
Sesampainya di rumah Meri, aldi pun langsung disambut dengan ocehan Meri yang sedari tadi menunggu kedatangannya.
"Kamu dari mana saja sih mas, pasti kamu dari rumah Tania kan. Bisa-bisanya ya mas kamu malah ke rumah Tania sedangkan kamu tau, aku baru saja melahirkan. Aku dan Farel sangat membutuhkanmu saat ini. Tania juga gak punya perasaan banget sih, tapi wajar, karena dia tidak tau bagaimana rasanya sehabis melahirkan. Kalian berdua sama saja," gerutu Meri yang membuat panas telinga Aldi.
"Bisa gak sih kamu gak selalu menyalahkan Tania, justru karena dia aku mau pulang kesini. Kalau bukan karena permintaannya, malas banget aku pulang. Karena aku udah capek dengar ocehan kamu yang gak masuk akal itu," jawab Aldi yang langsung keluar kamar.
Meri terlihat sangat marah mendengar ucapan Aldi, karena Aldi sudah terang-terangan membela Tania didepannya. Namun dia berusaha menahan emosinya, karena berusaha menjaga perasaan mama dan papa nya yang masih berada dirumahnya.
Aldi lalu menghampiri kedua orang tua Meri yang tengah duduk di ruang tengah sambil menimang cucu mereka.
__ADS_1
"Ada apa lagi sih Al, papa dengar kalian kok ribut terus sih. Harusnya kalian lebih harmonis, karena kalian telah diberikan seorang buah hati dalam pernikahan kalian,"
"Maafkan Aldi pa, sebenarnya Aldi juga tidak mau ribut dengan Meri. Tapi papa tau sendiri kan bagaimana Meri,"
"Iya, papa paham dengan sikap Meri yang seperti anak kecil itu. Suka marah-marah gak jelas. O iya, besok mama dan papa akan pulang ke Jogja, karena masih banyak pekerjaan papa yang belum papa selesaikan di sana. papa berpesan, jaga baik-baik Meri dan anak kamu. Papa berharap semoga kamu bisa menerima sikap Meri yang seperti itu,"
Paginya, kedua orang tua Meri sudah bersiap-siap kembali ke Jogja. Sebelum berangkat ke kantor, Aldi terlebih dulu mengantarkan mereka ke bandara. Keduanya terlihat sangat berat meninggalkan cucu pertama mereka yang baru lahir. Tapi karena pekerjaan yang menumpuk sudah menunggu mereka di Jogja, mau tidak mau mereka harus tetap meninggalkan cucu mereka.
"Jaga bayi kamu baik-baik Mer, dan jangan terlalu sering marah-marah, itu gak baik. Kasian suamimu sudah capek kerja, ngurusin kalian juga. Jadi jangan menambahi beban suamimu dengan sikap kamu yang manja itu, kamu mengerti kan Mer," ucap papa Meri tegas, pada Meri.
__ADS_1
"Iya pa," jawab Meri yang mungkin hanya dibibir saja, karena kenyataannya Meri tidak bisa menghilangkan sikapnya yang sering marah itu.
Sementara di rumah Tania, Tania juga sudah bersiap-siap berangkat ke butik. Wajahnya terlihat ceria, bi Surti yang merasa heran pun langsung bertanya.
"Tumben non, ceria banget hari ini. Ada apa sih non?" tanya bi surti penasaran.
"Gak pa-pa bi, Tania cuma lagi seneng aja. Karena sekarang mas Al sudah mempunyai buah hati yang selama ini dia rindukan. Tadinya Tania mengira kalau mas Al akan melupakan Tania, setelah dia mempunyai anak dengan Meri. Tapi benar kata bi surti, mas Al masih sayang dan peduli sama Tania. Dan itu yang membuat Tania bahagia sekarang ini bi,"
"Iya non, bibi juga sudah yakin kalau den Al itu sangat mencintai non Tania meski dia menjalin hubungan dengan non Meri. Syukurlah kalau non Tania dan den Al baik-baik saja, bibi ikut senang mendengarnya," ucap bi Surti yang menatap Tania penuh haru.
__ADS_1