DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 55


__ADS_3

Tepatnya pukul sepuluh pagi, Tania duduk di ruang tengah, sambil menonton acara televisi. Sedangkan bi Surti masih sibuk di dapur, merapikan dapur.


Bel rumah berbunyi, Tania beranjak dari tempat duduknya membukakan pintu. Dan ternyata yang datang Meri. Tania menyambut Meri dengan ramah, meskipun Meri telah menyakiti hatinya. Tapi sebaliknya, Meri terlihat cuek sama Tania.


"Hai Mer, tumben kesini. Masuk yuk," sambut Tania pada Meri dengan ramah. Namun justru Meri menjawabnya dengan cetus.


"Gak usah, disini aja. Aku gak lama kok,"

__ADS_1


"Lho, kok gitu. Memangnya ada apa Mer?" tanya Tania yang merasa aneh dengan sikap Meri.


"Langsung aja ke permasalahan ya Tan, aku gak suka kamu melarang-larang mas Al tinggal di tempat aku. Aku tau, kamu hanya berpura-pura sakit supaya mas Al menginap disini, iya kan. Aku baru saja menikah Tan, dan aku juga lagi hamil. Jadi aku minta kamu bisa ngertiin posisi aku, karena aku sekarang lagi butuh mas Al banget untuk selalu ada di sampingku," ucap Meri dengan nada sinis.


Mendengar ucapan Meri, tanpa terasa air mata Tania menetes. Dia tidak pernah mengira, kalau Meri bisa berkata seperti itu padanya. Tania tidak menduga kalau Meri akan berubah.


Sudah jelas kalau yang diucapkan Tania itu semua benar. Tapi Meri yang sudah terlanjur membenci Tania, tetap tidak mau mendengar semua penjelasan Tania. Dan untuk menutupi rasa malunya atas sikapnya, Meri justru semakin menjadi menyalahkan Tania.

__ADS_1


"Jangan pernah mengajariku tentang bagaimana cara memperlakukan suami. Karena aku tidak pernah merasa mempersulit mas Al, justru kamulah yang mempersulitnya. Mas Al sekarang sangat bahagia dengan ku, karena dia akan mempunyai anak dariku. Dan kamu iri kan dengan kebahagiaan kami, karena sampai sekarang kamu belum juga bisa hamil. Makanya kamu berusaha agar mas Al menjauhiku. Iya kan Tan, jawab!"


"Cukup Mer! Tania balik membentak Meri, karena dia sudah tidak tahan mendengar ucapan Meri yang teramat sangat menyakiti hatinya.


"Kamu sudah terlalu jauh berubah Mer, aku benar-benar tak bisa lagi mengenalimu. Kamu bukan lagi Meri yang ku kenal, kamu bukan lagi sahabatku Mer, kamu sekarang berubah, kenapa Mer...kenapa..." Tania menangis terisak-isak.


"Karena Meri yang dulu sudah terlalu banyak berkorban Tan, aku gak mau jadi Meri yang dulu, yang selalu menderita melihat kebahagiaanmu. Aku pun ingin bahagia Tan, aku pun ingin memiliki mas Al seutuhnya. Jadi aku minta sama kamu, jangan pernah kamu usik kebahagiaanku dengan mas Al. karena kamu sudah terlalu lama merasakan kebahagiaan bersama mas Al. Sekarang giliran aku yang harus bahagia bersama mas Al, kamu mengerti itu kan Tan!"

__ADS_1


Tangis Tania semakin menjadi, dia tidak menyangka kalau pengorbanannya selama ini tidak dihargai oleh Meri. Rasa sakit yang dia rasakan karena harus berbagi suami dengan Meri pun tidak pernah ada artinya bagi Meri. Tania benar-benar tidak percaya dengan semua kenyataan ini. Kenyataan yang terasa sangat pahit dalam hidupnya.


__ADS_2