
Aldi sedang menggendong Farel, sementara Meri sibuk mencoba baju baru nya yang baru saja dia beli di mall tadi siang. Sebagai model yang paling utama diperhatikan Meri adalah penampilannya. Dia rela merogoh kantongnya habis-habisan hanya untuk memenuhi kebutuhannya mempercantik diri. Karena dia tidak mau kariernya redup hanya karena kalah bersaing dalam penampilan.
"Mas, besok q ada pemotretan sehari penuh. Mungkin aku pulang agak telat dikit. Gak pa-pa ya,"
"Memang gak bisa ya kamu kerjanya setengah hari saja, atau paling tidak jangan pulang malam lagi. Kamu gak kasihan sama Farel?"
"Ya kasihan mas, tapi mau gimana lagi, aku gak bisa sesuka hatiku dong mas. Aku harus profesional,"
"Terserah kamu lah," ucap Aldi.
Aldi tidak bicara lagi, karena percuma juga dia melarang Meri. Meri tidak akan menurutinya. Karena bagi Meri karier adalah segalanya baginya.
Paginya, Aldi berangkat lebih dulu ketimbang Meri. Karena dia ada rapat penting dengan beberapa pemilik perusahaan yang berkerja sama dengan perusahaannya. Seperti biasa, dia mencium Farel terlebih dulu sebelum berangkat. Namun sepertinya suhu badan Farel terasa agak panas. Aldi mengira mungkin karena dia yang dingin usai mandi. Sehingga dia tidak terlalu khawatir dengan keadaan Farel.
__ADS_1
Sesudah Aldi berangkat, menyusul Meri yang juga sudah siap berangkat. Meri pun mencium Farel terlebih dulu, dan langsung pergi meninggalkannya.
"Aku berangkat dulu Siti, jaga Farel baik-baik," ucap Meri pada Siti.
"Iya non," jawab Siti.
Sekitar pukul sepuluh pagi, seperti biasa Siti membuatkan susu untuk Farel dan memberikannys sambil memangku nya. Namun Siti terlihat sangat panik, mendapati tubuh Farel yang sangat panas. Dia pun buru-buru menelpon Meri, namun Meri tidak mengangkatnya. Siti kemudian menelpon Aldi, dan Aldi pun tidak mengangkatnya, pastilah Aldi belum selesai rapat.
Begitu mendengar kabar kalau Farel panas, Tania langsung buru-buru menuju ke rumah Meri dengan menggunakan taksi, karena terlalu lama kalau harus menunggu mang Didik menjemputnya.
Sesampainya di rumah Meri, Tania langsung masuk ke dalam dan memeriksa Farel. Dan benar saja, tubuh Farel memang sangat panas. Tidak pikir panjang, Tania langsung membawa Farel ke rumah sakit terdekat dengan diantar taksi yang mengantarnya tadi.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter langsung memeriksanya. Sementara Tania yang menunggu diluar, berusaha menghubungi Aldi. Dan Aldi yang baru selesai rapat baru mengangkat telepon Tania.
__ADS_1
"Ada apa sayang, tadi juga ada panggilan dari rumah. Tapi aku gak sempat mengangkatnya. Karena aku tadi memang sedang sibuk,"
"Farel dirumah sakit mas, aku yang membawanya,"
"Apa? Farel dirumah sakit. Memang ada apa dengan Farel sayang, Farel kenapa?"
"Tenanglah dulu mas, Farel badannya sangat panas. Dokter sedang memeriksanya. Kalau mas Al dah gak sibuk, mas Al buruan kesini,"
"Iya, aku akan segera ke sana. Aku juga sudah selesai rapatnya,"
Aldi menutup telponnya dan langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, terlihat Farel sedang terbaring dengan keadaan yang terlihat lemas. Sementara Tania duduk disebelahnya, sambil terus membelainya.
Aldi pun langsung mencium putranya, dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada putra kesayangannya. Dia merasa kalau dia telah mengabaikan putranya. Harusnya dia tau, kalau putranya sedang tidak sehat sejak tadi pagi, saat dia merasa ada yang beda dengan suhu badan putranya. Namun dia dan Meri justru malah sibuk mengurusi pekerjaan mereka masing-masing, tanpa mempedulikan putranya Farel.
__ADS_1