
Aldi mengusap air mata Tania, Tania tersenyum manis. Dia tidak mau terlihat sedih didepan Aldi. Karena dia tidak mau membebani suaminya dengan kesedihannya. Dengan kesabaran dan kasih sayangnya, dia berusaha meyakinkan Aldi, kalau dia baik-baik saja.
"Mas Al tidak perlu mencemaskan Tania, karena sejauh apapun mas Al meninggalkan Tania, Tania tidak akan bergeser sedikitpun dari tempat Tania. Tania akan tetap disini, menunggu mas Al. Andaikan di sana mas Al tidak bahagia, kembalilah mas, pintu hati ku selalu terbuka untuk mas Al, kapanpun dan sampai kapanpun itu," ucap Tania, yang kemudian memeluk Aldi kembali.
"Kamu adalah istri terbaik ku sayang, yang aku miliki di dunia ini. Tidak akan ada yang seperti mu, sekalipun itu Meri. Kalau dia yang ada diposisi mu, aku yakin dia tidak akan bisa bersikap seperti mu dalam keadaan ini,"
"Tapi mas Al cinta kan sama Meri...," goda Tania, berusaha membuat suasana jadi ceria, sambil melepaskan pelukannya.
"Tapi cinta ku pada Meri tak sebesar rasa cinta ku pada mu sayang,"
"Gak usah merayu mas, dah gak mempan. Aku dah paham, nek ndelok cewek ayu motomu ijo,"
"Iya, tapi cewek cantik nya kamu," ucap Aldi sambil memeluk dan menciumi Tania, yang membuat Tania menggeliat karena menahan rasa geli.
"Kita kebawah yuk, aku belikan buah-buahan kesukaanmu. Tapi aku mandi dulu ya sayang,"
"Iya mas, kalau gitu aku duluan kebawah ya,"
__ADS_1
"Iya sayang," jawab Aldi yang kemudian bergegas ke kamar mandi.
Tania membantu bi Surti menyiapkan makan malam. Dia mempersiapkan semuanya Serapi mungkin dan menu masakan yang seenak mungkin, untuk bisa memberikan yang terbaik untuk suaminya.
Selesai mandi Aldi turun ke bawah, dia dan Tania duduk di meja makan, dan akan memulai makan malam mereka. Namun tiba-tiba handphone Aldi berbunyi, dan itu telpon dari Meri.
"Ada apa Mer?" tanya Aldi.
"Aduh..mas...perutku sakit banget...," jawab Meri yang terdengar kesakitan.
"Sakit bagaimana Mer maksudnya. Kau kenapa?"
"Gak tau mas, tiba-tiba perutku terasa sakit. Mas Al buruan kesini, Meri dah gak tahan mas..," Meri terus mengiba.
"Iya-iya aku segera ke sana," jawab Aldi yang langsung menutup telponnya.
Tania pun penasaran, ada apa dengan Meri. karena Aldi terlihat sangat panik.
__ADS_1
"Ada apa mas? Meri kenapa?" tanya Tania.
"Gak tau juga sayang, Meri bilang perutnya tiba-tiba terasa sakit, aku takut terjadi apa-apa dengan kandungannya,"
"Ya udah, mas Al buruan ke sana, kasihan Meri. Aku juga takut terjadi apa-apa sama Meri,"
"Kamu gak pa-pa sayang aku tinggal?"
"Gak pa-pa mas. pergilah, Meri lebih membutuhkanmu. Kabari aku kalau ada apa-apa,"
"Iya sayang, terimakasih sayang dah bisa ngertiin aku."
Aldi pun pergi meninggalkan Tania. Dengan sedikit rasa kecewa, Tania melepas kepergian Aldi, sebenarnya di hatinya yang paling dalam, dia tidak ingin Aldi pergi, karena dia masih sangat rindu dengan suaminya itu, dan semua hidangan yang sudah dia siapkan sesempurna mungkin, tidak bisa dia nikmati bersama suaminya.
Tania kecewa dengan semua ini, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Baginya keselamatan Meri dan anak yang dikandungnya lebih utama, daripada rasa rindunya pada Aldi. Dia bisa menahannya, meski itu menyiksa batinnya.
Nek ndelok cewek ayu motomu ijo: Kalau lihat cewek cantik matamu hijau.
__ADS_1