
Selesai mandi, Aldi mengeringkan rambutnya dengan hanya Memakai handuknya, kemudian mengambil pakaian di lemari lalu memakainya. Tania yang sedari tadi hanya memperhatikan Aldi, perlahan beranjak dari tempat tidur.
"Duduklah mas disini, biar aku sisirin rambut kamu," ucap Tania seraya mengambil sisir rambut dan menyuruh Aldi duduk di kursi rias.
"Sayang...memang kamu udah baikan, udahlah, sayang istirahat aja,"
"Gak pa-pa mas, aku cuma pengen merapikan rambut mas Al," jawab Tania, Aldi pun tidak bisa menolaknya, karena sebenarnya dia juga merindukan saat-saat seperti ini. Kebiasaan yang dulu sering Tania lakukan.
Tania pun mulai menyisir rambut Aldi dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kamu sibuk banget ya mas? rambut kamu udah panjang nih, cobalah luangkan waktumu untuk memotong rambut, supaya kamu terlihat lebih rapi,"
"Mana mungkin aku kepikiran memotong rambut sayang, karena selama ini kamu yang selalu mengingatkan aku,"
Aldi memang sosok suami yang manja, apapun itu, dia selalu minta perhatian Tania. Meskipun itu hal yang sepele, tapi dia ingin selalu diperhatikan dan diingatkan.
__ADS_1
"Tapi sekarang kan ada Meri, kalau aku lupa, mas Al bisa minta diingatkan sama Meri," goda Tania.
"Mana mungkin dia bisa mengingatkan aku sayang, dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sayang, Kamu juga sekarang terlihat kurus, maafkan aku sayang, itu semua pasti karena kamu banyak pikiran,"
Tania hanya tersenyum, kemudian memeluk Aldi dari belakang.
"Aku bukan banyak pikiran sayang, tapi aku sengaja diet, biar tubuhku terlihat seksi kayak Meri," goda Tania.
Aldi yang mendengar ucapan Tania pun menjawab dengan candaan.
"Mas Al gak usah khawatir, kan ada bi Surti," ejek Tania.
Aldi tidak menjawab, dia langsung berdiri menghampiri Tania. Tanpa Tania duga Aldi langsung menggendongnya, lalu merebahkannya di atas ranjang. kedua tangan Aldi memegang kedua tangan Tania, lalu berkata pada Tania.
"Kalau masih terus ngeledekin, aku lanjutin nih,"
__ADS_1
"Ih..mas Al apaan sih, iya-iya Tania gak ledekin lagi,"
"Sayangnya kamu lagi sakit, kalau enggak udah dua kali nih," goda Aldi sambil melepaskan tangan Tania.
Tania hanya tertawa melihat tingkah Aldi yang selalu menggodanya. Kemudian Aldi berbaring disebelah Tania, sambil memeluk Tania. Pelukan hangat di atas ranjang, benar-benar membuat Tania merasa nyaman.
"Makan ya sayang, aku ambilin. Kamu belum makan kan?" tanya Aldi.
"Nanti aja lah mas, aku masih pengen kayak gini dulu,"
"Iya sayang... tapi nanti beneran makan ya, terus diminum obatnya biar cepat sembuh,"
Tania hanya mengangguk. Sepertinya dia memang sangat merindukan Aldi. Dia merasa begitu nyaman, hangat dan bahagia berada di pelukan suaminya.
Sementara di apartemen, Meri yang kesal karena Aldi telah mengabaikan telponnya, membuatnya uring-uringan. Dia mencoba satu kali lagi menelpon Aldi, namun tetap tidak diangkat. Membuatnya benar-benar marah.
__ADS_1
Dan dia menyalahkan Tania atas semua ini, rasa iri nya pada Tania membuatnya semakin membenci Tania. Tidak ada lagi rasa sayangnya pada Tania, semua sudah hilang ditelan api cemburu dan kebencian. Dia tidak lagi teringat masa-masa indah dengan sahabatnya, dia sudah melupakan itu semua. Yang ada dipikirannya sekarang, bagaimana caranya agar bisa mendapatkan cinta Aldi seutuhnya tanpa ada Tania lagi di hati Aldi.