DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 47


__ADS_3

Dua hari kemudian, acara pernikahan Meri dan Aldi pun digelar. Tidak ada pesta sama sekali, mereka hanya melangsungkan ijab Kabul di dalam sebuah masjid, dan hanya dihadiri oleh kedua orang tua masing-masing pengantin, dan beberapa kerabat. Tania sengaja tidak menghadirinya, karena dia tidak mau kehadirannya akan membuat suasana menjadi canggung.


Dan dalam acara tersebut, bertemulah dua keluarga pengantin yang tadinya saling menghormati dan memiliki hubungan yang baik. Namun kini suasananya telah berubah drastis. Mereka jadi saling membenci dan saling menyalahkan atas apa yang terjadi pada anak-anak mereka.


Terutama Bu Rima dan Bu Lina, ibu-ibu memang lebih susah menahan emosi meski ditempat umum sekalipun.


"Heh, jeng Lina! Sampean Ki bisa mendidik anak gak sih. Lihat tu anak kamu Meri, bisa-bisanya dia jadi pelakor dalam rumah tangga anak saya. Kalau tidak bisa mendidik anak, ngapain punya anak segala. Gak tau malu!" ucap Bu Rima saat bertemu Bu Lina.


"E..e..enak saja nyalah-nyalahin saya dan anak saya. Kamu sendiri juga gak bisa mendidik anak, anak kamu tu yang ganjen, dah punya istri masih juga ngejar-ngejar anak saya. Dasar, keluarga aneh!" jawab Bu Lina.

__ADS_1


Mereka yang sudah tersulut emosi pun semakin menjadi. Keduanya sama-sama saling menyalahkan satu sama lain.


"Sudah jelas-jelas anak jeng Lina yang ngejar-ngejar anak saya, pakek nyalah-nyalahin. Dasar gak tau malu,"


"Heh, jeng Rima. Anak saya itu model, cantik dan terkenal lagi. Dia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Aldi, dengan mudah. Jadi mana mungkin anak saya ngejar-ngejar anak sampean. Sembarangan kalau ngomong," jawab Bu Lina.


Pertengkaran mereka pun tidak bisa dihindari, karena merasa tidak puas hanya dengan ucapan, Bu Rima dan Bu Lina pun ingin melanjutkan pertengkaran mereka dengan mulai saling memukul. Namun belum sempat keduanya saling pukul, pak Surya dan pak Herman yang merasa malu dengan ulah mereka pun langsung melerai mereka.


Tepat jam sepuluh pagi acara dimulai. Meri yang memang sudah lama menunggu saat-saat seperti ini terlihat sangat bahagia. Akhirnya keinginannya untuk mendapatkan cinta Aldi pun bisa terwujud, meski harus mengorbankan persahabatannya.

__ADS_1


Selesai acara, kedua pengantin bersalaman kepada orang tua mereka, untuk mendapatkan do'a dan restu agar rumah tangga mereka bisa langgeng dan bahagia.


Namun saat tiba kedua pengantin bersalaman dengan mertua mereka, Aldi mendapat peringatan dari Bu Rima,


"Aldi, saya minta sama kamu jangan pernah kamu sakiti Meri. Dan saya juga minta kamu harus lebih menyayangi Meri, karena dia yang akan memberikanmu seorang anak," ucap Bu Lina tegas.


Selanjutnya giliran Meri yang meminta restu pada Bu Rima. Dan jelas saja Bu Rima terlihat sinis menatap wajah Meri. Karena dia memang tidak pernah setuju dengan pernikahan ini. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, Karena Meri sudah terlanjur berbadan dua. Jadi bisa tidak bisa Aldi harus tetap menikahinya.


"Kamu memang sudah sah jadi istri Aldi, tapi tidak bagi saya. Karena bagi saya menantu saya hanya Tania, kamu hanya pelakor yang merusak pernikahan anak saya. Jadi jangan pernah berharap kalau saya akan menganggap kamu sebagai menantu saya. Karena sampai kapanpun saya tidak akan Sudi menerimamu menjadi menantu saya," ucap Bu Rima dengan nada sinis.

__ADS_1


Dan Meri hanya bisa menangis mendengarnya. Tapi bukan malah merasa bersalah, justru ucapan Bu Rima membuat dia kesal sehingga timbul rasa iri pada Tania. Mungkinkah rasa iri itu hanya sesaat, atau malah akan menjadi satu masalah dalam rumah tangganya. Semua tergantung Meri, bagaimana dia menyikapi semuanya.


__ADS_2