DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 63


__ADS_3

Seperti biasa, di butik Tania selalu sibuk dengan para pelanggannya, hampir setiap hari butiknya tak pernah sepi pembeli. Keramahan Tania membuat para pembeli senang berbelanja ditempatnya. Selain itu, Tania juga memberikan harga yang terjangkau untuk para pembeli, meski kualitasnya sangat bagus. Dia sengaja tidak mengambil keuntungan yang terlalu besar, karena selain bertujuan agar barangnya cepat habis, dia juga bisa membantu meringankan beban ekonomi para pembeli. Supaya mereka bisa mendapatkan barang yang mereka inginkan tanpa harus menguras kantong mereka.


Jam makan siang pun tiba, usai makan siang dengan pegawainya, Tania pergi lagi dengan mang Didik. Sementara dia menyuruh pegawainya menjaga butik, karena dia berencana pergi ke rumah Meri. Dia ingin tau bagaimana keadaan Meri dan bayinya, karena dia belum melihat mereka lagi sepulang dari rumah sakit beberapa hari lalu. Dan tidak lupa, Tania juga membawakan kado yang berisi perlengkapan bayi untuk Farel.


Selama diperjalanan, seperti biasa Tania ngobrol dengan mang Didik. Karena Tania memang selalu ramah pada siapapun, termasuk dengan mang Didik.


"Non Tania yakin mau ke rumah non Meri, bagaimana kalau non Meri tidak suka dengan kedatangan non Tania. Tau sendiri non Meri sekarang sudah berubah, sudah tidak lagi menganggap non Tania sebagai sahabatnya," ucap mang Didik yang ragu dengan niat Tania yang ingin ke rumah Meri.


"Gak usah dipikirkan soal itu mang, yang penting kita datang ke sana dengan niat baik. Masalah Meri suka atau tidak itu urusan nanti. Aku sebenarnya juga sudah kangen banget pengen liat anak mas Al,"


"Non Tania baik banget sih, coba kalau si Surti yang ada di posisi non Tania, dah selesai itu non Meri sama Surti," ucapan mang Didik jelas membuat Tania tertawa.

__ADS_1


Tidak terasa, obrolan mereka membawa mereka sampai ke tujuan. Mobil mereka berhenti di sebuah rumah mewah dengan halaman yang luas dan desain rumah yang sangat modern. Inilah rumah baru Meri, yang belum lama dibelikan oleh Aldi.


Sesampainya di depan pintu, Tania membunyikan bel rumah Meri. Tidak lama kemudian muncul ibu-ibu paruh baya, membukakan pintu.


"Cari siapa non?" tanya ibu itu, yang tak lain adalah asisten rumah tangga di rumah Meri.


"Meri nya ada bi? saya temannya,"


Tania duduk di kursi tamu, tidak lama kemudian Meri keluar. Namun Meri yang sudah berubah, menyambut kedatangan Tania dengan sambutan yang kurang ramah. Dan Tania sudah tidak heran lagi dengan sikap Meri itu. Tania tetap bersikap biasa saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa dengan mereka.


"Hai Mer,"

__ADS_1


"Hai, ada keperluan apa Tan kamu kesini?" tanya Meri cetus.


"Aku kesini cuma pengen tau keadaanmu dan bayimu. Aku kepikiran terus sama kalian, makanya aku memutuskan untuk datang kemari. Ni ada sedikit hadiah buat Farel, mudah-mudahan kamu suka," Tania menyerahkan kado yang dia bawa.


"Terimakasih, aku dan Farel baik-baik saja kok" jawab Meri sambil mengambil kado pemberian Tania.


"Syukurlah kalau begitu,Farel nya mana mer? boleh aku melihatnya, aku kangen banget sama Farel. Karena aku baru sekali melihatnya," Tania sedikit memohon pada Meri agar dia diperbolehkan melihat Farel.


"Boleh, dia lagi tidur di kamarnya," jawab Meri yang terlihat agak terpaksa, lalu mengajak Tania ke dalam kamar Farel.


Sesampainya di kamar Farel, Tania mendekati tubuh mungil itu. Dilihatnya Farel sedang tertidur pulas, dengan sesekali menggoyang-goyangkan bibir mungilnya. Tidak terasa air mata Tania menetes. Meski Farel bukan anaknya, tapi hatinya sangat bahagia. Walaupun hanya melihatnya dan tak bisa memilikinya, namun Tania bersyukur karena suaminya telah dikaruniai seorang anak yang sangat mungil dan tampan.

__ADS_1


__ADS_2