DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 32


__ADS_3

Aldi buru-buru masuk ke ruangan Tania, sementara Tania masih belum sadarkan diri. Aldi duduk di kursi sambil tangannya terus membelai-belai rambut Tania dengan lembut. Dipandanginya wajah istrinya itu dengan penuh perasaan, sambil sesekali mencium jari jemari tangan istrinya.


Tania yang malang, dari kecil hidupnya penuh dengan cobaan. Kini dia benar-benar sebatang kara, tanpa adanya seorang ayah dan ibu lagi di sisinya.


Tiba-tiba handphone Aldi berbunyi lagi. Rupanya papanya yang menelpon.


"Ada apa pa?" tanya Aldi.


"Bagaimana keadaan Tania, apa dia sudah siuman?"


"Belum pa,"


"Kamu jaga baik-baik istri kamu, dan kalian tidak perlu khawatir soal jenazah pak George ,biar kami yang mengurus disini."


"Iya pa, makasih ya pa." ucap Aldi yang kemudian menutup telponnya.


Tania mulai membuka matanya perlahan, sepertinya dia mulai siuman. Namun seketika dia langsung menangis.


"Papa mas... papa tinggalin Tania. Papa udah gak sayang sama Tania," Tania menangis terisak-isak.

__ADS_1


"papa bilang sama Tania kalau dia akan baik-baik saja di sana. Tapi kenapa ini bisa terjadi mas... kenapa?" Tangis Tania semakin histeris. Aldi memeluk Tania dengan erat. Dan berusaha menenangkan Tania.


"Tenanglah sayang, sudah jangan menangis,"


"Tania benar-benar sebatang kara mas, Tania udah gak punya siapa-siapa lagi."


"Kamu tidak sendirian sayang, masih ada aku, ada mama dan papa. Sudahlah sayang, jangan menangis lagi."


Aldi belum melepaskan pelukannya, dia masih tetap memeluk Tania sampai Tania benar-benar merasa tenang. Sambil terus membelai rambut Tania dan sesekali mencium keningnya.


Setelah beberapa menit barulah Tania merasa lebih tenang. Aldi mengusap air mata Tania.


"Iya mas, Tania akan berusaha mengikhlaskan papa. Tapi Tania tidak menyangka kalau papa akan pergi secepat ini," sahut Tania lirih dengan air matanya yang kembali berlinang.


"Itu tandanya kamu belum percaya dengan takdir Allah, segala sesuatu itu akan terjadi ketika Allah sudah berkehendak, kapanpun dan di manapun itu. Dan kita sebagai manusia harus selalu siap sewaktu-waktu itu menimpa diri kita. Kamu mengerti kan sayang?"


"Iya mas, Tania mengerti."


Perkataan Aldi telah membuat Tania tenang dan berhenti menangis, sepertinya dia sudah mulai bisa menerima kenyataan atas kepergian papanya.

__ADS_1


Tania mengajak Aldi pulang ke rumah, karena sepertinya dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Jogja.


"Apa sebaiknya kita tunggu sebentar lagi sayang sampai kamu benar-benar merasa tenang dan baikan," ucap Aldi yang masih khawatir dengan keadaan Tania.


"Tania udah gak pa-pa mas, justru Tania malah gak tenang kalau lama-lama disini. Tania juga ingin tau bagaimana keadaan jenazah papa. Karena papa hanya sendiri, dia tidak punya kerabat di sana."


"Soal jenazah papa kamu tidak usah khawatir, kan ada papa dan mama di sana. Kita kan satu keluarga, mereka pasti akan mengurus jenazah papa George dengan baik. Papa juga udah bilang tadi, kalau kita tidak usah memikirkan soal itu, biar mereka yang akan mengurusnya."


"Syukurlah kalau begitu." jawab Tania lega.


Aldi keluar, lalu menyuruh Nurul menjaga Tania. Sementara dia menemui dokter untuk menanyakan apakah Tania benar-benar sudah boleh pulang.


Dokter pun kembali memeriksa kondisi Tania untuk memastikan apakah Tania sudah bisa pulang atau belum.


Dari hasil pemeriksaan, dokter mengatakan kalau kondisi Tania sudah membaik dan sudah diperbolehkan pulang. Dokter menyarankan agar Tania tidak beraktivitas dulu untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang masih sedikit lemas.


Sesampainya di rumah, Aldi membawa Tania masuk ke dalam kamar. Dan membaringkannya di kasur.


"Kamu istirahat dulu ya sayang, jangan banyak pikiran, semua akan baik-baik saja. Besok pagi kita berangkat ke Jogja. Sambil menunggu keadaanmu benar-benar membaik. Sekarang juga sudah terlalu sore kalau kita tetap memaksakan ke sana."

__ADS_1


"Iya mas, kalau itu yang terbaik Tania ikut saja apa kata mas Al." sahut Tania.


__ADS_2