
Meri baru saja pulang dari Bali, sesampainya di apartemen dia langsung menghubungi Aldi. Namun berkali-kali ditelpon Aldi tidak juga mengangkat teleponnya.Yang jelas membuat Meri merasa kesal dan takut.
Kesal karena dia sudah sangat merindukan Aldi, sementara Aldi tidak mau mengangkat teleponnya. Dia merasa sepertinya Aldi tidak merindukannya. Sehingga muncullah perasaan takut, takut kalau tiba-tiba Aldi telah berpaling darinya dan berusaha menjauhinya.
Meri merasa tidak tenang, dia benar-benar takut kehilangan Aldi. Tiba-tiba handphonenya berbunyi, dia langsung melihat handphonenya, dia berharap kalau itu Aldi yang menelpon. Ternyata itu telpon dari mamanya di Jogja.
Mamanya memberi tau kalau ayah Tania telah meninggal. Selain kedua keluarga itu tetangga yang baik, mereka juga sudah seperti keluarga. Meri sangat sedih, karena bagi Meri Om George adalah orang yang sangat baik, dan juga ramah. Namun yang membuatnya lebih sedih adalah sahabatnya Tania. Dia tau bagaimana perasaan Tania saat ini.
__ADS_1
Namun hatinya juga sedikit tenang, karena sekarang dia tau kenapa Aldi tidak mengangkat teleponnya. Usai menutup telponnya Meri langsung pergi mandi, dia berencana pergi ke rumah Tania. Dia ingin memastikan bagaimana keadaan sahabatnya itu.
Sesampainya di rumah Tania, Meri langsung membunyikan bel rumah. Bi Surti buru-buru menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu, namun dilihatnya Aldi sudah lebih dulu membukakan pintu. Bi Surti penasaran siapa yang datang malam-malam begini. Dia pun mengintip dari balik pintu. Dan ternyata itu Meri, bi Surti langsung memperhatikan gerak gerik mereka. Karena dia masih penasaran dengan hubungan mereka.
"Meri!" ucap Aldi yang terlihat kaget dengan kedatangan Meri.
"Tania baik-baik saja. Dia ada di kamar. Maaf ya aku gak angkat telepon kamu. Kamu tau sendiri bagaimana keadaannya sekarang. Aku dan Tania masih dalam keadaan berduka. Jadi gak pa-pa ya kalau untuk sementara ini kita jaga jarak dulu. Kamu mengerti kan maksud ku?" Aldi mencoba meminta pengertian Meri, karena dia tau kalau Meri pasti merasa kesal saat telponnya tidak dia angkat.
__ADS_1
"Iya mas, aku bisa memakluminya kok. Mas Al tenang saja, aku gak pa-pa kok. Tapi jujur saja, sebenarnya aku sangat merindukanmu mas."
"Kalau soal itu sama, aku juga sangat merindukanmu. Tapi dengan kedatangan mu kesini, itu sudah bisa sedikit mengobati rasa rindu ku sama kamu." ucap Aldi yang membuat Meri tersenyum dengan penuh perasaan senang.
Aldi lalu mengajak Meri masuk. Dan dengan menggandeng tangan Meri, Aldi mengajak Meri menuju ke kamar untuk menemui Tania. Sementara bi Surti yang dari tadi mengintip mereka semakin merasa yakin kalau ada hubungan diantara mereka. Apalagi melihat Aldi menggandeng mesra tangan Meri. Itu menunjukkan kalau ada hubungan spesial di antara keduanya.
"Kasihan non Tania kalau sampai non Tania tau, apa yang dilakukan suami dan sahabatnya di belakangnya." gumam bi Surti yang merasa kasihan pada Tania. Sementara bi Surti sendiri bingung, apa yang harus dia lakukan. Ingin diam saja dan pura-pura tidak pernah mengetahui apa-apa, tapi dia kasihan sama Tania.
__ADS_1
Ingin memberi tau pada Tania tapi dia tidak ada keberanian untuk mengatakannya. Karena dia merasa tidak pantas ikut campur urusan mereka dengan pekerjaannya yang hanya seorang asisten rumah tangga. Dan dia juga sangat takut kalau itu malah akan menjadi masalah besar untuk nya.