
Sementara itu, Aldi yang tengah mencari Tania terlihat sangat cemas. Dia pergi ke butik, namun di butik Tania tidak ada. Aldi menelpon bi Surti, kata bi Surti Tania juga belum pulang. Aldi menjadi semakin panik. Lalu Aldi teringat mang Didik, mang Didik pasti tau keberadaan Tania, karena dia yang selalu mengantar kemanapun Tania pergi. Aldi pun buru-buru menghubungi mang Didik.
"Maaf den, ini mang Didik baru saja sampai rumah. Tadi pas keluar dari apartemen non Meri, non Tania menyuruh saya pulang duluan. Terus non Tania nya pergi naik taksi,"
"Kenapa kamu biarkan Tania pergi! kalau ada apa-apa dengan Tania bagaimana!"
gerutu Aldi pada mang Didik.
"Maaf den, saya ndak berani menolak permintaan non Tania," jawab mang Didik yang terdengar sedikit takut.
Aldi melanjutkan mencari Tania dengan mengendarai mobilnya. Pergi ke sana kemari tanpa menyerah. Dia benar-benar takut terjadi apa-apa dengan Tania.
__ADS_1
Matahari sudah mulai terbenam, para pengunjung satu persatu mulai meninggalkan kebun binatang. Sebenarnya Tania enggan sekali untuk pulang ke rumah. Namun bagaimana pun juga dia tetap harus pulang. Karena sebagai seorang istri banyak kewajiban yang harus dia lakukan di rumah, dan pergi tanpa izin suami, itu sudah merupakan suatu dosa seorang istri.
Tania memandang lagi suasana kebun binatang, dia menarik nafas panjang, lalu berdiri. Dengan langkahnya yang tertatih dia meninggalkan kebun binatang itu.
Sesampainya di rumah, bi Surti yang cemas langsung menyambut kedatangan Tania.
"Non Tania sudah pulang, non Tania baik-baik saja kan non?" tanya bi Surti cemas
"Iya non, bi Surti sudah tau apa yang terjadi dengan den Al dan non Meri. Sebenarnya bibi sudah lama curiga dengan hubungan mereka non, tapi bibi tidak berani mengatakan pada non Tania, takut kalau-kalau bibi salah bicara,"
"Iya gak pa-pa bi, ini salah Tania, Tania terlalu menyayangi mereka, sehingga tidak ada sedikitpun rasa curiga atau pun pikiran yang mengarah ke sana, sama sekali Tania tidak pernah menyangka bi, kalau ternyata Mereka saling mencintai... rasanya sakit bi.. sakit sekali..." tangis Tania semakin menjadi.
__ADS_1
"Iya non, bibi mengerti bagaimana perasaan non sekarang. Yang sabar ya non, bibi tidak bisa membantu apa-apa, bibi hanya bisa berdo'a, semoga non diberikan ketabahan, kesabaran dan kekuatan agar non bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah ini. Sebentar lagi adzan Maghrib, non mandi terus jangan lupa shalat, supaya pikiran non bisa lebih tenang,"
"Iya bi, kalau gitu Tania ke kamar dulu, makasih ya bi nasehatnya,"
"Iya non, sama-sama. dan memang cuma itu yang bisa bibi lakukan."
Tania kemudian melangkah menuju ke kamar.
Sementara Aldi masih terus mencari Tania, tiba-tiba dia teringat dengan kebun binatang tempat yang dulu sering Tania kunjungi saat masih kecil. Namun Aldi terlambat, karena sampai sana Tania sudah tidak ada. Handphone Aldi berbunyi, dan itu telpon dari rumah.
Bi surti memberi tau Aldi kalau Tania sudah pulang ke rumah dengan keadaan selamat. Aldi yang mendengar kabar itu langsung berlari menuju mobilnya. Dengan cepat dia menuju ke rumah karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu Tania.
__ADS_1