Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Si Kadal yang menyebalkan


__ADS_3

Karena hari semakin gelap jalanan semakin padat, cuaca juga kurang meyakinkan takutnya akan turun hujan nanti. Nathan menyalakan radio mobil agar suasana tak begitu canggung, melihat Kasih terus diam dari tadi sungguh membuat ia bingung mau apa.


Ketika sampai persimpangan mereka berhenti karena lampu menunjukkan kewarna merah, mereka berada di paling depan hampir melewati zebra cross. Nathan menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu baru menunjukkan pukul 18:06, masih banyak waktu yang tersisa.


"Kasih." panggil Nathan.


Kasih langsung menoleh ke arah Nathan, dia agak terkejut ketika namanya disebut.


"Ada apa Tuan?" ketika ia bertanya, Nathan justru terdiam bingung tak tau apa.


Nathan hanya tersenyum grogi, ia memutar pandangan ke arah luar mobil, lampu itu masih bewarna merah. Ia mencari akal agar bisa lebih berlama-lama di luar berdua bersama si udik itu.


"Bagaimana kalau kita pergi ke bioskop?" ia menawarkan itu setelah dapat ide entah dari mana.


"Apa Tuan tidak lelah?" jangan sampai Tuan petir kecapean, itulah yang selalu ia fikirkan.


"Tentu tidak sama sekali, ada film terbaru tayang hari ini. Aku rasa kamu pasti suka."


"Baiklah Tuan." singkat kata dengan arti setuju.


Lampu berubah menjadi hijau, mereka sudah sepakat akan pergi ke bioskop. Hari yang sangat indah.


***


Di senja hari itu Rehan duduk di balkon kamar sambil melukis, ia melukis hari yang semakin gelap serta menyaksikan matahari terbenam. Ia meminum segelas teh hangat ditemani oleh beberapa cemilan ringan.


Rehan tak begitu lihai dalam melukis, pada masa ia berumah tangga dengan Yura dulu, Yura sering mengajarinya melukis, melukis apapun itu. Setelah bercerai, Rehan sesekali sering melukis sambil mengetes kemampuannya itu.


Ia meletakkan kuas keatas meja yang ada di situ, ia membiarkan kertas yang udah dilukis mengering dengan sendiri. Ia membuka ponsel sambil mengunyah roti.


"Kira-kira dia sedang apa ya?" ia memandangi layar ponsel sambil tersenyum dan berucap.


Ia menekan ikon panggilan yang ada di ponsel, satu nama tercantum di sana. Ingin ia hubungi namun ia merasa gugup, mungkin saja wanita itu tak akan menjawab panggilannya.


"Ahh mungkin dia saat ini sedang sibuk, tahan Rehan." tak jadi menelpon akhirnya ponsel ia letakkan kembali ke meja tadi.


Ia melanjutkan melukis hari yang senja itu.


"Rehan." sosok wanita separuh baya masuk ke balkon memanggil nama Rehan.


Ia menoleh ke asal suara yang menyebutkan namanya, wanita paruh baya itu melenggang pelan. Keadaannya sepertinya kurang sehat.


"Ibu." Rehan bangkit membantu ibunya duduk ke kursi yang ada di situ.


usai membantu ibunya duduk ia pun kembali duduk, ia juga kembali melanjutkan aktivitas melukis. Sang ibu tak lepas lepas memandanginya.


"Rehan." panggil ibu sekali lagi.


"Ya Bu?" Rehan fokus memberikan cat warna ke gambar.


"Apa kau tak mau kembali dengan Yura?" pertanyaan itu membuat Rehan berhenti mengecat.


"Kenapa aku harus kembali dengan dia?" Rehan melanjutkan mengecat gambar itu tanpa menoleh ibunya.

__ADS_1


"Sepertinya dia masih mau menginginkan mu nak." ibu memberitahu seakan sok tahu.


Rehan hanya diam mengabaikan ucapan sang ibu, ia akan menjawab perkataan ibu jika tak membahas tentang Yura. Mendengar nama Yura sungguh membuat ia jijik.


"Apa kau tak mau menikah lagi nak? Ibu ingin melihatmu bersanding dengan wanita yang kau cintai sebelum ibu pergi nak." sekali lagi Rehan terhenti ketika mengecat gambar saat mendengar ucapan ibunya.


Ia menoleh ibu lalu berkata. "Jangan katakan itu lagi Bu." ia pun lanjut melukis.


"Ibu ingin melihatmu bersanding dengan wanita yang kau cintai sebelum ibu pergi nak, ibu ingin melihatmu bahagia." ibu meneteskan air mata ketika mengatakan itu.


Rehan meletakkan cat ke atas meja lalu beranjak dari duduk mendekati ibu, ia bertekuk lutut di hadapan ibu sambil menggenggam tangannya.


"Bu, jangan katakan itu lagi!" ia mencium kedua tangan ibunya.


"Apa ibu salah bicara nak?" ibu menunduk menatap wajah Rehan.


"Aku tidak suka ketika ibu membahas pernikahan, dan aku tidak suka jika ibu mengatakan (Sebelum ibu pergi) Jangan katakan itu lagi, ibu gak boleh pergi kemana-mana." Rehan mengomel agar ibu tak mengatakan kalimat itu lagi.


Ibu tersenyum lalu mengelus kepala Rehan, anak itu sangat berharga untuknya.


"Ketika kelak ibu pergi, siapa yang akan merawatmu? Ibu tak tau sampai kapan ibu akan bertahan nak." suara ibu terdengar pelan.


"Aku akan mencari wanita yang akan menjadi istriku kelak, tapi aku mohon ibu jangan pergi. Hanya ibu yang aku miliki saat ini." Rehan merebahkan kepalanya kepangkuan ibu.


"Baiklah, ibu tak akan pergi sebelum melihat kau bersanding dengan wanita di pelaminan. Ibu akan selalu ada di sisimu." ibu terisak menangis sedih di situ.


Rehan juga tak dapat menahan air matanya, ia juga menangis di pangkuan ibu. Ibu adalah orang yang paling ia cintai melebihi apapun itu.


"Aku mencintaimu Ibu." ucap Rehan.


***


Mobil tiba di bioskop yang direncanakan tadi, saat mereka berjalan masuk kedalam tak sengaja bertemu dengan Dilan.


Dilan juga baru masuk, dia hanya sendirian. Dilan melangkah mendatangi mereka. Mereka bersama-sama berada di lobby.


"Hai Kasih, hai Nathan." ia berlari pelan sembari menyapa.


"Hai Tuan Dilan, anda ke sini juga?" Kasih menyambut sapaan ramah itu.


Kurang ajar ini kadal gurun, ngapain dia di sini? Dasar pengganggu! Sialan dimana-mana dia selalu ada, seakan dunia ini miliknya seorang. Batin Nathan.


Nathan memasang tampang cemberut di hadapan Dilan, pria itu seperti virus yang menggangu. Ia tak mau terlihat sombong jadi mau tak mau ia merespon Dilan.


"Anda sendirian saja?" Nathan memotong pembicaraan Kasih dan Dilan.


"Iya nih." jawab Dilan, dilihat dari wajahnya, sepertinya Dilan menyimpan sejuta kesedihan.


"Oh, kalau begitu kami pergi dulu." Nathan tersenyum lalu mengakhiri pembicaraan, ia menggenggam tangan Kasih.


"Eh tunggu sebentar!" Dilan menghadang langkah mereka berdua. "Kalian mau nonton kan? Kalau aku ikut boleh gak?" permintaannya berharap diterima.


Kasih menatap Nathan meminta persetujuan, wajah Nathan terlihat memerah seakan menolak. Kasih menatap wajah kasihan milik Dilan hingga ia tak tega menolaknya, namun Nathan semakin panas.

__ADS_1


"Baiklah Tuan, anda bisa ikut kok." Kasih menyetujui itu tanpa meminta persetujuan dari Nathan.


Nathan melotot melihat Kasih, seenaknya saja gadis itu menerima permintaan Dilan. Tak mau berdebat, Kasih membawa dua pria itu pergi beli tiket dulu. Tiga tiket sesuai keinginan sudah didapat, mereka juga memesan tiga popcorn untuk ngemil sambil nonton nanti. Mereka akan menonton cerita Vampir diary's yang tengah booming.


Usia melewati beberapa tahap seleksi, mereka diperbolehkan masuk ke dalam ruangan bioskop yang super lebar. Kursi di depan banyak yang kosong, mereka duduk di sana. Kasih duduk berada ditengah-tengah Nathan dan Dilan, Nathan di sebelah kanan dan Dilan di sebelah kiri. Dilan memberikan senyuman hangat untuk Kasih sedangkan Nathan hanya diam menunggu film akan dimulai.


Para penonton seketika diam berjamaah dalam keheningan, semua mata tertuju pada layar bioskop yang menampilkan sebuah tayangan pemula. Mereka masing-masing mengunyah popcorn, wajah Nathan tak henti-henti menggambarkan komuk cemberut.


Ia melirik Dilan dengan rasa jengkel, ingin sekali ia tonjok namun sayang itu tidak bisa.


Saat adegan ciuman, Kasih pura-pura berdehem salah tingkah membenarkan sepatunya. Tangan kiri Nathan yang tergeletak di pinggir kursi digenggam oleh Kasih, Nathan tersentak sadar saat tangannya disentuh, ia menoleh ke sebelah seraya menunduk melihat tangan mereka menyatu.


Dilan mulai resah melihat adegan ciuman yang tak berhenti-henti bermain di layar kaca, ia memutar kepala memandangi seisi ruangan memandangi semua manusia itu. Dilan melihat tubuh Kasih sedikit mencondong pada Nathan, refleks ia menarik lengan Kasih agar mendekat dengannya, genggaman tadi langsung terlelap.


Dasar kadal! Kenapa dia menarik si udik? Apa kau bosan hidup heh Kadal?. Batin Nathan.


Nathan menatap tajam setajamnya ke arah Dilan, Kasih sedikit menjauh dari jangkauan Dilan. Adegan ciuman sudah berakhir, mereka duduk tenang menatap layar.


2 Jam Kemudian


Sudah 2 jam berlalu, mereka sudah selesai menonton film itu. Semua orang bubar satu persatu begitu juga dengan mereka bertiga, hari semakin larut, mata Kasih juga sudah merasa lelah ingin segera tidur.


Mereka sudah berada di basement untuk berpisah disana.


"Kasih, kamu aku anterin pulang ya?" Dilan menawarkan kebaikan untuk Kasih, ia menarik tangan Kasih agar ikut dengannya.


Melihat hal itu Nathan segara menarik kembali tangan Kasih. "Ehh gak bisa gitu, Kasih pulang bareng saya."


"Kasih itu lebih mengenal aku, jadi dia pasti akan lebih aman denganku." Dilan menepis tangan Nathan dari tangan Kasih.


"Tadi Kasih pergi dengan saya, jadi pastinya dia akan pulang bersama saya." Nathan tak mau kalah, ia akan terus berusaha.


Kasih bingung dengan perdebatan kecil itu, ia berusaha menolak Dilan namun tak bisa.


"Nathan, kamu pulang sendiri saja ya, aku akan mengantar Kasih pulang." Dilan melepaskan genggaman tangan Nathan dan Kasih.


"Tidak bisa, dia harus pulang bersamaku." Nathan semakin berkeras.


"Oke kalau begitu, begini saja. Kasih kamu mau pulang diantar dengan siapa? Nathan atau aku?" Dilan menawarkan itu sebagai pilihan.


Kedua pria itu berdiri di depan Kasih sambil berharap akan dipilih, baru kali ini Kasih disuruh memilih sesuatu. Ia menatap empat mata yang ada di depan, ini pilihan yang sangat berat, lebih berat dari rindu yang diucapkan Dilan pada Milea di film (Dilan 1990) Jika ia memilih salah satu maka salah satu dari itu akan tersakiti, jujur saja ia ingin memilih Nathan namun ia merasa tidak enak hati dengan Dilan. Jika ia memilih Dilan tentunya itu tidak masuk akal, kenapa ia harus memilih orang lain sementara ia masih memiliki suami. Sebaiknya ia golput saja dan memilih pulang sendiri.


"Saya akan pulang sendiri saja, terimakasih atas semuanya. Saya tidak akan melupakan kebaikan kalian." Kasih membungkuk hormat lalu berlari begitu saja meninggalkan mereka.


Dilan dan Nathan terdiam ditempat memperhatikan kepergian Kasih, Nathan tersenyum jengkel kepada Dilan. Dan pada akhirnya mereka juga berpisah.


BERSAMBUNG


***


Hay Hay para pembaca setia DPMP🤗, Ay mau promosi sebentar nih.


Yuk yang suka cerita dewasa mampir ke novel Terbawa Hasrat Om CEO yuk, karya novel kak (Mey Olivia) dijamin seru deh ada rasa panas dinginnya juga kek es teh manis🤭 Baca novelnya juga enak kalau di hari panas bikin seger gitu, emak-emak pasti suka cerita CEO CEO gitu kan apalagi ada hot hotnya hehehehe 😁 Mampir aja gpp kok sekalian nunggu up novel Ay selanjutnya, terimakasih semuanya Ay love you 😍.

__ADS_1


Yang gambar di bawah ini yah guys👇 Okeh ditunggu loh kedatangan kalian, Babay saranghaeyo 😘.



__ADS_2