
Kasih dan Nathan sudah berada di dalam mobil, hari ini Nathan akan mengantarkannya pergi ke lokasi syuting. Sekertaris Rehan lah yang menyetir, usai keluar dari kamar mandi tadi Kasih terus diam. Ia sedih memikirkan Billy, saat makan juga dia tak berselera karena memikirkan Billy.
Papa mertua sudah mengatakan bahwa Billy akan kembali secepat mungkin, Billy hanya sekedar liburan saja bukan menetap di sana, tapi rasa sedihnya terus membara. Di dalam mobil Kasih hanya berdiam diri menundukkan kepala dengan memasang wajah muram, Nathan juga bisa memaklumi keadaannya.
Hari ini adalah hari terakhir Kasih syuting film, mungkin beberapa hari lagi film akan tayang di bioskop, hanya menunggu syuting berakhir dan konfirmasi dari pihak klan TVE.
Nathan dari tadi tak bisa diam di dalam mobil, ada saja tingkahnya. Ya, dia berusaha mencari topik pembicaraan agar Kasih tak terus diam dan bersedih. Pada akhirnya ia lelah berfikir dan mulai dengan sikap bodo amatnya.
"Kalau kamu begini terus, aku jadi pengen memperkosamu." ucap Nathan tiba-tiba.
Kasih seketika kaget dan tersadar dari alam kesedihan, nyawanya bak disengat listrik mendengar ucapan tiba-tiba itu. Rehan yang menyetir seketika mengerem mobil, alangkah terkejutnya ia.
Kasih melotot melihat Nathan, Rehan membalikkan badan menatap Nathan. Dua pasang mata menatap dirinya dengan tajam, wah Nathan sendiri merasa ditatap musuh.
"Re, kenapa kau menatapku? Kenapa berhenti? Ayo jalan!" ia memerintah, merasa tak nyaman ditatap bersamaan.
Rehan menelan ludah, ia membalikan badan ke semula. Mobil kembali melaju, Kasih tak lepas memandangi wajah Nathan. Wah kenapa Tuan petir mengatakan itu?. Begitulah isi hati Kasih.
Nathan tersenyum menggoda dicampur dengan bumbu-bumbu kenakalan, sikap kejahilannya mulai muncul. Sekarang dia mendapatkan boneka yang bisa ia jahilin, Kasih tentu saja malu apalagi mengingat kejadian tadi dan tadi malam, dimana itu adalah awal menunjukkan sikap mesum Nathan yang sesungguhnya.
"Kenapa terus menatapku seperti itu? Apa kamu benar-benar mau aku perkosa?" ledeknya.
Kasih melotot lalu beralih mendekati Nathan. "Shhhtt... bbuupp." Kasih mendesis sekaligus membekap mulut Nathan, ia merasa segan karena ucapan Nathan pasti didengar oleh Rehan.
"Emmm." Nathan terdiam kesenangan karena dipeluk oleh Kasih, ia bahkan ingin dibekap selamanya begitu. Ia memiliki kesempatan untuk mencium telapak tangan Kasih yang wangi strawberry, harumnya bak di surga.
"Kenapa anda mesum sekali Tuan? Anda tidak malu didengar oleh Tuan sekretaris?" Kasih membisik mendekatkan wajahnya ke Nathan.
Rehan memperhatikan mereka melalui kaca spion, ahh hatinya terasa panas melihat adegan tersebut. Rehan malah merasa jijik melihatnya, itu bukanlah adegan lebay dan alay, namun hatinya tak suka melihat mereka seperti itu.
Nathan melepas tangan Kasih dari mulutnya, ia ingin berbicara juga. Sebenarnya ia tak mau melepaskan tangan harum milik si udik. Ketika tangan terlepas, Kasih masih berada di dekatnya bahkan menempel.
"Aku jadi ingin benar-benar memperkosa mu." imbuhnya, Nathan mendekatkan wajah seperti ingin mencium bibir Kasih, namun Kasih langsung menghindar.
Walaupun ia masih ingin mendapatkan ciuman dari suaminya, dan ia juga ingin dicium lagi lagi dan lagi namun tak mungkin. Karena mereka berada di dalam mobil, apalagi ada sekertaris Rehan disitu. Jelas saja dia malu, mendengar ucapan tadi saja malu apalagi kalau berciuman. Huh, tapi jujur ia sangat menginginkan ciuman itu lagi.
Kasih terdiam menjauh ke pojokan, kini hati Rehan sudah tak panas lagi. Dia juga iri melihat keuwuan orang dalam bentuk apapun itu, dia juga butuh keromantisan, tapi tak tau harus melakukannya dengan siapa.
__ADS_1
"Ehem." Nathan dan Kasih berdehem bersamaan, sehingga mereka kaget bisa berdehem sekompak itu.
"Hahaha." Nathan tiba-tiba terkekeh sendiri, dia merasa geli entah apa penyebabnya.
"Rehan." panggil Nathan.
"Saya Tuan." Rehan menjawab sambil melirik Nathan dari kaca spion.
"Kau ingat waktu malam-malam itu? Disaat ada hujan lebat kita berada di dalam mobil ini bersama satu orang wanita." ia mengucapkan beberapa kenangan masa silam.
"Hah?" Rehan memelankan mobil, ia tak bisa mengingat sebuah kenangan yang dijelaskan oleh Nathan.
"Yah, malam itu. Ketika aku memperkosa seorang gadis di dalam mobil ini, kau ingat kan betapa cabulnya aku ini." ia menjelaskan sebuah karangan agar Kasih mengetahuinya.
Kasih tercengang menatap Nathan, ia berfikir apakah ucapan Nathan beneran atau omong kosong? Ia menatap Rehan untuk meminta jawaban juga.
Nathan memberikan kode alam kepada Rehan untuk membenarkan ucapannya, dengan sinyal Doraemon, Rehan langsung paham.
"Iya, saya ingat Tuan." Rehan dengan terpaksa ikut berbohong.
"Silahkan Tuan, di sebelah anda kan ada istri anda? Perkosa saja dia." kini Rehan juga ikut-ikutan menjadi jahil.
Hah ya Tuhan. Kasih merasa menjadi takut, ia menutup mulut dengan menyender di pojokan jok mobil.
Melihat ekspresi ketakutan itu Nathan dan Rehan tersenyum. Sebenernya Natha tak bermaksud untuk menakut-nakuti Kasih, ia hanya ingin Kasih tak bersedih lagi. Tapi tak sesuai ekspektasi, Kasih malah semakin takut.
"Su... sudah sampai, saya turun. Terimakasih Tuan petir dan terimakasih Tuan sekertaris." Kasih langsung membuka pintu mobil lalu berpamitan ketika sudah sampai di depan lokasi syuting.
Ia buru-buru keluar, takutnya jika berlama-lama si Tuan petir akan melakukan hal yang ia katakan tadi. Ia menutup kembali pintu mobil lalu berpamitan lagi.
"Hey udik, tunggu!" Nathan memanggil dari dalam mobil.
Dengan terpaksa Kasih kembali. "Ada apa Tuan?" ia semakin getir.
Nathan menggerakkan jari telunjuk dan tengah sebagai tanda isyarat agar Kasih mendekat, mereka berbicara terhalangi oleh kaca mobil. Kasih mendekati kupingnya ke mulut Nathan.
"Dengar, aku akan memperkosa mu nanti malam." ancamnya.
__ADS_1
Kasih terbelakak kaget, ia mundur seketika. Ia menciutkan bibir menerima ancaman berbahaya. Nathan tersenyum puas mengerjai Kasih.
"Ayo Re, jalan." perintahnya. Ia menatap Kasih yang terpaku diluar, terkejutnya bukan main.
Nathan mengedipkan mata sebagai tanda perpisahan, sedikit melambaikan tangan. Mobil itu pergi menjauh hingga tak kelihatan lagi, Kasih merasa deg'degan. Ia memenangkan jiwanya yang merasa terancam.
"Aku akan memperkosa mu nanti malam." "Aaaaaaaaa." Kasih berteriak histeris mengingat kata-kata itu, dia sudah mulai setres. Oh Tuhan lindungilah aku.
Ia segera berlari masuk ke lokasi syuting, mengingat ini adalah hari terakhir ia syuting. Jadi ia harus punya kesemangatan luar biasa, hari ini mereka syuting di daerah perumahan mungkin nanti akan berpindah tempat lagi.
***
"Hahahaha." di dalam mobil itu Nathan terpingkal gelak sendiri, perutnya sudah sakit sangking tak bisa menahan tawanya.
Di depan, Rehan hanya fokus menyetir. Ia juga tak paham apa yang lucu dari tadi, yang ada dia hanya muak. Ia melirik lirik Nathan dari spion, pria itu tertawa seperti orang tak waras, Rehan berharap semoga Nathan tersedak lalu berhenti tertawa.
"Reh... Rehan, hahahaha." ia menepuk tangan dan terkekeh sendiri, tak sanggup ingin berkata lagi.
"Sepertinya anda bahagia sekali Tuan?" tanya Rehan yang terus saja memeprhatin nya.
"Haha aahh." dia terus tertawa, mulutnya serta bayangan ketakutan Kasih tak bisa hilang dari fikirannya. Bagaimana ini.
"Baiklah, tertawa lah sepuas hati anda Tuan." Rehan hanya bisa senyum.
"Hahaha." tertawa lagi sampai tak bisa bernafas.
"Aduuhh Rehan, kau lihat si udik itu? Hahaha." terpingkal tawa tak menentu.
"Cih... akhirnya anda jatuh cinta juga dengannya Tuan." celetuk Rehan dengan pelan.
Ia membiarkan Nathan tertawa gila seperti itu, yah kelamaan dia akan lelah sendiri nantinya.
Akhirnya sekian lama tak tertawa, baru ini Nathan bisa tertawa hingga puas. Membayangkan Kasih yang ketakutan akan ia perkosa, padahal itu tak akan terjadi.
Seperti katanya, Kalau masih bisa meminta, kenapa harus memaksa? Itu perkataannya tadi pagi.
BERSAMBUNG
__ADS_1