
Pukul 12:30 waktunya makan siang semua orang masih sibuk di studio,perut Kasih sudah mulai keroncong sedari tadi dia memegang perut menahan lapar.
Kasih duduk diatas sofa sambil memegang buku tebal bertajuk tentang kesuksesan,Dilan pergi entah kemana jadi dia duduk disana bersama Nathan dan Rehan namun dari ketiganya tak ada satupun yang berbicara. Nathan sibuk memainkan ponsel Rehan pula sibuk melamun sendiri memikirkan hidup dan Kasih sibuk membolak-balik halaman buku tanpa di baca satu bait pun.
Sesekali Nathan curi-curi pandang dengan Kasih Rehan tau apa yang membuat Nathan tersenyum sendiri yaitu karena Kasih ada dihadapannya,ia merasakan sedikit ada aura panas kalau berada diantara Kasih dan Nathan.
"Waktunya makan siang." teriak gemuruh beberapa orang yang baru datang.
Dilan bersama rekan tim membawa puluhan kresek yang berisi kotak makanan,kresek diangkat keatas seraya menunjukkan pada semua orang.
Dilan berjalan menuju sofa dan rekan tim pergi memberikan makanan pada yang lain.
"Ayo makan."
Dilan menaruh semua bungkusan keatas meja sembari menawarkan kepada mereka yang ada, ia juga memanggil tim yang masih sibuk bekerja agar makan siang dulu bersama-sama.
Semua sudah berkumpul mengambil makanan satu persatu saling berebutan,semula Kasih hanya diam terpaku segan ingin mengambil lain halnya dengan Nathan yang sudah duluan mengambilnya bahkan dua kotak sekaligus.
Nathan memegang kotak itu lalu beralih duduk kesamping kanan Kasih. "Ini." ia menyodorkan kotak tersebut untuk Istrinya. "Jangan sok malu-malu." ia menyambung ucapannya.
Kasih melihat Nathan dengan pandangan kosong tangannya ia gunakan untuk mengambil kotak,Kasih menunduk kala memegang kotaknya ia melihat makanan lokal yang sangat cocok menu makan siang hari ini.
Dilan duduk disebelah Kasih juga memegang makanan lalu ia buka. "Makanan ini enak sekali ya, apalagi makan bersama wanita cantik." ia mengunyah makanan sambil berbicara dan tak tau pada siapa.
Nathan berhenti mengunyah makanan bila mendengar ucapan Dilan yang ia rasa bertujuan menggoda Kasih,Rehan juga merasakan hal yang sama dengan Tuan mudanya.
Apa yang dia maksud wanita itu adalah Kasih,aaa, Iyakan yang makan disini hanya ada satu wanita yaitu istriku,genit sekali kadal ini.;; batin Nathan.
Nathan hanya membalas dengan senyuman yang jarang ia tampilkan, matanya terus saja melirik Dilan dan Kasih yang asyik saling membagi makanan ingin sekali ia sepak kedua orang itu sampai mental ke planet mars.
Sekertaris Rehan juga berhenti mengunyah gara-gara melihat keakraban dua orang tersebut,kali ini aura suasana lebih panas dari beberapa menit lalu ia rasa Dilan sudah kelewatan batas apalagi ia benci pemandangan yang memanaskan jiwa raganya saat ini.
Dasar pria buaya apa yang kau lakukan heh, menjauhlah dari wanita itu atau aku akan menghajarmu.;; batin Rehan. ada dua api yang membara disitu satu api milik Nathan dan satu milik Rehan.
__ADS_1
Kasih sudah selesai makan baru tiga pria itu juga selesai mereka menaruh kotak keatas meja, sebungkus tissue ludes digunakan untuk membersihkan mulut akibat noda makanan sejenak mereka santai dulu disitu.
"Apa yang kamu baca.?" Dilan bertanya saat melihat sebuah buku ada dipangkuan Kasih.
Tiga pasang mata memperhatikannya dan ia pun bergerak ingin menunjukkan buku tersebut tapi belum sempat menjelaskan bukunya sudah direnggut oleh Dilan,pria itu sangat agresif hingga berani melengket untuk mengambil langsung buku tersebut yang masih berada di dekat area sensitif Kasih.
Hey berani sekali dia melakukan itu dihadapan ku,dasar brengsek kau tidak punya sopan santun ya aku ini suaminya.;; batin Nathan menggerutu kesal.
Kau itu semakin kurang ajar ya, berani sekali kau melakukan hal itu.;; batin Rehan.
Sangking merasa panas mereka ingin mencegah pergerakan Dilan,Rehan dan Nathan separuh berdiri ingin menggebuk si Dilan tanpa tau apa maksud Dilan.
"Hey ada apa dengan kalian? aku hanya ingin mengambil buku ini.!" ia menunjukkan buku.
Rehan dan Nathan membuang nafas merasa tidak tenang mereka menghempas bokong ke sofa,Nathan mendekatkan jarak hingga ikut menempel ketubuh Kasih.
Dilan bukannya menjauh menyadari sikap tapi malah semakin melekat dengannya.
Nathan semakin panas. "Jangan kegenitan." ia berbisik kekuping Kasih.
Kasih menahan semua rasa sesak nafas kian tubuh Nathan semakin mendekat di tambah lagi tubuh Dilan yang membuat ia tak bisa bergerak.
Aaahh Tuhan kenapa aku melihat mereka seperti ini, kenapa aku jadi panas begini sih melihat mereka mendekati Kasih.;; batin Rehan.
ia menatap sinis antara dua orang pria yang terus melekat dengan Kasih dan berhasil membuat ia kepanasan.
🎼"~Aku membencimu seperti iniiii." Nathan menyanyi tanpa irama tapi seperti menyindir seseorang.
Rehan terbahak geli mendengar suara Nathan ia tau apa maksudnya.
"Bagus sekali Kasih Kamu membaca ini agar kamu semakin pintar mencari kesuksesan." Dilan menyentil cover sampul buku.
"Aaa iya kalau begitu saya permisi sebentar ingin ke toilet." dengan sekuat tenaga akhirnya ia bisa lepas dari cengkeraman dua pria itu.
__ADS_1
Mereka bertiga masing-masing mendongak melihat Kasih yang sudah berdiri ingin pergi, Rehan akhirnya lega karena tak lagi melihat pemandangan yang membuat hatinya panas.
"Baiklah." ucap mereka bersamaan membiarkan Kasih pergi.
ia pergi tak sabar ingin cepat sampai ke toilet, tinggallah tiga orang tadi yang saling berbincang memberi senyuman sengit.
____
Kasih menutup pintu toilet dengan kuat lalu di kunci ia menyender di balik pintu sambil memegang dadanya yang terasa nyut-nyutan,ia tak menyangka kejadian tadi itu nyata jantungnya berdegup kencang serta nafasnya keluar masuk dari hidung.
Ia melangkah mendekati wastafel kemudian mencuci muka disana ia memandangi wajahnya yang dibasahi air,memang ia tak secantik Sera tapi apakah dia cocok menjadi seorang pelakor dengan wajah jeleknya yang sering di sebut udik oleh suaminya, jelas saja dia pelakor telah merebut suami orang tanpa cinta tapi bisa menikah dan tak tau kenapa Pernikahan itu terjadi.Huh itu aneh tapi nyata.
Kasih memasang kacamata lalu melangkah keluar toilet.
"Tuan sekertaris.!" ia dikejutkan dengan keberadaan Rehan yang tengah berdiri di depan pintu toilet.
Rehan hanya tersenyum dan Kasih melangkah keluar menuju Rehan, pria itu juga terlihat aneh sama seperti Tuannya sama-sama salah tingkah bila ia dekati.
"Tuan sekertaris kenapa?" ia memegang tangan Rehan.
Rehan diam melihat tangganya digenggam malah jantungnya berdebar. "Tidak apa-apa saya,sedang mencari Tuan muda." ia menjawab sambil melepaskan tangan Kasih.
Kasih mengangguk faham ia melihat sesuatu yang berantakan dari tubuh Rehan, ia menambah dua langkah untuk mendekatkan diri.
"Kancing baju anda lepas." ia memasang dua kancing baju kemeja dalam Rehan.
Rehan kehabisan kata-kata untuk berbicara ia melihat wajah polos Kasih begitu indah natural, area belakang sangat sunyi tidak ada sesiapapun disana selain mereka Rehan fikir tadi Nathan pergi ke toilet saat sebelum meninggalkan dirinya sendirian di sofa.
"Sudah selesai." Kasih mundur dua langkah dari sisi Rehan.
Ia telat menyadari bahwa Kasih tak lagi memasang kancingnya ia tersadar saat Kasih memukul bahunya, ia memasang wajah datar lalu berterimakasih ia juga berfikir seharusnya Kasih tak pantas melakukan hal tersebut padanya walau sekedar membantu memasangkan kancing baju saja, tapi seandainya ada Tuan muda dan tak sengaja melihat mereka berdua sedekat tadi maka keadaan akan kacau.
Tak ada lagi yang di bahas mereka pun pergi menuju studio bersama-sama sambil berbincang sedikit mengenai keadaan satu sama lain.
__ADS_1
BERSAMBUNG