Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Syuting Pertama


__ADS_3

Nathan sedang berada di Hotel berbintang lima, ia bersama sekertaris duduk di sofa yang tersedia di lobby.


Sekertaris Rehan memboking tempat tersebut dan artinya semua orang tak boleh duduk disana, Nathan terlihat kegerahan akibat keringat yang tak berhenti bercucuran membasahi tubuhnya. Padahal Gedung itu sudah dipasangi puluhan AC yang berada di setiap sudut. Sudah extra dingin.


Keningnya terus memunculkan uap keringat, bajunya sangat basah tak kering-kering.


Rehan pula bekerja mengipasi tubuhnya menggunakan lembaran kertas dokumen yang amat penting, kertas-kertas dokumen itu sudah kusut akibat kencangnya Rehan mengipasi tubuh Nathan.


"Re kenapa kau pelan sekali? ayo kuat-kuat!" Nathan menggerakkan paksa tangan Rehan agar semakin laju mengipas dirinya.


"Iya Tuan inikan sudah kuat."


Dengan penuh kesabaran dan kekuatan ekstra lipat Rehan memberikan angin untuk Nathan, berharap dengan angin tersebut bisa menghilangkan keringatnya.


Jangan sampai Nathan terlihat basah hingga menimbulkan bau tidak sedap saat bertemu dengan klien dari Korea.


"Re perasaan aku kok tidak enak ya? pasti siudik benar-benar selingkuh dengan Kadal itu."


Nathan terlihat lemas menyender di badan kursi.


Tuan-tuan, kenapa anda selalu saja memfitnah nyonya muda?


Bilang saja anda cemburukan? Sikap anda aneh-aneh saja akhir-akhir ini, ckckck sepertinya anda mulai jatuh cinta dengan nyonya muda. batin Rehan.


Rehan memandang wajah Nathan sembari bergelayut dalam fikiran.


"Ayo kipasin aku kuat-kuat Re, aku kepanasan." Nathan mengipas dirinya menggunakan tangan juga, ia merasa angin yang diberikan Rehan belum cukup memuaskan.


Semua orang yang berada di lobby Hotel terus saja memperhatikan mereka, mungkin sebagian dari orang itu merasa aneh terhadap Nathan yang merengek kepanasan dari tadi.


Selang berapa menit segerombolan pria dan beberapa orang wanita masuk.

__ADS_1


Semua pria itu kompak memakai jas hitam dan juga para wanitanya memakai blus katun dipadu rok span, mereka semua serba hitam berjalan diiringi beberapa bodyguard.


Nathan sontak berdiri begitu juga Rehan ingin menyambut kedatangan tamu penting, Rehan berhenti mengipasinya dan Nathan buru-buru mengilap keringat yang tak berhenti menetes.


Nathan pun berjalan menuju arah pintu.


"Annyeong hasaeyo." Sapa mereka bersamaan.


Ketua dari orang penting itu bersalaman dengan Nathan dan Rehan, terlihat berbagai senyum keluar dari wajah ke wajah. Mereka teramat sangat ramah.


"Yeohaeng-eun eottaess-eo?" (Bagaimana perjalanan anda Tuan) Nathan mengajukan satu pertanyaan pembuka, ia bertanya kepada Tuan yang memiliki nama Kim Tae oh jadi sebut saja Tae oh.


"Aaa, jeongmal jaemissda." (Aaa, sungguh menyenangkan) Tae oh menjawab dengan ikhlas.


"geuleom deul-eo gabsida." (Baiklah kalau begitu kita lanjut kedalam saja) Rehan memotong pembicaraan ingin segera membawa mereka ketempat yang ia maksud, tidak baik berbincang diluar seperti di lokasi mereka saat ini.


"Eoseo." (Ayo) ucap mereka bersamaan lagi.


Mereka semua berjalan menuju banquet room, Rehan memimpin perjalanan sedangkan Nathan sibuk berbicara sedikit dengan Tae oh.


Kasih baru keluar dari ruang ganti bersama Dora, ia sudah terlihat rapi dengan gayanya yang kolot. Berhubung juga difilm ini ia berperan sebagai wanita kampungan jadi dia sudah tak ragu lagi.


Kasih dan Dora berdiri di balik kamera disitu juga ada sang sutradara yakni Dilan, ia tengah sibuk mengecek keadaan kamera takutnya ada yang rusak. Dilain tempat ada beberapa aktor tampan dan aktris legendaris tanah air terlihat sibuk menghapal narasi.


Kasih tak begitu mengenal aktris dan aktor tanah air jadi dia tak begitu norak, ia tak pernah mengidolakan bintang-bintang papan atas seperti lawan mainnya saat ini. Dia juga tak berniat meminta foto atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat umum kepada orang yang terkenal.


Dia tampak biasa saja tapi memang saat ini jantungnya berpacu lebih cepat, ini untuk kedua kalinya dia menjalani syuting dan untuk pertama kalinya ia membintangi film, jadi dia harus profesional menjalani akting sebagai peran utama.


Sudah lumayan lancar ia menghapal semua dialog yang ada didalam narasi tersebut.


Harinya sangat panas dan matahari mengeluarkan cahaya begitu terik, semoga tidak ada halangan hingga mengganggu semangatnya.

__ADS_1


Dilan yang tengah fokus menata kamera baru sadar kalau ada Kasih di belakangnya, ia memutar kursi mengarah belakang.


"Kasih, apa kamu sudah menghapal semua dialog itu?" Dilan tak ingin jika Kasih masih belum bisa menghapalnya.


"Sudah pak, saya sudah menghapalnya." Kasih menjawab antusias penuh kesemangatan.


"Oke baguslah, rupanya kamu memang cekatan ya. Kalau begitu kamu harus siap-siap 15 menit lagi kita akan mulai." Dilan memuji Kasih ya walaupun dalam bentuk pujian kecil tapi Kasih sudah sangat senang.


"Baik pak."


Usai berbicara Dilan memutar tubuhnya lagi menghadap kamera, Kasih mengulang hapalan teks itu didalam hatinya agar ia benar-benar ingat. Dora juga tengah sibuk memoles-moles setumpuk bedak kewajah Kasih, ia tentu saja risih dengan pelayanan asistennya itu, bukankah tadi sudah di makeup lalu kenapa dipoles lagi? ia tergeli risih terkena kuas makeup yang tak berhenti menggelitik wajahnya. Memang dia tidak suka berdandan dan seharusnya itu tidak perlu baginya, karena berdandan adalah salah satu kebutuhan syuting jadi dia pasrah saja.


Alrico datang menghampiri Kasih. "bueno Kasih comenzamos ahora, te paras al frente." (Oke Kasih kita mulai sekarang, kamu stan by didepan)


Alrico mengarahkan Kasih pergi kedepan kamera, disana para artis dan aktor senior sudah siap siaga. Mereka terlihat ramah menyapa Kasih apalagi aktor peran utamanya sangat tampan, ia melirik sedikit kewajah aktor yang akan menjadi lawan mainnya.


Dia pemuda yang sangat tampan, persis mirip oppa-oppa Korea idolaku tapi siapa ya namanya? Emm mirip Ji Chang Wook haa benar itu namanya, bibirnya sangat imut ingin sekali aku gigit. Tampangnya juga mengimbangi Tuan petir ku. batin Kasih.


"Oke Kasih, kamu sudah siap? Dilan separuh berteriak disana.


Kasih yang tengah tenggelam dalam lautan pancaran sinar pesona sang aktor, langsung terjaga oleh pekikan Dilan yang menggema dengan toa. Ia merasa malu saat semua orang menyadari kalau ia tengah memandangi aktor tersebut terus-terusan.


Aduh Kasih bagaimana bisa kau terpesona dengan ketampanannya? Sadarlah bahwa dirimu ini sudah menikah dan mempunyai suami, kau tidak boleh tergiur oleh pemuda manapun, jaga mata jaga hati jaga pandangan jangan jelalatan. batin Kasih.


"Siap."


Kasih mengacungkan jempol kepada Dilan dan Alrico, kian dirinya sudah semangat 54. Tanpa disadari sang aktor juga tersenyum melihat kegigihan Kasih, dia berfikir bahwa lawannya saat ini bukanlah berakting dalam penampilan kolot melainkan memang benar-benar kolot.


Nama sang aktor adalah Dewa Mahardika Enzo usianya sekitar 30 tahun, ia memiliki banyak fans base yang rata-rata kaum hawa. Dia memiliki banyak kemampuan selain pintar di dunia entertainment dia juga pintar menarik hati para wanita, followers nya di Instagram mencapai 24,5m yang rata-rata juga pengikutnya wanita dari yang bocah, ABG, serta emak-emak. Saat ini Dewa menyandang status jomblo dia sudah 3 kali ikut Take me out namun sayang tak ada satu wanitapun yang mampu menarik hatinya.


"Kamera rolling eksyen."

__ADS_1


Dilan berteriak memberi aba-aba, semua kamera serentak bekerja fokus kearah sang pemain. Sebuah film bergenre romance dramatis dan dibungkus dengan sedikit bumbu konflik, Kasih mengucapkan kata yang ada didalam narasi dengan begitu fasih. Tak ada patah sekalipun hingga Dewa yang terkenal jago akting kalah lancarnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2