
Terdengar suara adzan subuh berkumandang. Seperti biasa, Tania bangun lebih awal. Dia bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh. Dan lagi-lagi, usai shalat Tania berdo'a. Dia tak henti-hentinya memohon agar dia diberikan ketabahan, kesabaran serta kekuatan menghadapi ujian dalam rumah tangganya.
"Ya Allah, ampunilah dosa hamba dan ampunilah dosa suami hamba. Dosa zina yang sudah dia lakukan. Hamba tau, dia sudah melakukan dosa yang sangat besar. Namun Engkau maha pengampun dan maha penyayang, tuntunlah dia agar selalu di jalan mu. Dan kalau memang mas Al harus menikah lagi, hamba rela namun berilah hamba kekuatan agar hamba bisa menerimanya dengan ikhlas. Hamba sangat mencintai mas Al, hamba yakin semua niat baik kami, Engkau akan mempermudah dan Engkau juga akan membalasnya dengan kebaikan pula. Amiin ya rabbal 'alamiin."
Selesai berdo'a, Tania pandangi wajah suaminya yang sedang tertidur pulas. Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.
"Tetap mencintaimu meski kau telah menyakitiku memang kebodohan terbesarku mas, namun aku juga tidak mampu berpisah dengan mu. Aku terlalu mencintaimu, bagi ku kau cinta pertama dan terakhir ku, aku akan tetap bertahan. Aku yakin suatu saat nanti kebahagiaan seutuhnya akan ku raih, meski harus melewati jalan yang berliku." ucap Tania lirih, dengan air matanya yang berlinang.
Agak berbeda dari biasanya, kali ini mereka sarapan bersama namun tidak terdengar suara candaan dan kemesraan yang terlihat. Keduanya sama-sama terdiam, apalagi Aldi. Dia terlihat serba salah. Karena saat ini dia sedang terbebani oleh rasa malu, rasa bersalah, dan hilangnya wibawanya sebagai seorang suami yang bertanggung jawab, yang membuatnya terlihat nihil.
Namun Tania tidak menghilangkan kebiasaannya. Dari mulai menyiapkan pakaian Aldi, menyiapkan sarapan dan mencium tangan Aldi saat Aldi hendak berangkat ke kantor. Dan memang inilah sifat seorang Tania. Lembut, sabar dan penyayang.
Bi surti sedang menyapu halaman depan, sementara mang Didik sedang mengelap mobil yang biasa digunakan untuk mengantar Tania ke butik. Selepas Aldi pergi, mang Didik mendekati bi Surti.
"Ayang Surti, emang beneran ya den Al selingkuh sama non Meri,?
Bi Surti yang memang sudah tau dari awal pun langsung menjawab pertanyaan mang Didik.
"Iya betul. Tau tu den Al, padahal apa coba kurangnya non Tania. Wis ayu, baik, sabar, penyayang. Pokok e sempurna tenan. Isik wae den Al nglirek wadon liyo. Non Meri juga, sahabat tapi menusuk dari belakang. Kalau aku yang jadi non Tania, wis tak remet-remet koyok kerupuk non Meri kae,"
"Sabar ayang Surti, sabar. Ndak usah khawatir, aku Ra bakal koyok den Al, jadi ayang Surti mau kan terima cinta kang Didik?" rayu mang Didik pada bi Surti.
__ADS_1
ih! jangan harap ya, aku terima sampean. Ya masih mending den Al kemana-mana to. Walaupun mendua, tapi dia sabar, gak pernah kasar sama non Tania, ganteng, kaya lagi. La sampean, Udah muka pas-pasan, mata jelalatan, gajinya pun juga pas-pasan. Ora Sudi aku,"
Belum sempat mang Didik menjawab ocehan bi Surti, tiba-tiba Tania datang dengan pakaiannya yang sudah rapi dan siap berangkat ke butik.
"Ada apa sih ini pagi-pagi ribut-ribut?" tanya Tania.
"Biasalah non, ayang Surti kalau ngungkapin rasa sayang emang suka pake' marah-marah gitu. Non Tania do'ain aja ya, semoga saya dan ayang Surti bisa ke pelaminan,"
Belum sempat Tania menjawab, bi Surti buru-buru menyela.
"E..e..jangan non, jangan di do'ain. Lagian siapa juga yang sayang sama sampean, dasar wong gemblung!" gerutu bi Surti pada mang Didik.
Dan Tania pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah keduanya. Bi Surti yang melihat Tania tertawa pun ikut senang.
"Alhamdulillah non sudah bisa tertawa lagi, meski sedang mengalami banyak masalah. Bibi bangga sama non, non Tania memang perempuan yang kuat. Bibi senang melihatnya,"
"Iya bi, ini semua juga berkat do'a dan dukungan dari bi Surti. Makanya Tania bisa kuat seperti sekarang ini. Makasih ya bi,"
"Iya non sama-sama, bi Surti akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk non Tania,"
"Amiin...ya udah, Tania berangkat dulu ya bi. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'allaikumsallam. Hati-hati non."
Tania pun berangkat ke butik. Meski suasana hatinya masih dalam keadaan terluka, namun dia memilih tetap pergi ke butik, karena kalau hanya berdiam dirumah, itu justru akan membuatnya semakin stres.
Wis ayu: Dah cantik
Pokok e : Pokoknya
tenan: Banget
Isik wae: Masih aja
nglirik: Melirik
Wadon liyo: Perempuan lain
remet-remet: Remas-remas
Ora Sudi: Gak mau
Wong gemblung : Orang gila
__ADS_1