
Keesokan paginya, Aldi dan Tania bangun dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. Bagaimana tidak, mereka seperti mengulang lagi masa lalu mereka saat baru menikah. Mereka merasa tidak ada beban dan masalah dalam hidup mereka. Mereka merasa seperti pengantin baru yang hanya merasakan kebahagiaan dan malam panjang yang indah. Senyum ceria pun terpancar dari wajah mereka.
"Sayang, kamu jadi kan bikin nasi goreng," tanya Aldi yang sudah siap di meja makan untuk menyantap sarapan nasi goreng favoritnya yang sudah dia pesan semalam.
"Iya mas, nih dah jadi," jawab Tania sambil memberikan sepiring nasi goreng pada Aldi.
"Terimakasih sayang... tapi aku maunya disuapin," pinta Aldi manja pada Tania.
Tania pun hanya tersenyum dan menuruti permintaan suaminya itu. Karena dulu Aldi memang sangat manja waktu di Jogja. Hampir setiap makan berdua sama Tania, dia selalu minta Tania menyuapinya. Dan semenjak tinggal di Jakarta mereka sudah melupakan kebiasaan itu, karena mereka sudah disibukkan dengan urusan rumah tangga mereka.
"Sayang, nanti malam aku tidur sini lagi ya. Mumpung gak ada bi Surti, biar bisa bebas bermesraan sama kamu," ucap Aldi saat dia akan bergegas ke kantor.
__ADS_1
"Ya gak bisa to mas, kasihan Farel,"
"Tapi aku masih kangen sama kamu," ucap Aldi manja.
"Iya mas, Tania juga masih kangen sama mas Al. Tapi kita tidak boleh egois mas, sekarang bukan lagi tentang aku dan mas Al aja. Tapi ada Meri, ada Farel yang juga menunggu mas Al di rumah,"
Aldi memeluk Tania, dia merasa sangat terharu dengan ucapan Tania. Yang begitu tulus dan lembut. Berbeda dengan Meri yang harus butuh waktu lama untuk dapat izin menginap di rumah Tania.
"Kalau kata bi Surti sendiri, lusa dia kesini lagi,"
"Iya, bi Surti juga gak akan tahan berpisah lama-lama dengan mang Didik," gurauan Aldi membuat mereka sama-sama tertawa.
__ADS_1
Sementara di rumah Meri, Meri yang sudah siap berangkat kerja, terlihat sangat buru-buru. Dia sedikit terlambat karena dia bangun kesiangan. Karena semalam dia pulang larut malam, untung saja Aldi tidak dirumah, kalau Aldi di rumah pasti dia sudah dimarahi habis-habisan. Karena dia bukan bekerja, melainkan menghadiri pesta ulang tahun salah satu temannya.
Meri yang biasa berkumpul dengan teman-teman sosialitanya, tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan berkumpul dengan teman-temannya, apalagi dalam sebuah pesta, suasana yang memang disukainya dan juga teman-temannya.
"Sayang, mama berangkat kerja dulu ya," ucap Meri pada Farel sambil mencium pipi Farel dan langsung pergi meninggalkan Farel. Bahkan dari kemaren pagi dia sama sekali belum menggendong Farel. Yang membuat baby suster geleng-geleng kepala.
Berbeda jauh dengan Tania, yang justru rela berhenti kerja supaya bisa menjaga Farel dan merawat Farel. Padahal dia bukan ibu kandungnya. Tapi kasih sayangnya pada Farel melebihi kasih sayang Meri yang justru ibu kandungnya.
"Dasar orang tua macam apa itu, tidak bisa merawat anak sendiri. Malah mementingkan pekerjaan ketimbang anaknya. Kalau aku jadi den Al dah tak ceraikan itu non Meri. Udah tiap hari marah-marah, gak bisa merawat anak, cuma menang di tubuh aja. Emang sih cantik, putih, mulus. Tapi hatinya, jauh kalau dibandingkan non Tania," gerutu Siti, baby suster Farel yang tidak suka dengan sikap majikannya itu.
TEMAN-TEMAN, JANGAN LUPA BACA NOVEL BARU AKU JUGA YA...JUDULNYA, BENCI TAPI SAYANG...
__ADS_1