Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Keanehan


__ADS_3

Kasih berjalan menaiki anak tangga bersama Nathan, para keluarga memperhatikannya hingga naik ke lantai dua. Kasih menoleh meraka semua lantas dia merasa heran, ada apa sebenarnya? Kenapa Nona, Jasmine dan yang lain berubah menjadi bangga padanya. Tidak masalah, Kasih mengusir rasa penasarannya dari otak, dia memikirkan misinya saat ini, memberikan Nathan pelajaran, mempermainkannya dengan kecantikan dirinya saat ini hingga Kasih bisa memastikan apakah Nathan benar-benar sudah berubah dan mencintainya.


Selangkah saat berada di depan pintu, Kasih tiba-tiba mendapatkan rencana terselubung.


"Ahhhhh, aw ... sakit." erang Kasih, dia seketika terjatuh dan merintih kesakitan.


Nathan tak jadi membuka pintu ketika mengetahui Kasih terjatuh kesakitan, dia langsung bertekuk di lantai memastikan keadaan Kasih.


"Kasih kamu kenapa?" tanya Nathan, dia merasa panik tak karuan.


"Kaki aku sakit, aduh sakit." Kasih merintih kesakitan sembari memegang kedua kakinya.


"Kok bisa?"


Kasih menggeleng, sebenarnya dia tak tahan menahan tawa bila melihat Nathan dalam keadaan panik. Tapi Kasih harus bertahan karena ini adalah permainan awalnya.


"Gendong." Kasih mengangkat tangan dengan wajah manja sehingga membuat Nathan menjadi gemes.


"Kenapa harus di gendong?" tanya Nathan, dia ragu untuk melakukan apa yang di pinta oleh Kasih.


"Aku gak bisa jalan, kakiku kan lagi sakit. Gendong."


Nathan menghembuskan nafas, dia memberikan senyuman ikhlas. Jujur dia juga senang kalau disuruh menggendong si udik yang sudah menjadi ratu itu.


"Baiklah." Nathan menyelipkan tangan kanannya ke lipatan kaki Kasih lalu yang satunya digunakan untuk menyanggah badan Kasih, lalu pelan-pelan ia pun menggendong wanita itu.


Uh tampannya suamiku ini. Kasih tersenyum sumringah melihat wajah Nathan.


"Tolong buka pintunya!" perintah Nathan.


Kasih terdiam sejenak, dia tersenyum licik kali ini.


"Aduh tangan aku juga sakit gak bisa digerakkan, kamu buka sendiri aja ya." Kasih melingkari kedua tangannya di leher Nathan.


"Kasih, aku gak bisa membukanya. Lihatlah ini, tanganku kan hanya dua dan digunakan untuk mengangkat tubuhmu."


"Aduh tuan petir, tanganku ini sakit sekali. Berusahalah." Kasih menggigit bibir bawahnya, dia memasang tampang sedih yang dibuat-buat.


"Huh." Nathan membuang nafas kasar, dia pura-pura tersenyum ikhlas. Demi sang istri, dia pula berusaha sekuat tenaga untuk meraih kenop dan membuka pintu.


15 menit berlalu, Nathan berusaha membuka pintu namun sulit baginya. Dia merasa kelelahan mana kala sedang menggendong tubuh Kasih yang lumayan berat walaupun kurus.


Kasih tertidur manja di dekapan Nathan, di dalam diam dia terus saja tertawa puas.


"Ayo dong tuan petir, semangat. Aku sudah mengantuk nih hoaaamm." ucap Kasih, dia pura-pura menguap lalu membenamkan wajahnya di dada Nathan.


Kenapa aku jadi kesulitan begini ya? Nathan berhenti sejenak menghilangkan rasa penat, dia menatap Kasih sebentar. Sungguh dia dibuat terhipnotis oleh kecantikan si udik, dan Nathan merasa kalau dirinya benar-benar jatuh cinta dengan si udik itu.


Pada akhirnya pintu berhasil dibuka, Nathan merasa lega. Mereka masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Turunkan aku." ucap Kasih ketika sudah berdiri di balik pintu.


"Baiklah aku akan menurunkan mu di ranjang."


"Tidak-tidak, turunkan saja aku di sini." tolak Kasih yang terus bersikukuh minta diturunkan.


Karena Kasih memaksa dengan terpaksa Nathan pun menurunkannya dipertengahan jalan, Nathan sebenarnya sangat khawatir dengan Kasih yang kakinya tengah sakit.


"Terimakasih." ucap Kasih ketika sudah diturunkan.


Nathan memperhatikan Kasih yang terlihat baik-baik saja, ia bingung, bukankah tadi kakinya sakit?


"Aku mau bersih-bersih dulu, tolong ambilkan semua barang-barangku ya." seru Kasih seraya melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Nathan.


Bukankah kakinya sakit? Tapi kenapa ... Nathan menggaruk kepalanya, sekarang dia menjadi pusing.


"Kasih." panggil Nathan sehingga membuat Kasih berhenti dan mengarah ke padanya.


"Apa?"


"Kamu gak apa-apa? Bukankah tadi kaki kamu sakit?" tanya Nathan seraya berjalan menghampiri Kasih.


"Tidak, kakiku baik-baik saja. Tidak sakit sama sekali." jawab Kasih dengan acuh sekaligus menunjukkan kakinya yang mulus, setelah itu dia melanjutkan langkahnya.


"Hah?" Nathan dibuat kebingungan, dia merasa menjadi bodoh. Apa dia mempermainkan aku?


"Jangan lupa ambilkan semua barang-barangku!" pekik Kasih dari dalam kamar mandi.


Nathan bertanya-tanya sendiri sembari keluar dari kamar untuk mengambil barang-barang Kasih yang masih tertinggal di dalam mobil.


"Oh Tuhan, berat sekali." keluh Nathan saat sudah membawa semua barang-barang Kasih dari dalam bagasi mobil.


Dia kerepotan mengangkut semuanya, tangan kanan, tangan kiri semuanya dipenuhi untuk mengangkut barang.


"Tuan muda, sini saya bantu." ucap satu satpam menawarkan kebaikan untuk tuan mudanya, ia merasa iba melihat sang tuan muda tengah kesulitan.


"Tidak usah, aku bisa kok. Ini tugas suami." ujar Nathan menolak tawaran itu.


"Tuan beneran tidak apa-apa?" tangan si satpam sudah terasa gatal ingin sekali membantu.


"Tutup bagasinya." perintah Nathan saat sudah berjalan meninggalkan satpamnya.


"Ckckck, kasihan sekali Tuan mudaku." satpam itu menggeleng kepala memperhatikan Nathan, dia pun segera menutup bagasi mobil.


Kasih membuka pintu lemari bajunya, ia mencari pakaian yang lebih bagus dari pakaian sebelumnya.


Kasih berdiri di sana sembari berfikir.


"Baju apa yang harus aku pakai?"

__ADS_1


Kasih mendapatkan akal, dia melirik lemari baju Nathan. Dia pun mendekatinya lalu mencari sesuatu di sana.


"Aku pakai ini aja deh." Kasih mengambil baju kemeja putih milik Nathan dari hanger gantungan di lemari.


Nathan kembali ke kamar, dia merasa kesal karena pintu kamar itu tertutup. Sulit baginya untuk membuka pintu lantaran kedua tangannya tengah sibuk membawa barang-barang.


"Kasih." pekik Nathan, beberapa menit dia menunggu tak ada apapun, beberapa kali dia memanggil namun Kasih tak kunjung membukakan pintu.


"Apakah ini ujian darimu untukku Tuhan?" celetuk Nathan. Mengapa tidak, dari tadi dia merasa seakan mendapatkan ujian bertubi-tubi.


"Brukk ... brukk."


Karena pintu tak kunjung dibuka dan tangannya tak dapat digunakan. Akhirnya Nathan mengetuk pintu menggunakan keningnya.


"Ahh sakit sekali." rintihan dari mulutnya keluar berturut-turut.


"Sebentar." jerit Kasih dari dalam kamar sambil mengancing kemeja yang ia pakai.


Dia berlari kecil mendekati pintu. "Uwow." Kasih terbelalak melihat Nathan yang tengah berdiri kerepotan.


"Astaga Tuan petir, kemari aku bantu." Kasih mengambil satu kardus dari tangan Nathan, setidaknya mengurangi beban pria itu.


Nathan segera masuk kamar dan meletakkan semuanya di lantai, dia memperhatikan Kasih yang begitu seksi mengenakan kemejanya.


"Ngomong-ngomong." Nathan menggantung ucapannya sembari menangkap langkah Kasih yang menuju sofa, "Kamu seksi sekali." sambungnya memuji.


Kasih terdiam sejenak memperhatikan tubuhnya yang menarik perhatian pria itu, Kasih duduk di sofa sambil melipat kakinya sehingga paha putih mulus itu jelas terlihat.


"Bajuku jelek-jelek semua, jadi pinjam kemeja mu untuk sementara ya?" jelas Kasih seraya mengeluarkan barangnya dari dalam kardus.


"Pakailah." Nathan menghempaskan tubuhnya di sofa, dia bersandar melebar tangan memperhatikan paha Kasih yang begitu memikat memancing hasratnya.


Kasih masih sibuk membenahi barang-barang, dia tak menyadari bahwa Nathan terus saja kesenangan menyaksikan pahanya yang indah.


Sesekali Kasih melihat wajah Nathan, tapi ada yang aneh. Dia melihat kening Nathan yang memerah.


"Kening kamu kenapa Tuan?" tanya Kasih sembari menunjuk kening Nathan.


"Ini?" Nathan menunjuk keningnya sendiri, Kasih mengangguk.


"Tadi tanganku tidak bisa mengetuk pintu karena memegang barang-barang itu, pintunya terbuka dan aku sudah berapa kali memanggilmu. Akhirnya aku ketuk pintu pakai keningku."


"Hahahaha." gelak tawa Kasih pecah sesaat Nathan menjelaskan hal selucu itu. Kasih ketawa seolah Nathan sedang melucu.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Nathan dengan datar, gadis itu tertawa di atas penderitaannya.


Kasih berhenti ketawa, dia menghela nafas akibat sesak saat tertawa. Dia menatap serius wajah Nathan yang begitu polos.


"Anda aneh sekali Tuan, hahaha. Maksudku, kenapa harus pakai kening untuk membuka pintu? Ah, anda ada-ada saja."

__ADS_1


Kasih menggeleng tak habis pikir dengan tingkah aneh Nathan, pria itu langsung malu akibat kebodohannya. Tapi dia senang, dengan begitu dia bisa melihat tawa yang begitu pecah dari si udik.


*****


__ADS_2