnya, tunggu aku di sana ya, "


"Ok sayang, udah dulu ya aku mau mandi dulu nih, bye mas..."


"Bye sayang..."


Dan hari ini hari keberangkatan Aldi ke Bali, pagi-pagi sekali Tania sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.


"Sayang, kamu ikut anterin aku ke bandara kan?" tanya Aldi saat menikmati sarapan paginya.

__ADS_1


"Iya dong mas, karena kayaknya baru pertama kali ini mas Al bepergian jauh tanpa aku ikut serta. Hati-hati ya mas di sana, jaga mata dan hatimu apalagi di sana banyak cewek-cewek cantik dan seksi,"


"Sayang gak percaya ya sama aku, kok ngomongnya gitu."


"Bukan gak percaya, sekedar mengingatkan. Namanya godaan itu bisa datang kapan pun dan dimana pun. Dan juga bukan saat mas Al jauh dari ku aja, saat di di dekatku pun bisa aja ada yang menggoda mas Al. Tapi aku percaya kok sama mas Al, kalau suami aku yang ganteng ini gak akan tergoda sama cewek manapun." ucap Tania sembari memeluk Aldi.


"Makasih ya sayang, udah mempercayaiku sepenuhnya." sahut Aldi tanpa menunjukan rasa bersalah sedikitpun, karena dia sudah mulai terbiasa dengan kelakuannya yang berselingkuh dibelakang Tania.


Sampai di bandara Tania mengantar kepergian Aldi dengan air matanya yang tiba-tiba menetes tanpa dia sadari. Entah kenapa dia merasa begitu berat melepas Aldi. Didalam hatinya yang paling dalam dia merasa sangat kehilangan.


"Entahlah mas, aku merasa sangat kehilangan. Aku takut aku benar-benar kehilanganmu. Mas Al beneran hati-hati ya di sana, jaga diri mas Al baik-baik. Sering-sering kasih kabar ya mas."


"Iya sayang, ya udah aku berangkat dulu ya." Aldi memeluk erat Tania. Lalu bergegas meninggalkannya.

__ADS_1


Dengan diantar oleh supirnya Tania langsung menuju ke butiknya. Disepanjang jalan Tania hanya terdiam sambil sesekali mengusap air matanya yang masih tetap saja mengalir membasahi pipinya. Supirnya mang Didik yang melihatnya mencoba menghiburnya.


"Sudah non, Ndak usah nangis terus. Den Al kan cuma sebentar. Beberapa hari juga udah pulang lagi,"


"Iya sih mang, tapi gak tau kenapa perasaanku kok gak enak ya,"


"Ya kita berdoa aja mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan den Al,"


"Iya makasih mang udah ngingetin Tania."


"Sama-sama non."


Tania seorang istri yang baik, dia selalu berusaha berbaik sangka kepada suaminya. Namun entah kenapa kali ini dia merasa sangat gelisah, pikirannya tidak tenang. Mungkin karena dia mulai merasa perubahan pada suaminya yang akhir-akhir ini sering pulang malam.

__ADS_1


Sesampainya di butik dia langsung menelpon papanya. Karena dengan mendengar suara papanya dia bisa merasa lebih tenang dan bahagia. Namun dia tidak pernah sekalipun menceritakan keburukan atau masalah dalam rumah tangganya karena dia tidak mau papanya sedih dan kepikiran. Dia hanya menceritakan kebahagiaannya saja, supaya papanya tenang dan juga selalu bahagia di Jogja.


__ADS_2