DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 38


__ADS_3

Keesokan harinya, sepulangnya dari klinik, Meri terlihat cemas. Sambil duduk di kursi dia baca lagi surat keterangan dari dokter itu. Dan ternyata Meri memang benar-benar hamil. Dia menyandarkan kepalanya di kursi, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba perutnya kembali terasa mual. Dia lalu meletakkan surat keterangan dari dokter itu di atas meja, dan langsung berlari ke kamar mandi.


Tidak lama kemudian terdengar bel apartemen Meri berbunyi, keluar dari kamar mandi Meri langsung membukakan pintu.


"Tania!" sapa Meri yang kaget dengan kedatangan Tania.


"Aku sengaja kesini lagi Mer, karena aku kepikiran terus sama kamu. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Aku kesini cuma mau masti'in kalau kamu baik-baik saja, ni aku juga bawain makanan buat kamu,"


"Aku baik-baik aja Tan, ayo masuk. Makasih lho makanannya. Aku buatin minum dulu ya,"


"Oke..." jawab Tania yang kemudian duduk di kursi.


Tania melihat surat keterangan dokter yang tadi Meri letakkan di atas meja. Tania kemudian mengambilnya, karena dia yakin kalau itu pasti hasil pemeriksaan dokter. Dia ingin tau tentang penyakit Meri yang membuatnya tidak enak badan dan pusing beberapa hari ini.


Tania lalu membuka surat itu dan membacanya. Dan betapa terkejutnya dia mengetahui isi surat keterangan itu. Disitu tertulis kalau Meri positif hamil.

__ADS_1


Meri keluar membawa dua gelas minuman jus, dan dilihatnya Tania sedang memegang surat keterangan itu. Dia buru-buru meletakkan minuman di atas meja, lalu berusaha mengambil surat itu. Namun Tania tidak memberikannya.


"Ini apa Mer maksudnya? jawab Mer!" tanya Tania yang menatap tajam ke arah Meri.


"I...itu, itu," Meri terlihat kebingungan, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Tania.


"Jawab Mer! apa kamu beneran hamil?"


"I...iya Tan," Meri tidak bisa mengelak lagi dari pertanyaan Tania. Karena Tania sudah melihat sendiri buktinya.


Tania memeluk Meri, dia merasa kasihan pada Meri. Bagaimanapun juga Meri adalah sahabatnya yang sangat dia sayangi. Dia mengerti bagaimana perasaan Meri saat ini. Hamil diluar nikah tentu saja bisa membuat Meri stres dan panik.


"Sekarang katakan, siapa laki-laki yang sudah menghamili mu, aku akan menemuinya dan minta pertanggungjawabannya. Jawab Mer! siapa orangnya!" Tania menyentuh kedua bahu Meri dan menggoncang-goncang tubuhnya.


Meri masih tetap terdiam, justru tangisannya semakin menjadi.

__ADS_1


"Jawab aku Mer! jangan diam saja!" Tania sudah tidak sabar lagi ingin tau siapa yang telah melakukan ini semua pada sahabatnya.


Meri benar-benar tidak sanggup mengucapkan dengan kata-kata. Sementara Tania terus saja mendesaknya. Meri bersimpuh, kemudian memeluk kaki Tania.


"Maafkan aku Tan..." Meri meminta maaf kepada Tania sambil tangannya terus memeluk kaki Tania.


"Minta maaf? maksud kamu apa Mer?"


"Maafkan aku Tan... aku udah jahat sama kamu..."


Tania terdiam, beberapa saat kemudian barulah dia mengerti apa yang dimaksud Meri. Tania menyentuh kedua bahu Meri dan mengajaknya berdiri. Ditatapnya wajah sahabatnya itu, dan tidak terasa air mata Tania pun mulai berlinang.


"Jawab aku Mer, apa benar mas Al yang telah menghamili mu?"


Meri tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya mengangguk, dengan air matanya yang terus berlinang.

__ADS_1


"Apakah kalian saling mencintai?" Tanya Tania lagi, dengan air matanya yang juga terus berlinang. Meri kembali mengangguk, semua jawaban Meri terdengar di telinga Tania bagaikan suara petir. Hati Tania bagaikan diiris-iris ribuan pisau.


Tania benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat dalam hatinya. Dia harus menerima kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan dalam persahabatannya.


__ADS_2