DERITA TANIA

DERITA TANIA
PART 40


__ADS_3

Tania terus berlari keluar menuju ke jalan. Mang Didik yang dari tadi menunggu Tania diparkir langsung mengejar Tania, saat melihat Tania sedang berlari ke arah jalan.


"Non Tania, tunggu!" teriak mang Didik sambil terus mengejar Tania.


Tania berhenti, dia menyuruh mang Didik pulang lebih dulu.


"Mang Didik pulang aja duluan, Tania masih pengen sendiri,"


Tania kemudian menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat di depannya. Dia buru-buru masuk dan pergi meninggalkan mang Didik.


Didalam mobil Tania masih terus berlinang air mata. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Suami dan sahabat yang sangat dia sayangi tega menjalin hubungan dibelakangnya, sampai sejauh ini.


"Maaf mbak, mbak nya mau kemana ini?" tanya supir taksi.


"Ke kebun binatang depan sana pak," jawab Tania.


Tania sengaja pergi ke kebun binatang, tempat dimana dia dan ayahnya dulu sering pergi ke sana, saat dia masih kecil. Sesampainya di tempat tujuan, Tania melangkah perlahan. Dipandanginya sekeliling tempat itu, sambil sesekali menarik nafas panjang.

__ADS_1


Tania mencoba mengingat kembali, masa-masa indah dan bahagia bersama papanya. Tania menuju sebuah pohon besar, lalu dia duduk di sebuah kursi yang berada tepat di bawah pohon itu. Didekat pohon itu nampak beberapa hewan panda yang berada di dalam pagar besi. Hewan yang dulu paling sering dia temui saat datang ke tempat ini.


Air mata Tania semakin berlinang, membasahi kedua pipinya. Dia usap air matanya dengan kedua tangannya.


"Papa... lihatlah Tania pa, Tania sangat menderita... Tania ingin ikut mama dan papa, Tania tidak sanggup hidup sendiri pa...mas Al telah menyakiti Tania pa, apa yang harus Tania lakukan, tolonglah Tania pa...ma..." ucap Tania lirih, seakan dia ingin meluapkan segala kesedihannya.


Tiba-tiba datang seorang lelaki tua yang kemudian memberikan sebuah sapu tangan kepada Tania. Tania pun mengambil sapu tangan itu, lalu memakainya untuk mengusap air matanya.


"Terimakasih pak, bapak siapa?" tanya Tania sambil memperhatikan orang itu.


"Saya Tania pak" ucap Tania.


"Saya perhatikan kamu sedang banyak masalah nak. Kalau nak Tania ingin cerita, tidak apa-apa nak, cerita saja. Siapa tau bapak bisa memberi arahan atau masukan yang mungkin bisa mengurangi beban nak Tania,"


Mendengar ucapan pak Mulya, Tania merasa seperti sedang bersama ayahnya. Mungkin pak Mulya memang sengaja dikirimkan Tuhan untuk membantu menenangkan hatinya. Dan seperti air yang mengalir, Tania menceritakan semua yang dia alami. Dan pak Mulya mendengarkan keluhan Tania dengan sabar dan penuh simpati.


"Dengarkan Bapak nak, dalam Islam memang dibolehkan jika suami ingin menikah lagi, asalkan dia bisa bersikap adil kepada istri-istrinya. Tapi semua kembali kepada nak Tania, kalau nak Tania masih bimbang apa yang harus dilakukan. Baiknya nak Tania mendekatkan diri kepada Allah SWT, berdo'a, mohon petunjuk dan jangan malah menghindar dari masalah. Hadapi semua dengan ketabahan, keikhlasan, dan kesabaran. Insyaallah nak Tania bisa mendapatkan jalan keluar dari masalah-masalah nak Tania,"

__ADS_1


Tania mengangguk, hatinya kini terasa lebih tenang. Dan air matanya pun berhenti menetes. Dia seperti merasakan kehadiran papanya dalam sosok pak Mulya. Tidak lama kemudian cucu pak Mulya yang masih berusia tiga tahun itu menghampiri mereka.


"Kek, ayo kita pulang. Lala dah capek, Lala ngantuk pengen bobok,"


"Iya sayang, ayo kita pulang. Tapi pamit dulu sama Tante ini. Namanya Tante Tania,"


"Tante Lala pulang duluan ya," ucap Lala sambil mencium tangan Tania.


"Iya Lala sayang... " jawab Tania sambil mencium kedua pipi Lala.


Tania lalu memandang pak Mulya dengan penuh rasa haru.


"Terimakasih pak, atas semua nasehat dan arahan yang Bapak berikan. Itu semua sangat berarti bagi saya. Dan terimakasih juga telah bersedia mendengarkan keluh kesah saya. Meski bapak tidak mengenal saya.


"Iya sama-sama nak, jadilah istri yang Sholehah untuk mendapatkan surganya Allah. Bapak duluan ya, jaga diri kamu baik-baik."


"Iya pak" jawab Tania sambil menjabat dan mencium tangan pak Mulya.

__ADS_1


__ADS_2