
Sementara di rumah sakit, suasana kebahagiaan masih terpancar di wajah keluarga kecil itu. Suara tangisan bayi yang terdengar penuh haru. Suasana yang penuh dengan suka cita. Serta kebahagiaan yang tak ternilai harganya, menyelimuti orang-orang di sana.
Aldi menghampiri Meri, membelai rambut Meri, menggenggam tangan Meri sambil sesekali menciumnya. Aldi menatap Meri dengan perasaan penuh haru.
"Terimakasih sayang, kamu sudah menjaga anak kita dengan baik. Sehingga dia bisa terlahir dalam keadaan sehat dan selamat. Terimakasih juga atas perjuanganmu membawa dia hadir ditengah-tengah kita. Kamu tau sayang, aku sangat bahagia saat ini, sekali lagi terimakasih untuk semuanya,"
"Iya mas, sama-sama. Aku juga terimakasih mas, karena mas Al juga telah menjagaku selama aku hamil. Menuruti semua keinginanku yang terkadang diluar kemampuanmu,"
Lalu keduanya pun tersenyum bahagia. menyambut kehadiran buah hati mereka.
Paginya, Meri dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Mereka pun segera berkemas, usai membayar biaya persalinan, Aldi pun langsung membawa Meri dan bayinya pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, sudah ada baby suster yang sengaja sudah dipekerjakan dua hari lalu. Agar bisa langsung membantu saat Meri melahirkan. Segala keperluan bayi pun sudah dipersiapkan semua jauh-jauh hari. Mulai dari kamar bayi, pakaian bayi dan semua peralatan bayi.
__ADS_1
Meri dan Aldi sedang berada di dalam kamar bersama buah hati mereka yang baru saja lahir. Mereka sedang membahas nama untuk anak mereka.
"Mas, kira-kira anak kita mau dikasih nama siapa ya," tanya Meri sambil berfikir nama yang cocok untuk anak mereka.
"Aku sudah mempersiapkan nama untuk anak kita, aku mau beri nama farel Permana. Kira-kira kamu setuju gak dengan nama itu. Kalau kamu kurang setuju, kita bisa cari nama yang lain,"
"Aku setuju mas, nama yang bagus dan keren,"
Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba farel menangis. Aldi buru-buru menggendongnya. Dia mencoba menimangnya, tapi farel tetap saja menangis.
"Mer, mungkin Farel haus. Coba kamu berikan ASI," ucap Aldi seraya memberikan bayinya dipangkuan Meri. Namun Meri malah menyuruh Aldi membuatkan susu formula. Aldi pun menjadi bingung.
"Lho, kok malah dikasih susu formula sih mer, ASI kamu bagus kan? kenapa Mer? kamu gak kasian sama farel?"
__ADS_1
"Mas Al...Meri ini model lho mas, Meri harus menjaga penampilan Meri. Meri gak mau menyusui, Meri mau merawat tubuh Meri, ini aja habis melahirkan Meri kelihatan gendut, Meri mau program diet mas, biar Meri cepat bisa kerja lagi. Meri udah rindu dengan pekerjaan Meri. Jadi gak pa-pa ya mas, farel minum susu formula aja,"
Aldi benar-benar kecewa sekali mendengar ucapan Meri, dia tidak pernah menyangka kalau Meri mempunyai pola pikir seperti itu.
"Kerja,kerja,kerja! hanya itu yang ada di pikiranmu, kamu gak kasian sama farel, ASI itu lebih bagus dan lebih sehat untuk farel, sebagai seorang ibu harusnya kamu lebih tau itu," Aldi tidak bisa menahan emosinya, dia sangat marah dengan keputusan Meri yang tidak mau memberikan ASI pada Farel.
Mendengar ribut-ribut dikamar, mama Meri menghampiri mereka.
"Ada apa sih ini ribut-ribut? kenapa Mer?"
Meri hanya terdiam, karena dia takut Aldi semakin marah kalau dia bicara.
"Ini ma, Meri bilang tidak mau menyusui anak kita, dengan alasan ingin menjaga penampilannya. Tapi aku lihat diluar sana banyak wanita karier tetap memberikan ASI pada anaknya. Tapi kenapa Meri tidak mau melakukannya, itu yang membuatku marah ma," Aldi berusaha menjelaskan pada mama mertuanya.
__ADS_1