
TIBA DI MALL
Nathan dan Rehan menaiki eskalator menuju lantai dua, dua bola mata Nathan sibuk melirik kesana-kemari mencari sesuatu.
FASHION BOY
Nama sebuah toko yang ada di dalam gedung tersebut berhasil ia temukan, tampaknya sangat ramai dikunjungi. Yakin memilih toko tersebut Nathan tertarik singgah kesana saja, ia menarik Rehan masuk kedalamnya. Toko perlengkapan pria serba ada dari yang kecil maupun besar.
"Welcome to Fashion Boy."
Beberapa pramuniaga menyambut mereka dengan sambutan hangat, wanita-wanita itu sangat cantik memakai seragam khas ditoko tersebut, paha-paha yang begitu mulus asli tampak terlihat bening menarik hasrat bagi pria.
Nathan memberikan senyuman kepada sang wanita sedangkan Rehan sepanjang perjalanan terus saja memasang ekspresi datar seperti tembok, melihat ekspresi itu para sang pramuniaga enggan menyapanya.
Nathan mencari barang yang paling ia butuhkan, para pramuniaga dengan senang hati memberikan contoh yang diinginkan olehnya.
Seorang pramuniaga memberikan sepasang pakaian padanya, tentu saja harga pakaian tersebut bukanlah murah.
Nathan mengambil pakaian tersebut lalu menunjukkan kepada Rehan seraya berkata. "Kau suka?" dia menempelkan benda itu ke badan Rehan.
"Saya sama sekali tidak tertarik Tuan." Rehan dengan senang hati menolak pakaian itu.
Nathan mengembalikan pakaian kepada sang pramuniaga, dia mengambil sepotong kaus oblong bewarna hitam dan celana Corduroy bewarna coklat tua dari gantungan baju.
Dia berdiri disebelah susunan pakaian yang tersangkut rapi ditempatnya.
"Kalau ini?" dia menunjukkan pakaian itu kehadapan Rehan, namun reaksi sang sekertaris sama sahaja.
"Saya sama sekali tidak tertarik Tuan!" kedua kali ini Rehan juga tak tertarik.
Nathan tersenyum sabar dengan penolakan mentah-mentah itu.
"Baiklah." dia mencampakkan pakaian tersebut keatas tiang sangkutan pakaian.
Nathan beralih ke sebrang, disana ada banyak manekin pria yang berjejer rapi mengenakan banyak pakaian ala kekinian sebagai contoh. Rehan diam tak mau mengikuti langkah dan gerak-gerik Nathan.
__ADS_1
Nathan sibuk memilih beberapa pakaian lagi, ia menunjukkan gaya dengan membandingkan pakaian manekin itu dengan dirinya, maksudnya cocok atau tidak. Lantas Rehan lagi-lagi menolak, dia persis seperti manekin yang disana, agaknya sangat susah membedakan mana manekin asli dan mana manekin palsu kendati dengan posisinya itu.
"Kau suka ini?"
"ini?"
"Atau ini?" bujukan Nathan sekali lagi seraya meminta jawaban.
"Saya sama sekali tidak tertarik Tuan." jawaban yang sama ia ungkapkan.
Kali ini Nathan benar-benar kesal, dia mendorong manekin itu dengan tenaga yang agak sedikit kuat nyaris membuat manekin tersebut jatuh, dia beranggapan bahwa sedari tadi dia berbicara kepada beo.
Sambil melangkah mendekati Rehan ia berkata. "Re, kau ini gimana sih? Masa semuanya enggak ada yang menarik?" ia terlihat putus asa.
"Tuan lebih baik kita pulang saja, untuk apa belanja pakaian? Bukankah pakaian anda masih banyak dan masih bagus-bagus di lemari?" Rehan mengoceh sambil menggerutu kesal.
"Tidak Re." dia menolak perkataan Rehan sembari berjalan memilih pakaian lagi, lanjut berkata. "Kau pakai ini dan aku pakai ini!"
Nathan mengambil dua pasang jumpsuit bewarna pink dipadu sepotong kaus bewarna putih, satu untuknya dan satu untuk sekertaris.
"Tuan untuk apa? Saya tidak suka ini." Rehan menolak jumpsuit itu, dia menaruhnya kembali ketempat semula.
"Saya tidak mau Tuan, jika anda mau ya silahkan beli saja tapi saya tidak mau." menolak kembali.
"Ayo pakai Re."
"Saya bilang tidak mau ya tidak mau Tuan."
Mereka berdua saling dorong mendorong disitu, percekcokan konyol membuat pramuniaga kewalahan melihat aksi mereka, para pramuniaga mengkhawatirkan keadaan jumpsuit yang sudah menjadi dilema antara dua makhluk, para pramuniaga takutnya jumpsuit itu akan robek nanti, maka merekalah yang akan kena denda bukan dua makhluk pengacau itu.
Para pengunjung lain berhenti memilih belanjaan akibat aksi Nathan dan Rehan, mereka lebih tertarik menyaksikan sebuah drama penyiksaan tersebut.
"Heh bukankah itu tuan Nathaniel Anthony Wing dan sekertaris Rehan?"
"Hah iya benar."
__ADS_1
"Lantas kenapa dia bertengkar dengan sekertaris nya?" kata para pengunjung yang menyaksikan. Sebagian manusia lainnya sibuk mengabdikan momen tersebut.
Seorang wanita separuh abad yakni pemilik toko merasa bingung melihat kekacauan di tokonya, serta para pramuniaga tampak tak kalah bingung, tak ada yang berani melerai bahkan mendekati Nathan saja tak ada yang berani. Pemilik toko juga tak berani untuk mengusir Nathan karena mereka semua tau siapa Nathaniel itu.
Menyadari bahwa mereka sudah menjadi tontonan Rehan berhenti mengoceh.
"Baiklah Tuan, saya akan pakai." Rehan mengambil pakaian itu.
Rehan yang merasa waras memilih mengalah saja dari pada menolak, jika ia terus menolak maka itu akan memperkeruh suasana.
Merasa puas dengan kemenangannya, Nathan membawa Rehan masuk kedalam ruang ganti untuk mengenakan pakaian itu. Para pramuniaga dan pemilik toko sudah merasa tenang hampir-hampir mereka ingin terkencing di dalam celana, para pengunjung lainnya bubar usai menyaksikan drama tadi sebagian ada yang belum puas dengan akhir cerita, mereka menunggu adegan baku hantam, namun sayang itu tak terjadi padahal mereka sudah semangat ingin menyaksikannya.
Sebelum beralih ke ruang ganti, Nathan ingin mencari sepatu dahulu. Dua pasang sepatu bermode wingtip boat bewarna coklat sudah didapatkan, maka beralihlah ke tempat selanjutnya.
Di dalam ruangan kecil mereka memakai pakaian sambil melihat diri dari pantulan cermin lebar, jumpsuit itu sangat lucu saat dikenakan ketubuh mereka.
Mereka keluar dari sana, saat ini Nathan mencari sesuatu yang ia butuhkan, matanya melirik kearah susunan bulu-bulu yang terpajang di setiap wajah manekin.
"Saya mau benda itu, berikan dua!" perintah Nathan sambil memberi isyarat kearah benda yang dimaksud.
"Baik Tuan."
Pramuniaga mengambil dua helai kumis palsu dari stok penyimpanan di toko, tak lupa dua buah jenggot palsu ia pesan juga, Rehan hanya bisa menyimak keinginan Nathan.
Saat benda-benda itu diberikan kepadanya, ia memasang satu kumis untuknya dan satu untuk Rehan.
"Tuan, ini untuk apa?" Rehan merasa geli saat dipakaikan bulu-bulu tersebut.
"Sudahlah jangan banyak tanya!"
Nathan memaksa Rehan memakai kumis serta jenggot palsu agar terlihat brewokan, mereka berdua terlihat seperti om om tukang becak.
Usai memakainya Nathan mencari kacamata yang tersusun rapi ditempanya, ia berjalan kesana mengambil dua buah kacamata bermode frame round klasik, barulah dipakai.
"Bagaimana Re?" dia bergaya dihadapan Rehan, ingin sekali Rehan menonjok wajahnya yang dipenuhi bulu-bulu halus itu.
__ADS_1
"Aaa.... Ada sesuatu yang kurang." ia merasa ada sesuatu yang kurang dari penampilan kuno ala alien nya.
Dua buah topi jenis newsboy hat bewarna cream ia ambil dan dipakai ke kedua kepala mereka, perpect. Itu yang di ucapkan Nathan setelah melihat hasil dari semua rencana pertamanya, semua sudah beres mereka keluar tapi sebelum itu bayar dulu. Para manusia yang ada didalam Mall merasa geli melihat penampilan mereka, itu bukan kuno, bukan gaya tahun 90'an, 80'an, tapi entah gaya dari mana bahkan mereka terlihat seperti anak alay ketinggalan zaman.