DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 46


__ADS_3

Keesokan harinya, Aldi langsung menemui Meri. Dia memberi tau Meri kalau Tania telah memberikan izin padanya untuk menikahinya. Aldi meminta Meri agar bersiap-siap untuk melangsungkan pernikahan mereka.


Dan dengan memberanikan diri, Aldi juga menghubungi papa dan mamanya agar datang ke Jakarta, namun Aldi tidak langsung mengatakan lewat telepon kalau dia akan menikah dengan Meri, dia hanya mengatakan kalau ada hal penting yang harus dibicarakan. Dia akan mengatakannya saat mereka sudah tiba di Jakarta. Karena Aldi tidak mau mereka syok dan malah tidak mau datang ke Jakarta.


Dan jelas saja, setibanya dirumah Aldi, papa dan mama Aldi sudah tidak sabar ingin mengetahui hal penting apa yang akan dibicarakan oleh Aldi.


Aldi, Tania dan kedua orang tua Aldi berkumpul di ruang tengah. Papa Aldi yang sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang akan disampaikan oleh Aldi pun langsung bertanya.


"Sebenarnya hal penting apa Al yang mau kamu bicarakan, sampai kamu menyuruh papa dan mama kesini. Kenapa tidak kau bicarakan lewat telepon saja?"


Aldi menghela nafas panjang, dan mulai menjawab pertanyaan papanya.

__ADS_1


"Jadi begini pa, Aldi meminta papa dan mama kesini, karena Aldi ingin minta restu. Aldi akan menikah lagi pa,"


"Papa gak ngerti Al, maksud kamu apa?"


Tania yang dari tadi terdiam, membantu Aldi berbicara.


"Iya pa, mas Al akan menikah lagi dengan Meri, dan Tania sudah memberikan izin kepada mas Aldi,"


"Kamu betul-Betul suami tidak tau diri! setan apa yang sudah merasuki mu, sampai kamu bisa punya pikiran seperti itu. Kamu lihat Tania, kurang apa dia Al, baik, sabar, penyayang, lalu apa lagi yang kamu cari. Semua sudah ada pada Tania, kamu mau istri yang seperti apa lagi Al, jawab papa Al!" bentak pak Surya.


Aldi bersimpuh, dia memohon agar pak Surya mau memaafkannya.

__ADS_1


"Maafkan Aldi pa, Aldi telah melakukan dosa besar dengan Meri, Aldi hanya ingin bertanggung jawab pa. Maafkan Aldi pa..."


Mendengar ucapan Aldi, pak Surya langsung naik darah. Dia mengangkat tangannya dan berniat menampar Aldi, namun istrinya menghalanginya.


"Lepaskan papa ma, papa mau beri pelajaran sama anak kurang aj*r seperti Aldi ini. Bikin malu orang tua!"


"Sabar pa sabar...kamu juga Al, tega-teganya kamu melakukan ini semua sama Tania. Sesama perempuan, mama tau bagaimana perasaan Tania. Kamu sudah mengecewakan kami semua Al. Apalagi kalau papa Tania masih ada, mama tidak tidak bisa bayangkan bagaimana perasaannya, melihat anaknya diperlakukan seperti ini," Bu Rima menangis tersedu-sedu. Hatinya hancur, dia tidak menyangka kalau anaknya bisa berbuat hal semacam ini.


"Sudahlah pa, ma. Tania tidak apa-apa, Tania baik-baik saja. Dan Tania juga sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin ini semua memang sudah takdir. Bagaimanapun juga, mas Al harus tetap bertanggung jawab, kasihan Meri, dia kini telah mengandung anaknya mas Al. Dia dan keluarganya pasti akan lebih malu dan terluka kalau sampai mas Al tidak mau bertanggung jawab. Kita ikhlaskan saja pa, ma. Tania percaya sama mas Al, kalau dia bisa membahagiakan Tania dan juga Meri,"


Papa dan mama Aldi memeluk Tania, mereka sangat terharu mendengar ucapan Tania, yang begitu sabar dan ikhlas menghadapi masalah rumah tangganya. Darah Jawa ibunya telah mengalir dalam tubuhnya, menjadikannya sosok wanita yang tabah, ikhlas dan nerimo.

__ADS_1


__ADS_2