DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 20


__ADS_3

Usai makan malam Aldi dan Tania bersantai di ruang TV. Tania berbaring di sofa sambil menidurkan kepalanya di pangkuan Aldi.


"Mas, aku boleh gak buka butik?" Tania menyampaikan keinginannya yang sempat tertunda beberapa waktu lalu.


"Soalnya aku bosen di rumah terus, itu juga sebenarnya ide mama,"


"Kamu beneran yakin mau buka butik, ntar kamu kecapekan lho sayang."


"Mas Al jangan khawatir soal itu, kan aku bisa mempekerjakan seorang pegawai untuk membantuku. Jadi aku gak akan terlalu capek."


"Ya udah, kalau itu bisa bikin kamu seneng kenapa enggak. Tar aku siapin semuanya, kamu tinggal terima beres."


Bagi seorang pengusaha seperti Aldi, bukanlah hal yang sulit membuka sebuah butik. Jadi dengan mudah dia bisa mewujudkan keinginan istrinya.


"Makasih ya mas." ucap Tania sambil memeluk Aldi.


"Sama-sama sayang."


Sedang asyik ngobrol tiba-tiba bel rumah berbunyi, Tania membuka pintu dan yang datang ternyata Meri. Tania pun langsung memeluk sahabatnya itu dan mengajaknya masuk ke dalam. Aldi sangat terkejut dengan kedatangan Meri, dia takut Meri akan melakukan sesuatu yang akan membuat hubungan mereka diketahui oleh Tania.

__ADS_1


"Hai mas, kira-kira aku ganggu gak sih,"


"Ya enggak dong Mer, sahut Tania


"O iya, ni aku bawain makanan."


"Kok repot-repot sih Mer. Makasih lho, tapi pas banget nih bisa kita makan bareng-bareng sambil ngobrol. Bentar ya aku ambil minumnya dulu di dapur."


Dan benar saja, dirumah Aldi pun Meri tetap bersikap agresif. Dia menggeser duduknya mendekati Aldi, membuat Aldi merasa tidak nyaman. Dia takut ketahuan Tania.


"Mer, bisa gak duduknya jangan dekat-dekat. Gak enak kalau sampai dilihat Tania,"


"Lagipula ngapain kamu kesini, kan aku udah bilang, biar aku aja yang ketempat kamu."


"Ih...mas Al lupa ya, aku kan sahabatnya Tania mas, jadi wajar kalau aku main ke sini. Tenang aja, Tania tidak akan curiga. Lagian aku juga kangen banget sama mas Al." ucap Meri sambil mencubit pipi Aldi.


Bi Surti sedang berbaring di kamarnya yang berada di dekat ruang TV. Tiba-tiba dia merasa haus, lalu dia keluar menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Tidak sengaja dia menoleh ke arah Aldi dan Meri, dia melihat saat Meri mencubit pipi Aldi dengan gemas. Bi Surti terlihat sangat kaget. Tapi untungnya kehadirannya tidak diketahui Aldi dan Meri.


Sesampainya di dapur, dilihatnya Tania sedang menyiapkan minuman.

__ADS_1


"Biar bibi aja non yang bikinin minuman."


Gak usah bi, ni juga udah selesai kok." timbal Tania sambil membawa minumannya keluar.


Meri yang sudah mengetahui kedatangan Tania buru-buru menggeser lagi posisi duduknya menjauhi Aldi dan bersikap seperti tidak ada hubungan apa-apa antara mereka. Tania meletakkan minuman di atas meja kemudian duduk di dekat Aldi, lalu mereka mulai ngobrol seru sampai larut.


Keesokan paginya setelah Aldi berangkat ke kantor, bi Surti buru-buru menemui Tania. Dia mendekati Tania yang sedang bersantai di kursi sambil membaca sebuah majalah. Dia berniat


menanyakan soal Meri.


"Maaf non, bibi mau tanya. Non Meri itu beneran sahabatnya non Tania ya?"


"Iya bi, dia sahabat Tania dari SMA dulu,"


"Kalau boleh tau dia itu orangnya gimana non?"


"Buat Tania dia itu sahabat terbaik yang Tania punya bi, emang kenapa sih bi tanya-tanya?"


"Gak apa-apa non, cuma tanya aja.

__ADS_1


Sebenarnya bi Surti ingin mengatakan apa yang dia lihat semalam. Tapi dia tidak berani, dia takut Tania tidak mempercayainya dan malah akan menyalahkannya, karena sepertinya Tania sangat menyayangi sahabatnya itu.


__ADS_2