DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 34


__ADS_3

Meri langsung memeluk Tania saat melihat Tania berbaring di kamarnya, dengan tubuhnya yang masih lemas dan matanya yang terlihat sembab, akibat air matanya yang selalu mengalir tatkala mengingat kepergian sang ayah.Tania benar-benar terlihat sangat menyedihkan.


"Papa Mer..." Tania meluapkan kesedihannya kepada Meri.


"Iya Tan, kamu yang sabar ya. Aku juga sangat kehilangan om George. Dan aku juga tidak menyangka kalau beliau akan pergi secepat ini." keduanya sama-sama berlinang air mata.


"Sudahlah, kalian jangan menangis lagi. aku juga sedih, semua pun sedih. Tapi kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan terus menerus. Kita harus mengikhlaskan papa George. Dan sebaiknya kita mendo'akan papa, agar papa tenang di sana dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya." Aldi berusaha menenangkan Tania dan Meri.


Mendengar ucapan Aldi, Meri dan Tania merasa lebih tenang. Mereka mengusap air mata mereka dan mulai berhenti menangis.


"Jadi kira-kira kapan kalian ke Jogja?" tanya Meri.


"Mungkin besok pagi," jawab Aldi.


"Tapi bagaimana dengan mu Tan, apa kamu udah benar-benar baikan?"

__ADS_1


"Aku udah gak pa-pa kok Mer, kamu gak usah khawatir. Apa kamu mau ikut Mer?" tanya Tania.


"Tentu saja aku ikut dong Tan, sekalian aku mau nengokin papa dan mama. Dan aku juga takut terjadi apa-apa sama kamu diperjalanan. Dengan keadaan kamu yang masih lemah seperti ini. Meski kamu bilang kamu udah baik-baik saja, tapi aku tetap tidak percaya. Biarkan aku membantu mas Al menjagamu di perjalanan."


"Makasih ya Mer, kamu memang sahabat terbaik ku." sahut Tania sambil memeluk Meri.


"Kamu belum makan ya Tan?" tanya Meri sambil melihat makanan di atas meja yang sepertinya belum disentuh sama sekali.


"Iya Mer, selama di rumah sakit sampai sekarang Tania belum juga mau makan. Aku khawatir dengan kesehatannya."


"Iya, makasih ya Mer." sahut Tania.


Meri pergi ke dapur untuk membuatkan makanan kesukaan Tania. Dihatinya yang paling dalam sebenarnya Meri sangat menyayangi sahabatnya itu. Tapi karena cintanya pada Aldi juga terlalu besar, dia tega menjalin hubungan asmara dengan suami sahabatnya sendiri.


"Sayang, aku keluar dulu ya. Aku mau menelpon paman untuk menyampaikan kabar duka ini, sekalian aku mau bilang kalau aku akan cuti dalam beberapa hari, selama kita pergi ke Jogja."

__ADS_1


"Iya mas," sahut Tania.


Usai menelpon Aldi tidak langsung kembali ke kamar, dia menemui Meri di dapur. Kebetulan di dapur Meri hanya sendirian karena bi Surti sedang shalat isya' di kamarnya.


Meri terlihat sangat sibuk saat membuatkan makanan untuk Tania. Bahkan saat Aldi muncul pun dia tidak tau. Aldi yang memang merasa rindu dengan Meri usai perpisahannya di Bali sebenarnya ingin sekali memeluk Meri, namun dia tak sampai hati melakukannya. Karena saat ini keadaan masih dalam keadaan berduka.


Aldi hanya memperhatikan Meri dari belakang. Dia merasa kagum dengan persahabatan Tania dan Meri. Mereka benar-benar saling menyayangi satu sama lain.


"Emang kamu bisa bikin telur balado?" tanya Aldi pada Meri. Yang membuat Meri kaget.


"Mas Al, ngapain disini? kasian Tania sendirian,"


"Sebentar, cuma mau masti'in kalau kamu beneran bisa bikin telur balado,"


"Ya bisa dong, kan dulu udah diajarin sama Tania dan Simbok. Dulu kalau aku main ke tempat Tania, kita sering banget belajar masak bareng, makan bareng, bahkan aku juga sering nginap tempat Tania." ucap Meri sambil mengingat masa lalu mereka.

__ADS_1


__ADS_2