
Begitu Tania keluar, Meri langsung memberikan handphone Tania. Dan langsung menyerang Tania dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Meri yang memang membenci Tania merasa punya kesempatan untuk bisa meluapkan rasa kesalnya pada Tania.
"Mau apa kamu ke rumahku Tan, mau mengambil kesempatan buat deketin mas Al, supaya dia berpaling dariku. Atau kamu mau melukai Farel ya. Aku tau, kamu tidak senang kan dengan hadirnya Farel ditengah-tengah aku dan mas Al. Kamu iri kan Tan, karena sampai sekarang kamu belum juga bisa memberikan anak untuk mas Al. Iya kan Tan, jawab aku!" bentak Meri pada Tania.
"Cukup Mer! kamu ini kenapa sih Mer, bisa gak sih kamu berpikir positif dikit sama aku. Kamu tau aku kan Mer, kamu paham kan bagaimana aku. Jadi gak mungkin mer aku sejahat itu sama kamu. Aku hanya membantumu mengurus Farel. Karena jujur Mer, aku juga sangat menyayangi Farel. Dia sudah aku anggap seperti anakku sendiri, dan aku juga gak pernah sedikitpun iri padamu Mer, sama sekali tidak,"
Meri yang sudah telanjur membenci Tania, tidak memperdulikan lagi penjelasan Tania. Apapun yang dikatakan oleh Tania, sedikitpun tidak dia hiraukan. Meri justru semakin emosi, dia tetap menganggap Tania berusaha merusak rumah tangganya. Sementara Tania mulai meneteskan air mata, dia tidak percaya kalau dia akan bertengkar dengan Meri, sahabat yang sangat dia sayangi.
"Sudahlah Tan, gak usah pura-pura menangis. Aku sudah gak percaya lagi dengan air mata palsu mu itu. Kamu itu gak punya hati Tan, kalau kamu iri sama aku gak usah pakai cara curang Tan, pura-pura baik, untung aja aku cepat pulang kalau tidak, aku gak tau apa yang akan terjadi dengan Farel,"
__ADS_1
Ucapan Meri benar-benar terdengar panas di telinga Tania. Tania menyentuh kedua bahu Meri, menggoncang tubuhnya, dan menatap wajah Meri dengan air mata yang terus mengalir.
"Sadarlah Mer, sadarlah. Kamu ini kenapa Mer, lihat aku Mer, apa menurutmu aku mampu melakukan itu semua. Aku yakin kamu tau kalau aku tidak sejahat itu. Berhentilah membenciku mer, kita bisa kan seperti dulu lagi. Aku mohon Mer, kembalilah menjadi Meri yang dulu. Meri yang baik dan menyayangiku sebagai sahabat,"
Tidak terasa air mata Meri pun menetes, mungkin di hatinya yang paling dalam, dia tidak menginginkan semua ini terjadi. Namun rasa iri telah menguasai hati dan pikirannya, sehingga dia mengubur semua kenangan indah bersama Tania. Dan berusaha melupakannya.
Meri melepaskan sentuhan tangan Tania, dan malah mendorong Tania. Hampir saja Tania terjatuh, untung saja Aldi yang baru saja sampai, langsung menangkap tubuh Tania, agar tak sampai terjatuh.
"O...jadi mas Al lebih memilih Tania ya ketimbang aku, terus aja mas Al belain Tania. Ini yang mas Al bilang adil, mas Al benar-benar keterlaluan, mas Al tidak mencintai Meri kan mas, Meri kecewa sama mas Al," ucap Meri sambil menangis dan langsung berlari pergi menuju mobilnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu gak apa-apa kan sayang?" tanya Aldi yang khawatir dengan keadaan Tania.
"Aku gak apa-apa mas, mas Al gak usah khawatir, aku baik-baik saja. Sekarang mas Al pulang aja ya ke rumah Meri, tenangkan hatinya, dia butuh mas Al saat ini,"
"Tapi bagaimana dengan mu sayang?"
"Aku baik-baik saja mas, pergilah," ucap Tania sambil tersenyum manis, berusaha meyakinkan Aldi kalau dia baik-baik saja.
"Ya udah, aku pergi dulu ya sayang. Terimakasih sudah bisa ngertiin aku,"
__ADS_1
Tania mengangguk sambil tersenyum manis, melepas kepergian Aldi.