
"Ada yang bisa saya bantu non Meri?" tanya bi Surti yang sudah berada di dapur. Yang jelas membuat Aldi dan Meri kaget. Aldi pun langsung buru-buru keluar.
"Silahkan bi kalau mau bantuin Meri, sepertinya dia memang butuh bantuan. Iya kan Mer?" seru Aldi pada Meri.
"Oh iya bi, tolong kupasin telurnya ya bi." sahut Meri yang agak gugup.
"Baik non." jawab bi Surti.
Setelah selesai memasak, Meri membawa masakannya ke kamar Tania.
"Tara! telur balado nya udah matang. Dimakan ya Tan, pasti enak. Aku suapin ya,"
"Makasih ya Mer, udah repot-repot masakin segala," sahut Tania yang kemudian membuka mulutnya.
"Emm... enak banget masakan kamu Mer, udah biar aku makan sendiri aja," ucap Tania sambil mengambil nasi yang dipegang Meri.
__ADS_1
"Enak dong, kita kan dulu sering bikin kayak gitu di Jogja,"
Mereka pun langsung membahas masa-masa saat di Jogja. Masa-masa indah yang tidak mungkin akan terulang kembali. Dan tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
"Udah malam nih, aku pulang dulu ya. O iya, besok kalian samper aku di apartemenku ya. Biar kita bisa sekalian bareng ke bandara nya."
"Iya, nanti kita samperin kamu." timbal Aldi.
Keesokan paginya, Tania dan Aldi sudah siap dengan segala sesuatu nya. Saat akan berangkat tiba-tiba handphone Tania berbunyi. Tania langsung mengangkat teleponnya.
"Iya ada apa Mer?" tanya Tania, ternyata telpon itu dari Meri.
"Ya udah gak pa-pa, tapi jaga diri kamu baik-baik ya. Apa aku suruh anterin mang Didik aja ke dokter sesudah nganterin aku dan mas Al ke bandara,"
"Gak usah Tan, aku mau istirahat aja. Mungkin aku kecape'an baru pulang dari Surabaya."
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu, aku berangkat dulu ya. Bye Mer."
Perjalanan yang singkat, dengan menaiki pesawat tidak terasa mereka sudah tiba di Jogja. Di bandara mereka dijemput oleh supir pak Surya. Dan mereka langsung menuju ke pemakaman papanya Tania.
Sesampainya di pemakaman, Tania tidak bisa menahan tangisnya lagi. Air matanya kembali bercucuran.
"Maafin Tania pa, Tania belum bisa membahagiakan papa, Tania belum bisa memberikan seorang cucu sesuai yang diharapkan papa. Tania juga tidak bisa menjaga papa, dan malah meninggalkan papa sendiri di Jogja. Maafkan Tania pa, ini semua salah Tania." Tania menangis terisak-isak.
Aldi memeluk Tania dan berusaha menenangkannya.
"Sudahlah sayang, berhenti menyalahkan diri sendiri. Ini bukan salah kamu sayang. Ini semua sudah takdir. Ikhlaskan papa, supaya dia tenang di sana." Aldi tidak bosan-bosannya mengingatkan Tania, agar Tania benar-benar bisa mengikhlaskan kepergian papanya.
Setelah mengunjungi makam papa Tania, barulah mereka menuju ke rumah Pak Surya. Kedua orang tua Aldi menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita.
Dan lagi-lagi Tania menangis sambil memeluk mama mertuanya itu. Seolah dia ingin mengungkapkan semua beban dan penderitaannya. Namun dia hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata. Dan Bu Rima sangat memahami bagaimana perasaan Tania saat ini. Dia membelai-belai rambut Tania dan berusaha menenangkannya.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis nak, masih ada mama dan papa disini. Kami akan selalu menjagamu. Ikhlaskan papa ya sayang."
Bu Rima sangat menyayangi Tania. Dia sangat sedih melihat keadaan Tania saat ini.