DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 44


__ADS_3

Sampai di kantor, handphone Aldi berbunyi. Dan itu telpon dari Meri. Setelah kejadian waktu itu di apartemen, saat Tania mengetahui hubungannya dengan Aldi. Membuat Meri merasa canggung dengan Tania, karena rasa malu dan rasa bersalahnya.


"Mas, bagaimana keadaan Tania, apa dia baik-baik saja?" tanya Meri di telepon.


"Mungkin fisiknya baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya. Kamu bisa bayangkan sendiri bagaimana perasaannya saat ini,"


Meri terdiam, hatinya benar-benar diliputi rasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, semua telah terjadi. Dan dia juga tidak bisa melepaskan Aldi lagi, karena dia sudah melangkah sejauh ini untuk bisa mendapatkan cintanya Aldi.


Ambisi Meri untuk mendapatkan Aldi, membuat tali persahabatannya dengan Tania yang begitu erat harus dipertaruhkan. Bahkan Kemungkinan besar persahabatan mereka bisa saja berakhir.


"Terus bagaimana dengan hubungan kita mas, mas Al akan tetap menikahi ku kan?" Meri terlihat sangat cemas, dia takut Aldi meninggalkannya. Apalagi dengan posisinya sekarang yang sedang hamil.


"Kamu bersabarlah dulu Mer, aku pasti akan menikahi mu. Tapi aku ingin mendapatkan izin dulu dari Tania,"

__ADS_1


"Tapi kan itu tidak wajib mas, laki-laki boleh kok menikah tanpa harus izin dulu dengan istrinya,"


"Memang dibolehkan Mer, tapi aku pribadi tidak bisa melakukan itu. Kamu tau kan, aku sangat mencintai Tania. Aku sudah terlalu banyak menyakitinya. Aku tidak tega lagi melihat dia terus terluka. Apalagi dia baru saja kehilangan Ayahnya. Jadi aku minta, mengertilah dan bersabarlah sedikit." Aldi Berusaha meminta pengertian dari Meri.


"Ya udahlah mas, terserah kamu. Tapi aku gak mau ya nunggu terlalu lama. Karena aku sudah terlalu lama menunggu saat-saat seperti ini, ditambah lagi sekarang aku lagi hamil anak kamu,"


"Iya Mer, aku pasti akan secepatnya menikahi mu."


Aldi duduk di kursi, dengan menyandarkan kepalanya. pikirannya tidak tenang, bahkan dia tidak bisa konsentrasi dalam pekerjaannya.


Sementara di butik, Tania sedang duduk melamun. Dia sedang memikirkan tentang dirinya,suaminya dan sahabatnya Meri. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara seorang perempuan yang menyapanya, dan ternyata itu suara bibi Maya. Dia datang bersama anaknya, siapa lagi kalau bukan Rara.


Tania langsung memeluk bibi Maya, mereka memang sudah akrab meski jarang bertemu. Setelah itu, Tania langsung menggendong dan mencium Rara. Rara memang anak yang sangat menggemaskan, ditambah Tania yang memang sangat menyayangi anak-anak.

__ADS_1


"Tumben bibi main ke sini, dah lama lho bi kita gak ketemu,"


"Iya, kamu benar Tan. Tapi itu wajar, karena kita sama-sama repot. Kamu repot di butik, sementara aku repot ngurus anak. Aku memang sengaja ke sini, pengen ketemu kamu, sekalian aku mau belanja beberapa pakaian untuk Rara,"


Mereka pun hanyut dalam obrolan yang seru, belum lagi meladeni kelucuan-kelucuan Rara yang bikin gemas itu.


Namun tiba-tiba bibi Maya membahas tentang Aldi.


"Tan, bukannya bibi mau ikut campur urusan rumah tangga kalian, atau mau ngomporin kamu ya. Tapi bibi bilang ini karena bibi sayang sama kamu. Jadi ceritanya, waktu itu bibi pernah liat Aldi sama seorang wanita, dan mereka terlihat sangat mesra. Jadi bibi sarankan sebaiknya kamu cari tau apa yang dilakukan suamimu diluar sana. Bukannya apa-apa, kebetulan bibi liatnya pas sama beberapa istri rekan kerja Aldi dan Haris di kantor. Karena kebetulan waktu itu kami mau mengadakan pertemuan arisan. Dan biasalah ibu-ibu, suka gosip sana-sini. Aku hanya tidak mau rumah tangga kalian jadi omongan mereka."


"Iya bi, terimakasih bibi sudah memberi tau Tania, Tania pasti akan cari tau,"


Tania lalu terdiam, dia tidak mengatakan apapun tentang perselingkuhan Aldi dengan Meri yang sudah dia ketahui. Karena sebagai seorang istri, dia akan berusaha menutupi aib suaminya dari orang-orang, sekalipun pada bibinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2