DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 57


__ADS_3

Aldi kini semakin jarang menemui Tania, sebenarnya dia tidak ingin melakukannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di dalam hatinya yang paling dalam, ada rasa penyesalan yang mendalam. Andaikan dia tidak tergoda oleh Meri, semua ini tidak akan pernah terjadi, dia tidak akan berjauhan dengan Tania, istri yang teramat sangat dia cintai.


"Sayang, q sungguh menyesal. Aku tidak menyangka kalau Meri akan bersikap seperti itu. Dia sungguh berbeda dengan mu, dia terlalu egois. Maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku untuk bersikap adil padamu, aku tidak berdaya sayang, aku tidak bisa mengabaikan ancaman Meri dan sekarang dia sedang hamil tua, dan aku sudah tidak sabar, Aku sangat mendambakan seorang anak dalam hidupku, maafkan aku sayang yang membuatmu terus menderita," ucap Aldi pada suatu hari, saat dia menginap di rumah Tania.


"Sudahlah mas, aku mengerti posisi mas Al. Walaupun berat Tania melewati keadaan ini, Tania akan berusaha sebisa mungkin untuk selalu sabar dan kuat menghadapinya. Tania ngerti kok, kalau ini bukan keinginan mas Al, selama mas Al masih tetap mencintai Tania, Tania akan berusaha untuk tetap bertahan mas, walau apapun yang akan terjadi. Tania akan tetap mencintai mas Al sampai kapanpun juga," jawab Tania.


Aldi memeluk Tania, keduanya sama-sama meneteskan air mata. Aldi benar-benar menyesal, karena telah membawa duri tajam dalam pernikahan mereka. Yang membuat mereka sama-sama terluka oleh duri tersebut.


Tania melepaskan pelukan Aldi, dia teringat keadaan Meri saat ini, yang kandungannya sudah berusia sembilan bulan.

__ADS_1


"O iya mas, bagaimana keadaan Meri? apa dia baik-baik saja?"


"Meri baik-baik saja. Tapi dia sudah lama berhenti bekerja, karena perutnya sudah membesar,"


"Apa dia tadi gak marah liat mas Al kesini?"


Tania cemberut, karena tetap saja dia juga sebenarnya merasa kesal karena sudah hampir satu Minggu Aldi tidak menemuinya. Tapi dia bisa memakluminya, karena Meri kini tengah hamil tua, dia jelas butuh perhatian lebih dari Aldi. Meski sedih dan kecewa, Tania berusaha memahaminya.


"Maafkan aku sayang, aku sebenarnya dari kemaren-kemaren pengen kesini, tapi aku benar-benar dipenjara sama Meri. Dia rewel banget sekarang, minta ini, minta itu, suka ngomel-ngomel gak jelas. Tapi aku harus tetap menurutinya meski batinku tersiksa, karena kata dokter Meri tidak boleh stres. jadi terpaksa aku harus menuruti semua keinginannya,"

__ADS_1


Mendengar Aldi mengeluh, Tania justru tertawa-tawa. Dia bisa membayangkan betapa tersiksanya Aldi menghadapi Meri yang tengah hamil tua. Hamil muda saja Meri sangat merepotkan, apalagi sekarang hamil tua.


"Sayang kok malah ketawa sih, seneng ya liat aku tersiksa," gerutu Aldi.


"Iya, sukurin biar tau rasa mas Al nya. Emang enak diomelin tiap hari. Jadi, enakan mana nih, diomelin Meri apa diomelin mama?" goda Tania.


"Dua-duanya gak enak, karena aku sukanya diomelin kamu," jawab Aldi yang langsung mengangkat tubuh Tania lalu membaringkannya di atas ranjang.


Dan mereka pun hanyut dalam kemesraan dan kebahagiaan, mengobati kerinduan yang sudah lama tak tertahan lagi. Sebagai istri, Tania berusaha membahagiakan suaminya, dia ikhlas melayani suaminya dengan segenap jiwa dan raganya, karena dia tetap mendamba surga dari suaminya, meski hidupnya tersiksa bagai di neraka.

__ADS_1


__ADS_2