Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Meninggalkan Rumah Sakit


__ADS_3

MALAM HARI


Karena Kasih tak kunjung pulang membuat Abdi terlewat panik, tadi saat Nathan pulang Abdi hanya melihat Rehan saja yang bersamanya, Abdi bertanya kepada Nathan. "Dimana Kasih? Kenapa dia tidak pulang bersama mu?" Namun Nathan menjawab bahwa, Kasih lebih dulu pulang darinya seketika detik itu Abdi kembali panik sudah berjam-jam Kasih pergi dan sekarang belum pulang.


Mereka berada di ruang tamu Abdi duduk bersama Nenek, wajah mereka terlihat sangat panik. Nathan juga terlihat kawhatir ia berfikir, coba saja dia tidak mengusir Kasih tadi siang, pasti Kasih sudah pulang dari awal. Abdi juga sudah menyalahkan Nathan sebagai suami lalai.


Sedangkan tiga penyihir terlihat sangat bahagia, mereka berharap Kasih benar-benar hilang dan otomatis anak itu tidak akan pulang lagi ke rumah mereka, memang dari awal itu yang diinginkan mereka, kepergian Kasih adalah sebuah harapan terbesar bagi tiga penyihir.


DI RUMAH SAKIT


Pemuda itu tertidur di kursi sebelah kasur, dimana Kasih masih terbaring di atas kasur, sang pemuda memendam wajah di atas tumpukan tangannya. Keadaan Kasih sepertinya cukup parah, beberapa perban membalut di area kepala sikut serta lutut. Semoga dia tidak amnesia seperti di sinetron.


"Emm." Kasih tersadar dari pingsannya, pelan-pelan ia membuka mata ia menatap sekeliling ruangan itu, ia mengucek mata. Sepertinya dia tidak berada di kamar Nathan tapi di ruangan rumah sakit.


ia melihat tiang infus berdiri di atas kepalanya, lalu ia mengangkat tangan kirinya. Sebuah jarum di sambung selang infus menjalar di area tangannya, pelan-pelan tubuhnya di gerakan, tapi rasanya sangat berat, rasa denyutan juga menusuk di sel-sel saraf nya. Kasih merasa bingung mencoba mengingat memorinya yang sedikit hilang, ia mencoba duduk secara perlahan tapi pasti, lalu ia menoleh ke kanan. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok pria tertidur disitu, ia sedikit menunduk melihat pria asing itu tertidur.


Sedikit lagi Kasih berhasil mengintip wajahnya, namun sang pemuda langsung terbangun saat merasakan goncangan kasur, pemuda tersebut mengangkat kepalanya menatap Kasih, lehernya terasa sakit jadi terasa nyeri saat diangkat.


"Agghh." Kasih berteriak saat melihat pria tampan itu, bukan terkejut karena melihat ketampanannya, melainkan kasih terkejut siapa pria asing itu. Ia melihat Kasih ketakutan segera menyadarkan diri. Setelah nyawanya terkumpul sempurna ia langsung berdiri.


"Bagaimana keadaan anda nona?" dia menatap tubuh Kasih seraya memastikan keadaannya.


Kasih memandang tubuh pria asing tersebut dari atas hingga bawah, dia masih belum bisa mengingat apapun. "Anda siapa? Kenapa saya ada disini?" Kasih bertanya secepat kilat.

__ADS_1


"Saya tadi yang menabrak anda dan keadaan anda sangat parah, jadi terpaksa saya bawa anda kerumah sakit." jelasnya.


Kasih terdiam sebentar mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, sebuah memori ingatan kembali ke otaknya. Memori itu memainkan flashback di kepalanya, detik-detik saat ia ketabrak Kasih pun langsung sadar.


"Sudah berapa lama saya tidak sadarkan diri?" kasih menatap pria itu.


"Dari siang." jawabnya.


Dia menyentuh matanya, tak ada kacamata disitu. Kasih memutar kepala mencari kacamata sang pemuda mengikuti setiap lirikannya, Kasih sembari mencari tau apa yang Kasih cari.


Kacamata itu terletak di atas meja, dengan cepat di raih oleh Kasih. Namun tangannya tak sampai meraih kacamata segera di bantu oleh pria itu. Kasih pun memakai kacamata nya kembali.


"Sekarang pukul berapa?" Kasih mencari jam yang ada di setiap sudut.


Dia mengangkat tangan melihat arlojinya.


Astaga matilah aku, pasti Tuan muda sudah pulang.


Aku harus cepat pulang kalau tidak nanti dia akan memarahi ku. batin Kasih.


Kasih mencabut jarum yang tertancap di tangannya, jarum yang tersambung oleh selang infus itu ia lepaskan. Rasanya itu tak sesakit dengan kemarahan Nathan, ia menatap Kasih dengan aksinya, usai semua peralatan medis itu tercabut dari tubuhnya, Kasih menjatuhkan kaki ke lantai.


Tubuhnya yang masih sempoyongan di tangkap oleh pria itu. "Anda mau kemana nona?" tubuh Kasih berada dalam pelukannya.

__ADS_1


Kasih berulang kali ingin tumbang namun ditahan. " Saya harus pulang." Kasih melepaskan tubuhnya dari pelukan pria itu.


"Tapi anda masih terluka, sebaiknya anda istirahat kembali." ia menarik tubuh Kasih kembali ke kasur, namun Kasih mendorong tubuhnya.


Kasih terlepas dari dekapannya. " Saya harus pulang." Kasih memutar tubuh.


Dia mencoba menghentikan Kasih, namun Kasih tak perduli, ia melangkah pelan menuju pintu. Semakin ia mendekati Kasih, semakin pula Kasih menjauh darinya. Kasih berjalan pelan-pelan, ia berhasil meraih rangka pintu lalu melangkah keluar. Kasih berjalan dalam langkah pincang nan berat.


"Nona tunggu." ia masih saja memanggilnya.


Kasih berjalan di setiap lorong rumah sakit, ia meraba setiap dinding demi dinding sebagai tongkat perjalanan, tubuhnya masih terbalut perban, juga rasa sakit belum menghilang dari tubuhnya. Kasih mencoba keluar ia tak mau turun menggunakan lift jadi dia memilih turun menggunakan tangga darurat, lagipula mereka berada di lantai tiga jadi anak tangga tak begitu panjang untuk di lewati, tubuhnya yang terasa sempoyongan pelan-pelan ia bawa menuruni anak tangga. Pemuda baik hati tadi berjaga-jaga di belakang, ingin sekali ia menyentuh Kasih dan membawanya kembali dengan secara paksa, namun ia tak berani menyentuh Kasih.


Tiba di lobby, Kasih berdiri di tengah-tengah ia menatap jam yang terpampang lebar didinding, dengan keadaan seperti itu beberapa pasang mata terus memperhatikan nya. Kasih berdiri, pandangan nya juga samar-samar ia harus cepat pulang ia melangkah lagi menuju pintu keluar.


Saat sudah sampai ke teras rumah sakit, Kasih mencari kendaraan yang akan ia tumpangi. Ketepatan sekali ada sebuah taksi yang sedang menganggur. Si driver pun menawarkan diri tanpa di pesan terlebih dahulu, pelan-pelan Kasih masuk kedalam mobil, pemuda tadi kembali mencegah kepergiannya, namun Kasih menolaknya alhasil Kasih sudah terlepas dari cegahan nya.


Aneh, kenapa wanita itu terburu-buru pergi dalam keadaan terluka?


Padahal aku belum sempat berkenalan denganmu. Hihihi ternyata dia lumayan cantik sedang tidur. batinnya.


Pria itu memperhatikan mobil taksi yang sudah membawa kasih menjauh, hari yang semakin malam membuatnya semakin mengantuk, jadi ia putuskan untuk pulang saja, ia berjalan ke tempat ia memarkir mobil tadi siang.


TIBA DI RUMAH

__ADS_1


Kasih turun dari taksi, ia berhenti tepat di depan rumah dan beruntungnya pria tadi tidak lagi mengejarnya. Kasih berjalan melewati gerbang utama, ia memegang semua benda yang ada di sana, Kasih berjalan ke gerbang selanjutnya, ia berusaha keras sekuat tenaga agar bisa cepat sampai ke garis finis, tak peduli betapa capek dan sakit ia tetap berusaha.


BERSAMBUNG.


__ADS_2