DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 37


__ADS_3

Tania mengetuk pintu kamar mandi Meri, sambil terus berseru kepada Meri.


"Meri! kamu gak pa-pa kan Mer?"


"Gak pa-pa Tan, cuma mual!"


Mendengar jawaban Meri, Tania merasa lebih tenang. Dia kemudian duduk di kursi. Tidak sengaja pandangan matanya tertuju pada sebuah dasi yang disampirkan di kursi tempat dia duduk.


Dia mengambil dasi itu, lalu memperhatikannya. Karena dasi itu mirip sekali dengan dasi Aldi. Tidak lama kemudian Meri keluar dari kamar mandi. Melihat Tania sedang memegang dasi Aldi, Meri sangat terkejut dan hatinya berdebar.


"Itu dasi teman saya, kebawa waktu syuting,"


"O... mirip banget sama dasi nya mas Al," Tania meletakkan kembali dasi itu, dengan perasaan sedikit curiga.


"Jadi gimana kemarin di Jogja, semua sehat kan di sana?" Meri mulai membahas yang lain, agar Tania lupa dengan dasi itu.


"Alhamdulillah semua sehat. Tapi mama kamu tu kasihan, katanya dia sedih karena kamu jarang sekali pulang ke Jogja. Jadi kalau bisa kamu sering-sering pulang, mumpung mereka masih ada. Kalau udah gak ada kayak papaku tar kamu nyesel," Tania coba mengingatkan Meri.

__ADS_1


"Iya deh, tar aku bakalan sering pulang,"


"Jadi beneran nih, kamu gak pa-pa? Mau aku antar ke rumah sakit, mumpung aku masih disini," ajak Tania.


"Gak usah lah, tar juga sembuh sendiri,"


"Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu ya. Telpon aku kalau ada apa-apa."


"Iya pasti itu."


Sesampainya Aldi di sana, Meri langsung menunjukkan hasil tes kehamilannya. Dan Aldi sangat terkejut melihatnya. Saat ini dia berada dalam dua situasi. Antara senang dan bingung.


Dia senang, karena selama ini dia memang mendambakan seorang anak.


Namun dia bingung, apa yang harus dia lakukan.


"Apa kamu yakin, kalau kamu benar-benar hamil Mer? ya mungkin saja hasil tes ini salah. Apa sebaiknya kamu periksakan dulu ke dokter,"

__ADS_1


"Sebenarnya Meri juga tadi siang mau ke klinik dekat sini. Tapi keburu ada Tania. Bagaimana mas kalau seandainya aku benar-benar hamil. Mas Al akan bertanggung jawab kan? mas Al akan menikahi aku kan?" ucap Meri yang terlihat panik. Sambil kedua tangannya menggoncang-goncang tubuh Aldi.


Aldi hanya terdiam, dia benar-benar bingung harus bagaimana. Dia tidak menyangka kalau Meri akan hamil, sedangkan pernikahannya dengan Tania belum juga mendapatkan keturunan.


Sebenarnya dokter pernah berkata, kalau dia dan Tania kemungkinan besar masih bisa memiliki keturunan. Meskipun ada sedikit masalah dengan ovum Tania. Namun karena hari bahagia itu tidak juga menghampiri mereka. Aldi tidak lagi berharap terlalu besar pada Tania.


Dan kini, justru Meri yang memberikan kebahagiaan itu. Jalan satu-satunya ialah dia harus menikahi Meri. Meskipun Aldi bisa menikahi Meri kapanpun dia mau. Namun tetap saja, dia harus memberi tau dulu istri sahnya, Tania.


"Kok diam aja sih mas, jawab dong mas!" ucap Meri yang mulai emosi dengan sikap Aldi yang hanya terdiam.


"Iya Mer, aku pasti akan menikahi mu. Tapi tidak sekarang, kamu tau sendiri kan Tania baru saja kehilangan Ayahnya, jadi tidak mungkin aku mengatakan ini semua padanya,"


"Mas Al tidak perlu memberi tau Tania, kita kan bisa menikah secara diam-diam,"


"Tidak Mer, aku tidak bisa melakukan itu. Aku tetap harus memberi tau Tania kalau aku akan menikahi mu. Kamu tau kan, kalau aku sangat mencintai Tania dan juga kamu. Sekarang lebih baik kamu pastikan dulu apakah kamu benar-benar hamil atau tidak. Kamu tidak usah khawatir, aku pasti akan bertanggung jawab."


Meri terdiam dan hanya mengangguk. Sebenarnya dia sendiri juga belum siap kalau Tania mengetahui hubungannya dengan Aldi.

__ADS_1


__ADS_2