
Tania baru saja selesai shalat Maghrib, dengan masih menggunakan mukena, dia duduk di tepi ranjang, diambilnya foto pernikahannya dengan Aldi yang terpasang di atas meja kamarnya. Dengan air matanya yang kembali berlinang, dipandanginya foto itu.
"Inikah akhir cerita cinta kita mas, q tidak pernah menyangka kalau mas Al akan melakukan ini semua pada Tania," ucap Tania lirih, sambil memeluk foto itu, dengan air matanya yang terus berlinang.
Tidak lama kemudian, Aldi pulang. Setelah seharian ke sana kemari mencari Tania. Aldi yang khawatir dengan keadaan Tania langsung menemui Tania di kamar. Melihat Aldi datang, Tania buru-buru meletakkan kembali foto pernikahannya di atas meja dan berusaha terlihat kuat didepan Aldi.
Aldi masuk kamar dengan langkah perlahan, melihat Tania sedang menangis, Aldi langsung bersimpuh di hadapan Tania.
"Maafkan aku sayang..aku.." belum selesai Aldi bicara, Tania langsung memotongnya.
"Ceraikan aku mas," ucap Tania dengan tegas.
"Cerai? tidak sayang, tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan menceraikan mu sampai kapanpun. Aku sangat mencintaimu Tania, aku tidak akan pernah bisa melakukan itu,"
"Cukup mas! cinta mas Al bilang? melakukan hubungan dibelakang ku dengan wanita lain, itu yang mas Al bilang cinta, dan kenapa harus Meri mas, kenapa! salah Tania apa mas, sampai mas Al tega melakukan ini semua pada Tania. Jawab mas, salah Tania apa?" Tania menangis terisak-isak. Merasakan sakit yang teramat sangat dalam hatinya.
__ADS_1
Aldi menggeser duduknya dengan menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang lalu meluruskan kakinya di lantai. Dan mulai berbicara.
"Entahlah sayang, perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja. Aku benar-benar tidak bisa menghindarinya. Aku sangat mencintaimu, tapi aku juga tidak bisa melepaskan Meri, Apalagi dia sekarang sedang hamil,"
"Mas Al begitu perduli dengan Meri, tapi bagaimana dengan perasaanku mas, mas Al sama sekali tidak perduli dengan perasaanku. Aku sangat terluka mas, kau tau itu,"
"Iya sayang, aku mengerti bagaimana perasaan mu. Tapi kau tau sayang, aku sangat mendambakan seorang anak, jadi aku tidak mungkin melepaskan Meri,"
"Kamu benar mas, aku memang tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk mas Al. Tapi bukan cuma mas Al yang menginginkan seorang anak, aku pun sama mas, aku juga ingin tau bagaimana rasanya menggendong bayi, menimang bayi, menyusui, menyuapi, semuanya. Aku pun sama mas, aku juga ingin merasakan itu semua..." air mata Tania semakin berlinang. Dia menangis terisak-isak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Tania melepaskan pelukan Aldi, dia terdiam. Dia teringat nasehat yang diberikan pak Mulya. Kalau laki-laki memang diperbolehkan menikah lagi, asalkan dia bisa bersikap adil kepada masing-masing istrinya.
"Beri aku waktu mas, aku tidak tau bagaimana menyikapi ini semua. Aku terlalu menyayangi kalian berdua. Tapi ini juga sangat menyakitkan," air mata Tania kembali menetes.
"Sekali lagi maafkan aku sayang. Aku sendiri juga tidak tau, kenapa aku bisa melakukan ini semua."
__ADS_1
Keduanya terdiam, tiba-tiba terdengar suara bi Surti mengetuk pintu dan memanggil Aldi.
"Tok..tok..den Al!"
Aldi membukakan pintu.
"Ada apa bi?"
"Itu den, Bu Rima telpon. katanya mau ngomong sama den Al,"
"Iya bi, nanti saya telpon balik,"
Aldi kembali masuk kamar. Dia mendekati Tania dan membelainya.
"Sayang, aku mau telpon mama dulu ya. Mungkin saja ada hal penting yang ingin dibicarakan."
__ADS_1
Tania tidak menjawab, dia hanya mengangguk. Kemudian Aldi melangkah keluar meninggalkan Tania.