
Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Simbok mengalami tekanan darah tinggi, yang membuatnya selalu merasa pusing dan gak enak badan. Tapi simbok tidak dirawat inap, dia hanya diberikan beberapa resep obat. Dan dokter memberikan anjuran agar menjaga pola makan sehat serta istirahat yang cukup.
Sepulangnya dari rumah sakit, Tania dan Aldi mengantar Simbok ke kamarnya. Aldi menyuruh Tania mengambil nasi untuk simbok.
"Nanti setelah makan langsung diminum ya mbok obatnya, biar cepat sembuh. Soalnya kalau mbok sakit kasihan Tania, dia sangat sedih."
"Iya den," jawab Simbok.
Tak lama kemudian, Tania masuk sambil membawa satu piring nasi dan segelas air putih.
"Terimakasih ya non, nak Aldi. Sudah bersedia merawat Simbok. Simbok Ndak bisa membalasnya, biar Allah yang membalas kebaikan kalian. Simbok do'akan semoga kalian berjodoh. Dan bisa hidup bahagia selamanya."
"Amin..." ucap Tania dan Aldi berbarengan.
"Simbok mau Tania suapin?"
"Ndak usah, biar Simbok sendiri,"
"Ya udah, Tania dan mas Aldi keluar dulu ya."
"Iya non."
Mereka duduk di ruang tamu, Tania terlihat muram. Aldi mendekati Tania, dia tau kalau Tania sedang sedih melihat simbok sakit. Karena selama ini Simbok lah yang sudah merawat dia sedari dia kecil sampai sekarang beranjak dewasa.
"Udah jangan sedih, setelah minum obat Simbok pasti sembuh." ucap Aldi sambil membelai rambut Tania.
Tania menyandarkan kepalanya di bahu Aldi.
__ADS_1
Aldi memeluk Tania sambil terus membelai rambutnya.
"Makasih ya mas udah bantuin Tania merawat simbok,"
"Iya sama-sama,"
"Mas Al gak pulang, udah sore banget nih,"
"Iya, tapi kamu gak pa-pa kan saya tinggal,"
"Gak pa-pa mas, aku baik-baik aja."
"Ya udah, aku pulang ya, kasih kabar kalau ada apa-apa."
"Iya " jawab Tania.
"Tania, ayo berangkat!" seru Meri dari luar.
Tania keluar, tapi dia masih memakai baju tidur.
"Lho Tan, kamu gak sekolah. kamu sakit?" tanya Meri
"Bukan aku yang sakit tapi simbok. Sebenarnya sudah mendingan, tapi kalau aku tinggal ke sekolah Simbok pasti sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Aku takut dia down lagi. Makanya aku ijin dulu sekolahnya, buat ngawasin simbok supaya dia benar-benar istirahat,"
"Iya kamu benar, kalau gitu aku cabut dulu ya. Salam buat Simbok, bye Tan."
"Bye Mer."
__ADS_1
Selesai shalat isya' Simbok langsung tidur di kamarnya. Sementara Tania tiduran di ruang tamu sambil membaca buku. Bel rumah berbunyi, Tania cepat-cepat membuka pintu, dia yakin itu Aldi. Dan memang benar itu Aldi, tapi malam ini wajah Aldi terlihat kesal dan cemberut.
"Lho, datang-datang kok mukanya ditekuk gitu, kenapa? mas Al ada masalah, cerita dong."
"Aku abis dimarahin papa, karena ketahuan bolos tadi siang,"
"Sukurin," ucap Tania.
"Lho kok bilang gitu sih, bukannya belain,"
"Yang benar saja, masak orang salah disuruh belain. Tania juga kalau punya anak bolos pasti Tania marahin. Karna menurut Tania, bolos sekolah itu sesuatu yang mencerminkan bahwa orang itu memiliki sifat tidak bertanggung jawab, tidak disiplin, dan menyia-nyiakan waktu. Tania gak suka ah kalau mas Al tukang bolos. Apalagi kita udah kelas tiga lho mas."
Aldi tidak marah, dia malah tersenyum manis mendengar Tania menasehatinya. Meski tadinya dia mengira kalau Tania akan membelanya dari papanya. Tapi ternyata selain cantik dan baik, Tania juga seorang gadis yang memiliki sikap bijaksana.
"Kenapa mas Al senyum-senyum, emang ada yang lucu?"
"Iya, soalnya aku lihat-lihat kamu udah kayak mamaku kalau lagi ngomelin aku,"
"Emang mama mas Al sering ngomel ya?"
"Enggak juga, malahan papa yang sering ngomel. Kalau mama lebih suka belain aku. Maklum anak semata wayang."
"Mama mas Al orangnya gimana sih?"
"Dia ibu terbaik yang aku punya di dunia ini. Nanti kapan-kapan aku kenalin ya sama mama. Dia pasti senang ketemu calon menantu." ucap Aldi yang membuat Tania sedikit malu.
Tania tersenyum mendengar ucapan Aldi. Dia berfikir, betapa bahagianya seandainya dia bisa memiliki seorang ibu. Karena selama ini dia sangat merindukan kasih sayang seorang ibu.
__ADS_1