DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 59


__ADS_3

Dua Minggu berlalu, Meri telah menempati rumah barunya yang terletak tidak jauh dari rumah Tania, kurang lebih berjarak dua kilo meter dari rumah Tania.


Dokter memperkirakan Meri akan melahirkan dua hari lagi. Dia dan Aldi pun sibuk mempersiapkan semuanya. Kedua orang tua Meri pun sudah datang, mereka tentu tidak akan membiarkan Meri melahirkan tanpa kehadiran mereka.


Dan hari yang dinanti pun telah tiba, tepat pukul empat sore, Meri melahirkan seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki dalam keadaan selamat. Kebahagiaan jelas terlihat di wajah Aldi. Setelah sekian lama dia mendambakan seorang anak, dan kini dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang begitu mungil dan tampan.


Aldi menggendong bayinya, tidak terasa air matanya pun menetes. Tania yang juga berada disitu pun ikut menangis haru dan bahagia. Meski Meri telah membencinya, namun dia tidak pernah sedikitpun membenci Meri. Dia sengaja ikut menjaga di rumah sakit saat Meri akan melahirkan, karena dia tetap menyayangi Meri dan khawatir dengan keadaan Meri meski Meri tidak lagi menganggapnya sebagai sahabat.


Dan Tania pun tidak perduli dengan sikap ibu Meri yang menatap sinis padanya. Entah, apa salah Tania sehingga Meri dan ibunya sangat membenci Tania. Padahal mereka dulu begitu menyayangi Tania.


Tania menghampiri Meri, dengan tatapan penuh haru dia mengucapkan selamat pada Meri.

__ADS_1


"Selamat ya Mer, aku ikut bahagia kamu dan bayimu sehat dan selamat. Bayimu sangat mungil dan juga tampan seperti mas Al. Aku do'akan semoga kalian bahagia karena telah mendapatkan buah hati seperti yang kalian harapkan," ucap Tania dengan wajah tersenyum penuh bahagia.


"Iya, terimakasih Tan," jawab Meri yang hanya ala kadarnya. Dan terlihat juga ibu Meri yang mencibirkan bibirnya, tanda tak senang pada Tania. Dan Tania tau diri, kalau kehadirannya tidak diinginkan disini. Dia pun berpamitan pulang.


Aldi berniat mengantarkannya pulang, namun Tania menolak. Tania hanya ingin menjaga perasaan keluarga Meri. Dia tidak mau membuat keributan, karena dia tau Meri tidak akan mengizinkan Aldi mengantarkannya. Tania pun memilih naik taksi, karena mang Didik juga sudah pulang duluan sejak tadi siang.


Sesampainya di rumah, Tania terlihat muram. Dia duduk di ruang tengah. Bi Surti yang melihat Tania terlihat muram langsung menghampirinya.


"Sudah bi, ibu dan bayinya pun selamat,"


"Terus apa yang membuat non Tania sedih?"

__ADS_1


"Kapan ya bi, Tania bisa punya anak. Tadi Tania lihat mas Al sangat bahagia, Tania juga pengen membahagiakan mas Al seperti Meri," ucap Tania dengan air matanya yang terus menetes.


Bi surti memeluk Tania, dia tidak tega melihat Tania bersedih. Dia pun ikut meneteskan air mata. Bi surti mengerti bagaimana perasaan non Tania saat ini. Dibalik kebahagiaan Tania, jelas tersimpan kesedihan yang mendalam.


"Sudah non, jangan bersedih. Non Tania jangan putus harapan, teruslah berdo'a non, bibi yakin suatu saat nanti non Tania pasti bisa punya anak juga," bi surti berusaha menenangkan Tania.


"Tapi Tania takut bi, Tania takut mas Al meninggalkan Tania, karena mas Al telah mendapatkan apa yang selama ini dia rindukan. Mas Al sudah bahagia bersama Meri bi, mas Al pasti akan melupakan Tania bi..." Tania menangis tersedu-sedu.


"Bibi yakin den Al tidak akan melakukan itu non, karena bibi juga tau kalau den Al sangat menyayangi non Tania," ucap bi Surti sambil membelai rambut Tania.


Dan lama-lama Tania pun terlihat lebih tenang. Dia juga merasakan kalau selama ini Aldi masih sangat menyayanginya. Meski sudah ada Meri yang akan memberikannya seorang anak.

__ADS_1


__ADS_2