DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 51


__ADS_3

Sementara di apartemen, Meri sedang sibuk menyambut kedatangan Aldi. Dia merapikan ruangannya, Dan dia sama sekali tidak sakit perut. Itu hanya alasannya saja supaya Aldi menginap lagi di tempatnya. Entah apa yang membuat Meri berubah menjadi sosok yang egois dan ambisius.


Dia benar-benar melupakan persahabatannya, sedikitpun dia tidak lagi memikirkan bagaimana perasaan Tania. Yang dia inginkan Aldi menjadi suaminya seutuhnya. Tanpa memperdulikan Tania lagi.


Aldi pun sampai di apartemen, Meri membukakan pintu. Aldi yang khawatir dengan keadaan Meri, langsung memeriksa keadaan Meri.


"Meri bagaimana keadaanmu, apa perutmu masih sakit? kita ke dokter sekarang ya," ucap Aldi yang masih terlihat panik.


"Gak usah mas, barusan Meri bawa berbaring sekarang dah mendingan kok,"


"Gak bisa gitu dong, kamu harus tetap diperiksa. Takut ada apa-apa dengan kehamilan kamu. Kamu tau sendiri kan, aku sangat menginginkan seorang anak. Jadi aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandungan mu,"


"Udah, mas Al gak usah khawatir. Aku baik-baik aja kok. Mas Al belum makan kan, kita makan yuk,"


Aldi yang tidak tau kalau Meri hanya berpura-pura sakit perut pun sama sekali tidak menaruh curiga. Dan dia menurut saja saat Meri mengajaknya makan malam.

__ADS_1


Selesai makan keduanya bersantai sambil nonton tv. Meri menyandarkan kepalanya di bahu Aldi, seakan dia tidak ingin berpisah ataupun berbagi Aldi dengan Tania. Dia menginginkan kebahagiaan hanya milik dia seutuhnya. Tidak ada yang boleh mengusik kebahagiaannya.


"Mas, Tania tadi gak marah mas Al kesini," tanya Meri.


"Enggak, dia malah khawatir dengan keadaanmu. Kau tau, dia masih tetap menyayangimu sama seperti dulu. Kamu juga masih menyayanginya kan?"


"Masih dong mas... dia kan sahabat terbaikku," jawab Meri yang jelas lain di mulut lain di hati.


Pagi-pagi Tania bangun agak kesiangan. Kepalanya pusing dan badannya panas. Sepertinya dia demam. Selesai shalat dia pergi ke dapur, bi Surti yang melihat keadaan Tania tidak seperti biasanya menjadi panik. Dia mendekati Tania yang duduk di kursi makan, kemudian bi Surti menyentuh kening Tania.


Tania pun menurut, karena dia tidak mau membuat bi Surti tambah khawatir. Dengan diantar mang Didik dan bi Surti, Tania pergi ke rumah sakit. Setelah diperiksa, Tania memang terkena demam. Tapi dia tidak dirawat, dokter hanya memberinya beberapa resep obat.


Sepulangnya dari rumah sakit, Tania langsung istirahat di dalam kamar. Bi surti membawakan sarapan ke kamarnya, menyuruh Tania sarapan dan minum obat.


"Bibi telpon den Al ya non," ucap bi Surti.

__ADS_1


"Gak usah bi, Tania gak pa-pa. Kasian mas Al nanti dia bingung harus bagaimana, karena di sana dia juga harus mengurus Meri yang juga sakit. Udah, gak pa-pa. Tania baik-baik saja kok,"


Meskipun bi Surti sangat kasihan pada Tania, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menuruti permintaan Tania.


Bi surti kemudian keluar dari kamar Tania, sementara di luar mang Didik yang juga khawatir dengan keadaan Tania, terlihat mondar-mandir menunggu bi Surti keluar dari kamar Tania.


"Ayang Surti, gimana keadaan non Tania?" tanya mang Didik.


"Panasnya masih tinggi, tapi kata dokter panasnya akan turun sesudah minum obatnya. Kita lihat saja nanti, non Tania baru saja minum obat dan sekarang dia sedang istirahat,"


"Kasian ya non Tania, dah sakit suaminya gak tau kemana. Tenang aja ayang Surti, nanti kalau kamu sakit, aku pasti selalu di sampingmu. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri kayak non Tania,"


"O...jadi sampean pengen aku sakit, iya?"


"Ya gak gitu, ayang Surti...,"

__ADS_1


"Dah lah, aku mau nyapu. Males banget dengerin sampean," jawab bi Surti yang langsung pergi meninggalkan mang Didik.


__ADS_2