
Tania kini mulai disibukkan dengan aktivitas di butiknya. Dia terlihat sangat menikmati pekerjaannya sebagai pemilik sebuah butik yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Sementara Aldi sibuk dengan urusan kantornya dan juga sibuk dengan selingkuhannya Meri. Yang makin hari makin sering bertemu.
"Mer, minggu depan aku mau ke bali beberapa hari, ada urusan pekerjaan. Jadi mungkin dalam beberapa hari aku gak bisa menemui mu, gak pa-pa kan?" ucap Aldi saat menemui Meri di apartemennya.
"Mas Al mau ke Bali, kebetulan dong. Meri juga sebenarnya beberapa hari ke depan ada tawaran pemotretan di Bali. Tadinya mau Meri tolak soalnya Meri gak mau jauh-jauh dari mas Al. Tapi kalau mas Al mau ke sana Meri terima aja deh tawaran jobnya. Hitung-hitung menyelam sambil minum air, bekerja sekalian liburan sama mas Al. Ngebayangin aja Meri udah seneng banget."
"Dasar kamu ya, pinter banget memanfaatkan waktu." ucap Aldi yang kembali memeluk dan menciumi Meri.
Makin hari Aldi makin sering mengunjungi Meri, dia makin sering telat pulang ke rumah. Bahkan terkadang Tania tidak tau jam berapa dia pulang. Dan selalu urusan kantor yang jadi alasannya. Membuat Tania mulai merasa kesal. Namun dia berusaha bersabar dan berfikir positif tentang Aldi. Dia tidak mau mempermasalahkannya, karena dia tidak mau membebani suaminya dengan suatu tuduhan atau pikiran negatif yang belum tentu benar.
Saat sarapan pagi, Aldi mengatakan kepada Tania kalau dia akan pergi ke Bali beberapa hari. Dia tau kalau Tania tidak akan mau ikut serta menemaninya karena Tania masih sibuk dengan butiknya yang baru dibuka. Namun dia tetap mengajaknya sekedar basa-basi.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau ikut gak ke Bali, kita bisa sekalian liburan beberapa hari di sana,"
"Kayaknya gak bisa mas, soalnya masih banyak yang harus aku kerjakan di butik, masih banyak baju-baju yang belum aku sediakan sementara banyak yang memesan. Maaf ya mas, lain kali aja ya. Mas Al gak pa-pa kan ke Bali sendiri,"
"Iya sayang gak pa-pa kok, kamu juga kan baru buka butiknya, jadi jangan mengecewakan pembeli supaya kamu bisa cepat mendapat pelanggan."
Didalam hatinya Aldi merasa sangat lega mendengar jawaban Tania, karena dengan Tania tidak ikut serta ke Bali, dia bisa dengan leluasa menikmati hari-hari dan bermesraan bersama Meri di Bali. Suasana yang memang dia dan Meri inginkan.
"Mungkin lusa,"
"Ya udah, nanti aku siapin segala keperluannya."
__ADS_1
Selesai sarapan Aldi berangkat ke kantor, namun dia mampir dulu ke tempat Meri. Dia ingin menanyakan soal keberangkatan Meri ke Bali. Sebenarnya bisa saja dia menanyakan lewat telepon, tapi tentu saja itu dia jadikan alasan untuk bisa menemui Meri.
"Pagi-pagi kok udah sampai sini mas, ada apa?" tanya Meri.
"Kok nanyanya gitu sih, emang gak boleh ya aku sering-sering kesini."
"Ya gak gitu mas, gitu aja ngambek. kayaknya Meri tau deh biar mas Al gak ngambek lagi." ucap Meri sambil mengalungkan lengannya ke leher Aldi.
Keduanya berciuman mesra, Meri menarik dasi Aldi membawanya ke tempat tidur. Lalu keduanya bermesraan lagi dan lagi. Dan itu membuat Aldi jadi lupa dengan tujuan dia menemui Meri, padahal awalnya dia ingin menanyakan soal keberangkatan Meri.
"Kamu mau disini aja seperti ini atau pergi ke kantor?" Meri mencoba mengingatkan Aldi karena sepertinya Aldi sudah kesiangan.
__ADS_1
Aldi melihat jam tangannya, dia sangat terkejut. Dia tidak sadar kalau dia sudah terlambat lima belas menit. Dia pun cepat-cepat merapikan pakaiannya dan langsung bergegas ke kantor. Meri hanya tersenyum melihat kelakuan Aldi.