
Sesampainya di rumah Tania, Tania turun dari mobil dan Aldi juga mengantarnya sampai di depan pintu. Aldi memeluk Tania, dia tau apa yang dirasakan Tania saat ini. Sakit hati, sedih, kecewa. Atas sikap Meri padanya. Namun Tania hanya terdiam, tanpa membalas perlakuan Meri sedikitpun.
"Maafkan aku sayang, selalu membuatmu tersakiti oleh ulah Meri,"
"Aku tidak apa-apa mas, pulanglah, sudah malam, Kasihan Farel.
"Kamu beneran tidak apa-apa aku tinggal,"
"Gak pa-pa mas, aku juga sudah mulai terbiasa dengan sikap Meri. Dan aku tidak perduli itu. Yang penting kan aku tidak salah kan mas,"
"Iya, kamu benar sayang. Ya udah, aku pulang dulu ya sayang. Istirahatlah, kamu pasti sangat lelah,"
Aldi melepaskan pelukannya, dia mencium kening Tania dan langsung bergegas pulang.
Sementara Meri dirumahnya, sedang memeriksa keadaan farel. Dan dia sedih, karena ternyata farel memang beneran sakit, karena badannya masih terasa panas.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Aldi pulang. Meri yang merasa bersalah, tidak berani bicara sepatah katapun. Sementara Aldi yang masih sangat marah dengan kelakuan Meri, masih berlanjut memarahi Meri.
"Kamu lihat Farel, mau ngomong apa kamu sekarang. Masih bisa kamu menyalahkan Tania, hah. Harusnya kamu berterimakasih pada Tania, karena dia yang sudah menjaga Farel seharian. Aku benar-benar tidak tau, Apa yang sebenarnya ada di otak kamu, sampai kamu punya pikiran seburuk itu pada Tania," ucap Aldi yang langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Meri.
Dan Meri hanya bisa terdiam, tanpa menjawab sedikitpun ucapan Aldi.
Keesokan paginya, Meri tetaplah Meri. Meski dia tau kalau anaknya sakit, dia tetap saja pergi bekerja. Namun dia tidak memberi tau Aldi, dia sengaja menunggu Aldi berangkat lebih dulu, Barulah dia berangkat kerja.
Siangnya, Aldi menelpon Meri. Untuk menanyakan bagaimana keadaan farel, karena Aldi taunya Meri di rumah. Karena dia sudah melarangnya pergi bekerja. Tapi Meri tidak mengangkat telponnya, Aldi pun langsung menghubungi telpon rumah. Dan Siti langsung mengangkatnya.
"Siti, bagaimana keadaan farel?" tanya Aldi.
"Suruh Meri memberikan obatnya, karena ini waktunya farel minum obat. Kamu kasih telponnya ke Meri, biar aku yang bicara padanya,"
"Maaf pak, Bu Meri nya tidak ada. Kan Bu Meri nya kerja,"
__ADS_1
Ucapan Siti benar-benar membuat Aldi sangat marah pada Meri, dia tidak menyangka kalau Meri masih tetap pergi bekerja meski Meri tau kalau anaknya sedang sakit. Aldi langsung menutup telponnya. Dia langsung menelpon Meri, namun yang mengangkat justru asisten Meri.
"Ada apa mas Al? mbak Meri nya masih pemotretan,"
"Lokasi kalian dimana, aku mau mengantarkan barang Meri yang tadi ketinggalan," ucap Aldi membohongi asisten Meri.
Setelah mengetahui lokasi Meri, tanpa pikir panjang Aldi yang sedang marah, langsung menyusul Meri ke lokasi. Sesampainya di lokasi, Aldi melihat Meri sedang melakukan pemotretan, namun Aldi tidak memperdulikannya. Di tengah-tengah pemotretan, Aldi menghampiri Meri. Menarik tangan Meri, mengajaknya pulang.
Meri yang syok dengan sikap Aldi, sangat marah, dan berusaha melepaskan tangan Aldi yang memegang tangannya dengan kencang. Yang membuat Meri tidak bisa melepaskannya.
"Mas Al apa-apaan sih mas, mas Al sudah gila ya, malu mas. Aku masih pemotretan mas. Lepaskan aku mas!" teriak Meri, yang merasa sangat kesal dan malu.
"Apa-apaan ini mas, maksud anda apa ini merusak acara pemotretan kami? siapa dia ini mer? tanya sang fotografer.
"Maaf bang, dia suami saya," jawab Meri yang menahan rasa malu dengan ulah Aldi.
__ADS_1
"O... dia suamimu, bilangin suami kamu ini Mer. Jangan sembarangan merusak acara orang.
"cihh! bersetan dengan acara kalian!" ucap Aldi tanpa rasa hormat dan terus menarik Meri, memaksanya masuk ke dalam mobil.