
Brumm,Brumm...
Saat dalam masa pengejaran, mobil yang dikendarai Nathan dan Rehan mogok ditengah simpang lalu lintas.
"Kenapa berhenti?" Nathan menatap tajam ke arah Rehan.
Rehan mengetes ulang mobilnya yang tak kunjung hidup, ia mencetek kunci berulang kali namun tak ada perkembangan, ia semakin pusing kala mobil mereka berhenti tepat di tengah jalan lintas.
Rehan mengecek indikator minyak yang sudah melampaui garis terakhir.
"Sepertinya bensinnya habis Tuan." ia mengelas wajah menatap Nathan.
"Aarrggghhh!" Nathan menjerit keras didalam mobil merasa kesal bertubi-tubi.
Ten,Ten...
Suara deruan klakson terdengar keras dari berbagai kendaraan.
Nathan menjambak rambut seperti orang putus asa, dilain itu Rehan hanya bisa diam menunduk takut diserang.
"Mobil sialan." Nathan mengamuk lalu keluar dari mobil.
Diluar para pengendara mengamuk karena jalanan yang padat, Nathan berusaha meminta maaf lalu Rehan juga keluar.
Kasih juga sudah jauh meninggalkan dirinya dia benar-benar kesal.
"Hay kalian gila ya, kenapa berhenti ditengah jalan."
"Ini jalan umum bukan jalan nenek moyang kalian."
"Ayo minggir."
Sebagian pengendara mobil dan bus saling berteriak menyuruh mobil Nathan menyingkir.
Rehan berupaya keras menenangkan mereka semua.
"Maaf bapak-bapak ibu-ibu, mobilnya kehabisan bensin." itu sangat memalukan bagi Nathan.
"Katanya orang kaya, masa mobilnya gak punya bensin." salah satu ibu-ibu gendut berceloteh.
"Iya tuh, orang kaya tapi gak sanggup beli bensin."
__ADS_1
"Hahahaha."
Para masa saling tertawa sekaligus jengkel karena perjalanan mereka terhambat, tepat ditengah lalu lintas mereka berhenti, jalanan macet hingga mereka tertinggal lampu hijau.
Nathan tutup muka menahan malu ditengah keramaian kota, sekali lagi Rehan membujuk mereka semua agar tak marah.
"Rehan kenapa kau tidak mengecek mobil sebelum pergi tadi." Nathan memarahi Rehan seakan-akan dialah yang bersalah.
"Maaf Tuan, padah." belum sempat Rehan selesai berbicara Nathan membungkamnya. "Kenapa kau lalai sekali, huh dasar menyebalkan, buang saja ini mobilnya." Nathan merunduk kesal menendang ban mobil.
Enak sekali anda menyalahkan saya Tuan muda, ini semua salahmu, huh dasar pria brengsek harusnya aku tidak menjadi sekertaris mu. batin Rehan. ia melihat Nathan dengan tatapan mengerikan merasa paling disalahkan.
Nathan menoleh kearah Rehan. "Kenapa kau memasang tampang mengesalkan padaku? hey jangan melotot, atau aku potong gajimu." Nathan mengernyit kesal menunjukkan jari kewajah Rehan.
Rehan menunduk mengalah. "Maafkan saya Tuan." ia memasang wajah menyedihkan agar Tuan tak lagi marah-marah.
"Huh,siudik sudah jauh lagi." Nathan semakin greget, ia merenggangkan dasi.
Para masa sudah bisa pergi melewati jalan lainnya sedangkan mobil Nathan masih terparkir ditengah jalan, Rehan menelpon anggota suruhan agar membawa mobil dan membawa mobil derek.
"Aku kesal sekali." Nathan mengoceh lagi. "Ini semua gara-gara siudik, pasti dia sedang berselingkuh sekarang bersama sikadal." para pengendara lain yang sedang lewat terus memperhatikan mereka.
***
Kasih dan Dilan sudah sampai ke museum perpustakaan, mereka masuk beriringan kedalam perpustakaan yang memiliki nilai sejarah dan macam-macam buku.
Kasih sangat terpukau takjub melihat isi perpustakaan yang amat luas, ia tak habis-habis memuji keindahan perpustakaan itu.
"Tuan ini perpustakaannya besar sekali." Kasih berlari ketengah-tengah menikmati ruangan yang sangat harum, disana banyak pengunjungnya.
Dilan berjalan mendekati Kasih sambil tersenyum-senyum memandangi diri Kasih yang begitu ceria.
Dilan mengajak Kasih mengelilingi isi museum untuk melihat-lihat buku.
Mereka berhenti kesalah satu susunan buku, Kasih menyentuh pelan buku-buku panduan serta buku lainnya.
"Kasih,apa kamu suka kisah Cinta?" Dilan mengulurkan satu buah buku bewarna pink untuk Kasih yang berdiri disebelah kirinya.
"Saya pernah mendengar kisah Cinta tapi saya tidak tertarik sama sekali, dan saya tidak menyukai hal yang berhubungan dengan kisah Cinta" Kasih berbicara lembut menolak buku itu.
Dilan terkekeh menarik bukunya kembali. "Hah kamu ini sungguh aneh." ia menggeleng kepala meletakkan kembali buku ketempatnya.
__ADS_1
Kasih terdiam merasa ucapannya salah atau benar, Dilan melangkah beralih kesusunan buku yang satunya.
Kasih hanya membuntut di belakang.
Dilan mengambil sebuah buku yang isinya lumayan tebal, ia membaca judul cover buku ya tertulis makna Cinta.
"Kisah ini sangat menarik, sebuah arti Cinta sejati yang sesungguhnya." Dilan menjelaskan inti dari cerita yang sama sekali belum ia baca.
"Emm." Kasih terpelongo bengong menerima buku yang diulurkan oleh Dilan. "Bacalah, ceritanya sangat menarik." Dilan lagi-lagi menawarkannya.
Kasih membuka lembaran sampul buku lalu mengintip sekilas isi bab, namun ia terlihat kurang berkenan.
"Maaf Tuan, saya sungguh tidak menyukai kisah Cinta." Kasih mengembalikan buku itu ketempatnya.
Dilan terkekeh kecil. "Kamu aneh sekali, bagaimana bisa kamu tidak menyukai kisah Cinta, apa kamu tidak percaya dengan adanya Cinta." Dilan mengeluarkan kata bertubi-tubi tanpa jeda secepat kilat.
Kasih melangkah satu langkah sambil menjawab. "Saya tau semua makhluk hidup seperti manusia dan hewan tumbuh dan hidup dengan Cinta, tapi saya tidak percaya kalau Cinta itu ada, maka dari itu saya tidak tertarik dengan kisah Cinta." hardiknya menjelaskan.
Dilan berdiri tertinggal dibelakang sambil mendengarkan jawaban Kasih, menurutnya itu sangat lucu dan tak masuk akal, tapi ia juga pernah mendengar bahwa ada orang yang tak percaya adanya Cinta.
Dilan melangkah mendekati Kasih. "Apa alasan kamu tidak percaya adanya Cinta? bukankah ini cerita yang sangat lucu." ia berdiri tegak dibelakang Kasih.
Kasih pun memutar tubuh menghadap Dilan. "Karena saya tidak pernah mendapatkan Cinta." ia merasakan betul bahwa hidupnya tidak pernah mendapatkan Cinta, hanya ia saja yang memberikan Cinta kepada orang.
Dilan mengangkat tangan kanan membenarkan poni Kasih yang berserakan, Kasih tentu kaget melihat Dilan menyentuh rambutnya untuk kedua kali.
"Bukannya tidak pernah, hanya saja kamu yang tidak pernah merasakan bahwa Cinta ada didalam hidupmu." ia berbicara santai tidak mau Kasih berfikir buruk tentang Cinta. Ia terus membenarkan poni Kasih sampai benar-benar rapi.
Kasih tertunduk menerima jawaban Dilan, sejelas apapun Dilan menjelaskan adanya Cinta tapi dia tetap tak percaya.
Dilan melangkah menuju rak buku satunya dan mengambil satu buku disana. "Pelajari buku ini." ia memberikan dua buah buku yang berisi panduan lengkap ramuan kecantikan wanita dan kisah sejarah Cinta sejati.
Kasih bisa menerima buku itu tapi ia sangat jijik dengan judulnya.
Buku apa ini, kecantikan dan Cinta sejati heh jijik sekali, Apa Tuan ini sedang mengejekku secara lembut. batin Kasih. ia membolak-balik buku dari depan hingga belakang.
Kasih memeluk dua buku tersebut sambil memberikan sedikit senyuman tak jelas, Dilan tak mau memperpanjang cerita Cinta yang dibenci oleh Kasih.
Kemudian mereka berkeliling museum melihat-lihat buku sejarah, disana juga pengunjungnya semakin lama semakin ramai.
BERSAMBUNG
__ADS_1