
Dua bulan kemudian...
Selasa 3 November 2***. 12:54 WIB
DKI Jakarta
Dua bulan setelah waktu berlalu, berlalu dengan baik. Matahari sangat terang menyinari bumi hingga memberikan cahaya yang begitu terik panas menusuk kulit. Jalanan di Ibukota terlihat sangat ramai dan padat.
Orang-orang berlalu lalang disekitar jalan raya, mereka terlihat terburu-buru, baik keluar dari rumah sampai ke kantor. Tentunya mereka selalu ingin berada beberapa langkah lebih maju, tidak ada orang yang berjalan lambat disana. Hanya ada beberapa burung merpati yang berjalan lambat mengutip makanan yang bertebaran di jalanan.
Berbagai iklan yang dibintangi berbagai artis telah tayang di LED Videotron yang ada di tengah kota, di persimpangan semua kendaraan berhenti berbaris menunggu lampu lalu lintas berubah berwarna hijau.
Siang itu Kasih tengah mengunjungi sebuah gedung yang khusus menjual jam, gedung antik yang masih terlihat mewah dan tentunya di isi dengan barang-barang yang mewah juga. Banyak penjual jam berdagang di sana, berbagai merek. Kasih pergi sendirian ke tempat tersebut, bukan ingin beli jam. Namun ia hendak mengambil jam tangan Nathan yang tengah di perbaiki di tempat tersebut. Siang-siang bolong begini ia sangat kejam sekali menyuruh Kasih untuk pergi mengambilnya.
Film yang dibintangi oleh Kasih sudah tayang dalam waktu 6 hari yang lalu, film tersebut tayang di beberapa bioskop. Namun sayangnya film itu kurang banyak peminatnya, tiket tiket hanya terjual sebanyak 55% saja, sisanya masih banyak lagi. Belum habis sama sekali, pihak TVE juga sudah berapa kali mencoba memberikan diskon dan promosi sana-sini untuk film, namun hasilnya nihil. Ratingnya sangat jelek, banyak yang berkomentar bahwa film tersebut sangat tidak menarik dan membosankan. Tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi. Klan TVE pun hanya bisa pasrah.
Kasih juga sudah lepas kontrak dari klan TVE, managernya sudah mengurus semuanya, jadi dia hanya diam dan menunggu honornya cair.
"Terimakasih." ucap Kasih kepada seorang pria yang memberikannya sebungkus paper bag yang berisikan jam tangan Nathan.
Kasih mengambilnya serta memberikan senyuman hangat sebagai tanda terimakasih, ia berjalan berbalik badan untuk keluar dari gedung antik tersebut.
Dret... dret...
Suara ponsel Kasih bergetar di dalam tasnya, ia berhenti melangkah lalu merogoh isi tas untuk mengambil ponselnya. Ia menatap layar ponsel untuk memastikan siapa yang menelpon. Manager. Nama itu yang tertulis di sana, dengan cepat Kasih menjawab teleponnya.
"Hallo." ujar Kasih duluan membuka percakapan.
"Selamat siang." suara seorang pria terdengar dari speaker ponselnya.
"Siang pak manager, ada apa ya?" tanya Kasih seraya penasaran.
"Ahh maaf mengganggu, saya hanya ingin memberitahu bahwa honor anda sudah cair dan saya sudah mentransfernya ke rekening anda. Silahkan cek dan hubungin saya lagi jikalau ada yang kurang, baiklah, sampai jumpa lagi."
"Ter." Belum sempat Kasih menjawabnya, telepon pun berakhir. Sang manager memutuskannya, Kasih menggigit bibir bawahnya sambil menatap layar ponsel.
Mengetahui kabar itu ia pun langsung segera mengeceknya, ia membuka banking mobile. Dan benar saja beberapa jumlah uang sudah masuk dalam jumlah banyak. Ia sedikit kaget mengetahui jumlah uang tersebut, matanya berbinar-binar menatap layar ponsel. Ia menjadi gembira bukan main, uang yang berjumlah besar baginya adalah hasil kerja kerasnya dalam beberapa bulan ini. Rasanya ia ingin berteriak di dalam gedung tersebut.
"Oh Tuhan... aku senang sekali." ia bergembira sekaligus bersyukur mendapatkan nikmat tersebut, baru kali ini ia benar-benar bisa memiliki uang banyak.
Sambil menikmati kegembiraan hatinya, ia memutuskan untuk berkeliling sebentar di dalam gedung antik tersebut. Udara di dalam gedung juga sangat sejuk, sangat mendukung suasana hatinya. Ia memikirkan banyak hal, dengan uang itu ia bisa membeli apapun yang ia mau. Tas, sepatu, pakaian, perhiasan, aksesoris, dan masih banyak yang lainnya.
__ADS_1
Ahhh apa yang kau pikirkan Kasih, jangan mengada-ngada. Jangan memboros membeli semua yang tidak penting. Dasar idiot. Andai ada Billy, aku ingin mengajaknya jalan-jalan dengan uang ini, aku rindu padanya. Dia berjalan menatap ponsel sambil berangan-angan lagi, dia juga sudah sangat rindu dengan Billy. Ya memang Billy sampai saat ini belum juga pulang dari Norwegia, dia sangat betah di sana hingga belum ingin kembali ke tanah air.
Ia memutar pandangan menatap seisi gedung, berbagai model jam tangan dan jam dinding saling terpajang rapi. Beberapa orang tengah ikut berkeliling mencari barang di inginkan, serta para pekerja saling membantu customer memilih barang-barang yang diinginkan.
Kasih melihat sepasang benda berbentuk jam namun sepertinya bukan jam berada di dalam etalase kaca berukuran kecil, ada dua buah benda yang begitu cantik sehingga menarik hatinya untuk bertanya kepada sang penjual. Tapi sepertinya ia ingin melihat-lihat saja dulu.
"Apa anda tertarik ingin membelinya Nona?" ucap seseorang pria yang berada di belakangnya, spontan Kasih terkejut dengan suara pria itu.
"Hem." Kasih membalik badan melihat kebelakang, seorang pria paruh baya berpakaian rapi sedang melihatnya.
"Barang itu sudah berada lama di gedung ini, belum ada satupun orang yang tertarik ingin membelinya. Saya fikir anda menyukainya, Nona?" seolah menawarkan dan meminta Kasih membelinya.
"Itu apa memangnya?" tanya Kasih yang masih belum tau itu benda apa, persisnya seperti jam namun berukuran lebih ramping dan kecil.
Pria itu tersenyum lalu melangkah mendekati etalase, ia pun mengeluarkan benda tersebut dari dalam tempatnya. Ia meletakkan dua buah benda itu keatas etalase seraya menunjukkan pada Kasih.
"Ini adalah smartwatch, semua orang sudah tau benda ini. Sama halnya dengan sebuah jam tangan yang sudah banyak memiliki fitur smartphone. Namun lebih unggulnya lagi, di sini ada alarm cinta nya." jelas sang pria itu sambil melepaskan smartwatch dari display.
"Itu saja?" tanya Kasih dengan singkat, rasanya sama sekali tak ada keistimewaannya.
"Jika anda menekan tombol ini maka otomatis smartwatch yang satunya lagi akan menyala, ia akan menimbulkan suara, dan lampu ini akan menyala menjadi warna merah. Jika anda punya pasangan, berikan yang satunya untuk dia. Tekanlah tombol ini jika anda merindukannya." pria itu menjelaskan beberapa hal lainnya.
Tidak ada menariknya sama sekali. Kasih memasang tampang cemberut sejak mengetahui fungsi benda itu, fungsinya juga tak sehebat yang ia fikirkan.
Wah hebat sekali, padahal jantung letaknya di dada namun suaranya bisa terdengar melalui nadi dipergelangan tanganku, oh Tuhan. Pria ini membual sekali. Kasih lagi-lagi tak percaya, dianggapnya ucapan sang pria itu adalah kebohongan semata untuk strategi penjualannya.
"Anda bisa mencobanya Nona." pria itu tanpa segan memakaikan smartwatch itu ke tangan Kasih, dan benar saja. Ritme jantung Kasih terdengar sangat jelas, Kasih sedikit merasa terpukau. Padahal itu bukanlah benda yang begitu hebat.
"Anda bisa mendengarnya kan?" tanya si bapak itu untuk meyakinkannya.
"Ya." jawab Kasih dengan singkat, sudah jelas ia sangat tertarik.
Lumayan menarik dan lucu juga, aku ingin membelinya lalu yang satu akan aku berikan kepada Tuan petir sebagai hadiah ku untuknya. Dulu dia pernah meminta sesuatu padaku apabila aku sudah bekerja dan mendapatkan gaji. Hehehe asyik juga nih. Kasih cengar-cengir sendiri menatap smartwatch itu, ia juga sudah tertarik sehingga memutuskan untuk membelinya.
Setelah memutuskan ingin membelinya, ia pun melakukan pembayaran mengenai smartwatch yang akan ia dapatkan.
***
Anna berada di sebuah ruangan di dalam rumah sakit, ia berhadapan dengan seorang dokter wanita yang lumayan muda darinya. Beberapa hari ini ia sering demam dan merasa sangat lelah berlebihan, wajahnya juga terlihat pucat tanpa polesan makeup sedikitpun.
"Jadi... bagaimana keadaan saya dokter? Saya sakit apa?" tanyanya penuh harapan, ia berharap dirinya hanya demam biasa.
__ADS_1
"Badan saya juga sering menimbulkan bintik-bintik tanpa sebab, dok." sambungnya.
"Dari hasil pengecekan, anda positif mengidap penyakit leukimia tipe AML stadium lanjut." jelas sang dokter, dengan ragu-ragu memberikan kabar buruk tersebut.
"Apa?! Leu... leukimia? Anda bercanda dokter?" Anna terbata mendengar pengakuan tersebut, ia tak dapat menerima hal itu. Bagaimana bisa? Tidak mungkin, pasti hasil pengecekan itu salah.
"Itu tidak benar kan dok?" wajah Anna semakin menjadi pucat, rasa tak percaya tetap ia rasakan.
"Tidak ada yang salah, hasil laboratorium menyatakan bahwa anda positif leukimia stadium lanjut." jelas sang dokter sekali lagi.
Jawaban yang kedua sama dengan yang pertama, artinya ia benar-benar menderita leukimia. Tangisnya pecah detik itu juga, ia tak sanggup menahan perihnya kenyataan tersebut.
"Hiks... hiks... ini gak mungkin."
"Hiks...hiks." Anna menangis sejadi-jadinya di depan sang dokter, tentu sebagai sesama manusia, dokter itu juga bisa merasakan sakitnya yang di rasakan Anna.
"Anda harus bersabar Nona, ini adalah ujian dari Tuhan." dokter itu terharu lalu berusaha memberikan sedikit dukungan untuk Anna.
Anna mengilap air matanya, lalu menatap sang dokter dengan tatapan sedih. Ia berharap ada pertolongan yang bisa menyembuhkannya.
"Dokter, apa saya bisa sembuh?"
"Saya bisa sembuh kan?" ia memberikan pertanyaan dan berharap agar dokter mengatakan, ya.
"Anda bisa sembuh, namun sepertinya tidak mungkin. Karena orang-orang yang menderita leukimia tipe ini sangat susah disembuhkan, bahkan 90 persen banyak meninggal akibat tak tertolong. Maka sangat kecil harapan untuk sembuh, walaupun anda sudah melakukan operasi transplantasi tulang sumsum, anda belum tentu bisa lolos dari penyakit ini." dokter itu merasa tak tega untuk menjelaskan secara detail.
Anna cukup mengerti dengan penjelasan dokter itu, ia tak menyangka akan begini jadinya. Bagaimana bisa dia mengalami hal ini, selama ini dia hidup dengan sehat, namun. Ahhh dia sudah tak bisa membayangkan musibah ini lagi.
"Apa benar sudah tak ada harapan lagi untuk aku hidup? Apa aku akan mati?" ia menangis menunduk berbicara pada dirinya sendiri.
Dokter itu menatap Anna, raut wajah wanita itu sangat menyedihkan.
"Jika anda rajin kemoterapi, menjalani berbagai terapi dan rajin minum obat. Mungkin ada kesempatan untuk anda tetap bertahan hidup, percayalah, anda harus tetap semangat dan rajin beroda kepada Tuhan agar diberikan kesembuhan." dokter mengatakan itu agar Anna bisa sedikit lebih baik, jangan sampai dia merasa setres akibat penyakit yang dideritanya.
"Benarkah dok? Saya bisa sembuhkan?" Anna menghapus air mata sambil tersenyum sedikit, setidaknya dengan perkataan dokter itu ia mempunyai sedikit harapan walaupun nihil.
Tentu sang dokter membalas dengan senyuman, setiap manusia pasti akan mati. Mati dengan keadaan sakit maupun dalam keadaan yang lainnya, dia yang berprofesi sebagai dokter sudah pasti setiap hari menghadapi ribuan orang yang akan mati karena sakit ataupun mati dalam hal lain. Namun melihat orang yang akan mati itu mengalami sakit, maka ia juga bisa merasakan sakitnya hal tersebut.
"Kapan saya harus melakukan operasi tulang sumsum dok?" kali ini pertanyaannya agak semangat, tidak terlihat terpuruk. Ia harus semangat.
"Saat ini rumah sakit masih kekosongan stok tulang sumsum, kami masih mencarinya. Anda harus bersabar sebentar ya, jikalau sudah ada nanti anda akan bisa memulai operasinya."
__ADS_1
"Baiklah dokter." Anna menarik nafas dalam-dalam untuk memenangkan dirinya agar tak terlalu takut.
...BERSAMBUNG...