
Tidak terasa dua bulan berlalu, Meri yang sudah disibukkan dengan urusan pekerjaannya, semakin jarang berada di rumah. Waktunya lebih banyak tersita untuk pekerjaannya ketimbang mengurusi anaknya dirumah. Farel yang tidak minum ASI membuatnya leluasa meninggalkan Farel kemanapun meski dengan waktu yang cukup lama. Karena dirumah sudah ada baby suster yang mengurus Farel.
"Mas, aku dua hari ke depan mau ada pemotretan diluar kota. Jadi aku mau izin bepergian selama dua hari, besok aku sudah dijadwalkan berangkat. Dan aku sudah menandatangani kontraknya, jadi meski mas Al melarang, aku tetap akan pergi. Karena aku gak mau kalau aku membatalkannya nanti aku dicap model yang tidak profesional. Kalau cuma ganti rugi aja aku gak masalah, tapi kalau masalah nama baik karier ku, aku gak akan main-main mas. Aku jelas akan mempertahankannya bagaimana pun caranya," ucap Meri saat menikmati sarapan di suatu pagi.
Aldi hanya terdiam, ingin rasanya dia memaki Meri habis-habisan, tapi semua itu percuma, tetap tidak akan bisa mengubah keputusan Meri. Meri teramat sangat mencintai pekerjaannya, sehingga dia sanggup meninggalkan Farel yang masih berusia dua bulan, hanya demi pekerjaan.
"Mas! kok diam aja sih," gerutu Meri.
__ADS_1
"Memangnya aku harus ngomong apa sama kamu, percuma. Aku melarang mu juga kamu tetap akan pergi juga kan. Jadi buat apa aku buang-buang waktu
untuk berusaha mencegah mu, toh kamu juga gak akan dengar. Jadi terserah kamu aja lah, pusing aku," jawab Aldi yang lalu bergegas berangkat ke kantor. Namun terlebih dulu dia mencium putra kesayangannya. Tanpa mempedulikan Meri, yang membuat Meri merasa kesal.
Sementara di rumah Tania, seperti biasa, bi Surti menyiapkan sarapan di atas meja makan untuk Tania. Terlihat Tania menuruni anak tangga, yang sudah siap berangkat ke butik. Namun berbeda dari biasanya, Tania terlihat tidak bersemangat. Melangkah pun sepertinya terlihat enggan. Bi Surti yang merasa heran dan juga cemas dengan keadaan Tania pun langsung menyapa Tania.
"Tania baik-baik saja bi," jawab Tania dengan nada lesu, sambil duduk di kursi makan.
__ADS_1
"Tapi non Tania terlihat lesu dan gak bersemangat, ada apa non? cerita sama bibi,"
"Jujur ya bi, sebenarnya Tania rindu sekali dengan Farel. Sudah dua bulan Tania tidak melihatnya. Pengen rasanya Tania ke rumah Meri, tapi bi Surti tau sendiri kan, Meri kurang senang kalau aku datang ke rumahnya. Padahal beneran lho bi, Tania kangen...banget sama Farel,"
"Iya, bibi juga heran sama non Meri. Apa coba salahnya kalau non Tania datang ke rumahnya melihat Farel, toh non Tania juga datangnya baik-baik, bukan mau marah atau melukai anaknya. huh! lama-lama bibi gemes tu sama non Meri, kalau bibi jadi non Tania, udah tak cakar-cakar itu muka non Meri, biar gak bisa jadi model lagi, biar tau rasa," gerutu bi Surti kesal,"
"Jangan dong bi... kasihan Meri nya. Karena dia sangat mencintai pekerjaannya sebagai model. Dia sudah berusaha mati-matian untuk meraih kariernya. Masa bibi tega kayak gitu sama Meri. Apa bibi ada rencana mau gantiin Meri jadi model nih," gurau Tania pada bi Surti. yang membuat bi Surti balik melontarkan candaan pada Tania.
__ADS_1
"Ya kalau menurut non Tania bi Surti masuk kriteria jadi seorang model kenapa enggak," jawab bi Surti yang membuat Tania tertawa lepas.