Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Tawaran


__ADS_3

Hari itu restoran tempat Kasih bekerja laku keras jadi pulangnya lebih cepat dari hari yang lalu sekarang sudah menunjukkan pukul 16:48 sore,Kasih juga sudah tak sabaran mau pulang tangannya terlalu ligat mengilap meja.


Matahari begitu terik hari ini bahkan sampai jam segini matahari masih berada di tempatnya dengan memancarkan sinar yang begitu panas menerangi ibukota dan memanaskan isi bumi.


Permisi.!


Suara seorang pria terdengar dari arah pintu Kasih tak melihat siapa yang datang karena ia sibuk mengilap meja,ia tak mau berlama-lama karena ingin cepat pulang sang pria memanggil lagi.


"Maaf restorannya sudah tutup.!" ia menolak.


Kasih berbicara tanpa berpaling kebelakang tak mau melihat pria itu dia tetap sibuk mengilap meja sampai kinclong,pria itu memanggil lagi namun jawabannya tetap sama dan pria itu tak mau pergi malah tetap berdiri disana.


"Apakah ada Nona Kasih.?" pria itu bertanya.


Kasih menghentikan aktivitasnya bila mendengar namanya di ucapkan lalu sedikit mengingat suara pria tersebut,dia segera berbalik badan menghadap pria yang mencarinya dan dia terkejut sesudah melihat Dilan berdiri di hadapannya sejauh beberapa centimeter,wajah Dilan terlihat cerah akibat imbas cahaya matahari yang semakin menunjukkan ketampanannya.


"Tu,Tuan Dilan.!" Kasih menyender di meja dan kedua tangannya ia cakup di sisi meja dengan rasa gugup.


"Maaf sudah mengganggumu,boleh kita bicara sebentar.?" meminta ijin dengan sopan.


"Ti,tidak apa-apa Tuan,sil,silahkan duduk disini Tuan." Kasih menggeret kursi di dekatnya untuk mempersilahkan Dilan duduk.


Dilan melangkah diiringi senyuman hangat,ia duduk di kursi yang telah Kasih siapkan untuknya,Kasih menawarkan ia minuman tapi ditolak lalu ia menyuruh Kasih duduk di samping kirinya untuk berbincang sebentar.


"Tuan mau bicara apa.?" Kasih mengucapkan kata pembukaan merasa penasaran akan tujuan Dilan yang menemuinya.


"Apa kamu betah bekerja disini.?" bukannya menjawab pokok pertanyaan Kasih ia malah balik bertanya tentang itu.

__ADS_1


Kasih yang memutar badan menghadap Dilan seraya terkekeh kecil seraya menutup mulut dengan tangan kanan. "Ya kalau mau mencari uang mana ada kata betah atau tidak betahnya Tuan." melepas tangan dari mulut tertunduk sedikit.


Dilan juga terikut senyum mengelus tengkuk leher. "Berapa gajimu.?" bertanya secara langsung.


Pertanyaan itu mengagetkan Kasih dia menatap wajah Dilan lekat-lekat pertanyaan apa ini bukankah itu termasuk hal privasi,


Dilihatnya wajah Dilan untuk mencari tanda kejahatan tapi ia tak menemukan hal yang dia fikirkan, dengan ikhlas ia menjawab pertanyaannya sudah mendengar Dilan pun mengangguk tersenyum lebar.


"Begini maksud kedatanganku,Aku ingin menawarkan pekerjaan untukmu." Dilan berbicara dengan nada pelan sedikit menunduk mendekati wajah pada Kasih takut jika kedengaran oleh para karyawan ataupun pemilik restoran.


Kasih mendengar ucapan Dilan merasa tak karuan. "Pekerjaan apa.?" ia ikut berbicara pelan.


"Perusahaan pertelevisian kami akan membuat sebuah iklan produk minuman,


tapi masalahnya sampai saat ini kami belum mendapatkan Artis untuk membintanginya, jadi Aku fikir anda cocok membintangi iklan tersebut maka dari itu tujuanku menemui anda untuk menawarkan pekerjaan ini." Penjelasan ringkas sangat jelas refleks membuat Kasih sedikit kaget.


Dilan mengelus pahanya akibat pukulan Kasih yang terasa agak kuat hingga menyisakan rasa perih lalu ia menjawab dengan wajah menyedihkan. "Aku serius dan tidak sedang bercanda jika Kamu mau saya akan merasa bersyukur,tapi jika Kamu tidak mau juga tidak masalah aku akan menawarkan ini kepada orang lain saja,tapi tolong mau ya." sepertinya Dilan cepat putus asa.


Kasih berhenti terkekeh mendengar bujukan sekali lagi. "Anda serius Tuan.?" meyakinkan sekali lagi Dilan pula menjawab. "Serius Nona.!"


Sebenarnya bosen sekali Ia harus menjawab pertanyaan yang sudah susah payah ia jelaskan tapi wanita itu terus saja bertanya, tidak mengapa berjuang itu memang tidak mudah.


Kasih memutar pandangan sekeliling restoran. "Tapi saya kan masih bekerja disini Tuan." Ia tak enak jika bekerja ditempat orang lain lalu Dilan menjawab lagi. "Andakan bisa cuti sementara Nona." memberi usul yang terbaik.


Lagi-lagi Kasih seperti orang bodoh yang kebingungan. "Nanti gaji saya dipotong." Kasih sangat takut karena sepengetahuan nya cuti di luar peraturan bisa kena potong gaji.


"Aku akan ganti seberapa besar gaji Kamu yang dipotong." Dilan semakin tak tahan berbicara pada wanita yang terlalu lugu,ia juga merasa risih dengan penampilan Kasih yang udik culun kampungan karena ini awal pertamanya ia melihat gadis seudik Kasih.

__ADS_1


"Memangnya sebesar apa gaji yang saya dapatkan perbulan.?" jual mahal sedikit bolehlah.


"Kisaran sepuluh juta jika lakon Kamu sudah benar-benar baik,tidak perlu menunggu satu bulan karena satu hari saja kamu sudah mendapatkan keuntungan." ia menatap Kasih agar wanita itu bisa paham.


Wahhh,sepuluh juta itu benarkan.;; Batin Kasih. "Anda bohong kan.?" masih tak percaya. "Tidak Nona" ingin sekali Dilan menarik kunciran rambut Kasih yang berbentuk lipan.


"Tapi saya fikirkan dulu ya Tuan." masih bimbang ingin setuju atau tidak.


Dilan membuang muka menatap meja kosong yang lain ia merasa kesal sekian lamanya ia menjelaskan dan menghabiskan waktu untuk membujuk nyatanya menerima jawaban fikirkan dulu,ia mengerutkan dahi menatap wajah jelek Kasih.


"Sebenarnya kami sudah tidak punya waktu panjang jadi jika tidak setuju tidak apa-apa, Menunggu Kamu berfikir bisa-bisa kami kehabisan waktu." Dilan sudah putus asa bosen meyakinkan Keputusannya.


Kasih refleks berdiri saat melihat Dilan ngambek beranjak kasar dari duduk. "Tuan tuan sa,saya bilangkan bukan tidak setuju tapi beri waktu berfikir dulu,jangan marah." Kasih menarik tangan kanan Dilan saat ia mau melangkah pergi.


"Nona jika Kamu tidak mau ya sudah aku tidak memaksa." ia melepaskan tangan Kasih.


Kasih menarik lagi tangan Dilan karena ia juga tak mau menolak penawaran terbaiknya. "Tuan saya mau tapi saya harus meyakinkan diri dulu." bermohon agar Dilan tak merajuk.


Dilan merogoh saku mengambil dompetnya lalu ia memberikan sebuah kartu kepada Kasih. "Baiklah kamu boleh berfikir dulu, Kalau sudah yakin dengan apapun keputusan kamu hubungi nomor ini,jangan lewat satu hari."


"Baik Tuan saya akan memberi tau anda nanti." Kasih mengambil kartu nama tersebut dengan penuh kegirangan.


"Aku permisi dulu,senang bertemu dengan Kamu.!" Dilan mengulurkan tangan. "Terimakasih tuan sampai jumpa lagi.!" Kasih membalas jabatan tangan itu.


Dilan keluar dari restoran Kasih beridiri terpingkal bahagia dia tidak menyangka akan mendapatkan durian runtuh secara tiba-tiba,dia memegang kartu nama dengan mata berbinar-binar,itu sebuah tawaran yang tak dapat ditolak dia bisa di sebut gula jika saja menolaknya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2