Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Penyamaran Nathan Dan Rehan (2)


__ADS_3

Dua orang pria bergaya didepan Mall menghadap dunia, satu wajah terlihat ceria dengan bangga namun satunya lagi terlihat tegang pucat seperti vampir. Sungguh penampilan yang aneh jika dipandang, bisa dibayangkan bagaimana gaya mereka saat ini kala memakai jumpsuit pink dengan warnanya yang menyakiti mata serta wajah yang ditumpuki bulu, kacamata gelap anti badai melindungi mata mereka.


"Ayo!" Nathan mengajak berjalan menuju basement.


Rehan tak bisa membiarkan rencana konyol itu terjadi, walaupun Nathan belum mengatakan konsep dari penyamaran namun Rehan sudah mengerti semuanya.


Saat Nathan melangkah ia menarik tangan pria itu sambil berkata. "Tuan tolonglah jangan seperti ini." bujuknnya agar Nathan membatalkan rencana.


"Sudahlah jangan melawan, kau ini lama-lama seperti si udik selalu saja melawanku." Nathan menarik paksa Rehan masuk kedalam mobil, kali ini ia yang menyetir sedangkan Rehan duduk disamping sekaligus merengek-rengek.


Mobil meluncur meninggalkan area Mall dengan kecepatan tinggi, mentang-mentang orang kaya. Nathan selalu saja berbuat sesuatu sesuka hatinya.


"Tuan tolonglah." Rehan bermohon-mohon agar diberi keringanan.


"Alah Re, jangan bertingkah seperti anak kecil, kau mau gajimu aku potong 70%?" kecamnya menguatkan tujuan dan menggoyahkan hati Rehan.


Mendengar ancamannya, Rehan kembali duduk tenang sekarang perasaannya sudah tercabik-cabik. Dia harus mengalah dan terus bersabar menghadapi bocah bucin seperti Nathan, sekarang siapa yang waras dan siapa yang tak waras?


Rehan lah yang waras menurutnya sendiri, sepertinya Nathan sudah dirasuki setan bucin.


BEBERAPA SAAT KEMUDIAN


Mobil tiba di tempat lokasi syuting didaerah perumahan, satu parkiran kosong mereka tempati. Nathan melepas sabuk pengaman sekaligus mematikan mesin mobil, Nathan keluar dari mobil dengan gaya tingkat tingginya.


Demi sang tuan muda, Rehan terpaksa menurut mempermalukan diri.


Mereka berdiri disamping badan mobil menatap orang-orang yang sedang sibuk bekerja, sebelum masuk kedalam area syuting Nathan mengecek penyamarannya dulu, takut bila ada yang kurang jika itu terjadi maka rencananya akan gagal, dia ingin memata-matai tentang perselingkuhan si Kadal dan si Udik.


Dari kejauhan ia melihat Kasih yang masih syuting di depan rumah mewah tersebut, Nathan berjalan mengendap-endap menuju tenda tempat peristirahatan sang artis sambil memantau. Dia melihat Dilan tengah sibuk merekam adegan sebuah percekcokan.


Tak berapa lama syuting pun selesai hingga sang artis bubar, Kasih berjalan kebelakang mendekati Dora, karena hawa sangat panas membuat tenggorokannya kering seperti Gurun Sahara. Ia langsung menyambar sebotol Aqua dingin dari tangan Dora lalu diseruput sampai habis.


"Waktunya makan siang!" salah satu staf yang mengurus katering membawa makanan dan memanggil semua orang.


Staf itu berjalan kearah tenda dengan menenteng puluhan kotak makanan tadi, Nathan dan Rehan cepat-cepat enyah dari sana. Semua crew dan para artis beralih ke tenda peristirahatan mengambil makanan satu persatu.

__ADS_1


Nathan berinisiatif pergi menuju dapur jalan untuk melakukan sesuatu agar bisa mendekati semua orang yang ada di tenda, Rehan terpaksa lagi mengikuti kemauan tuannya.


Mereka berjalan mengendap-endap seperti maling mencari dapur, ke kanan atau ke kiri apa sebaiknya lurus saja? Begitulah Nathan mencari arah dapur umumnya.


Arah sebelah kanan sudah terpilih, di sanalah arah dapur umum.


Saat memasuki dapur tak ada siapapun disana, dapur itu menggunakan tenda bewarna ungu didirikan oleh bantuan kayu, kemungkinan akan roboh bila diterpa angin ****** beliung. Disana hanya ada satu orang pria paruh baya yang bekerja sebagai PU sedang mengaduk-aduk kopi, Nathan memastikan keadaan sekali lagi sambil berfikir keras.


Dia mendapatkan ide dengan cepat, ia berprasangka bahwa kopi itu mungkin untuk para artis, ia pun melangkah mendekati PU tersebut.


"Ehh ehh... Kenapa kopinya anda ambil?" PU tersebut sontak kaget ketika kopi yang masih ia aduk diambil paksa oleh Nathan.


"Diamlah!" Nathan membentak pria separuh abad tersebut sambil mengangkat kopi itu.


"Tapi kenapa anda mengambil kopinya?" PU itu berupaya merebut kembali kopi buatannya yang akan di sajikan untuk para artis.


"Berani sekali kau mencegahku?" Nathan berputar arah ketika kopi ingin ditangkap.


"Kalian siapa?" gusar si PU sedikit menantang merasa marah.


Nathan geram melihat PU yang berusaha merebut kopi, ia memberikan kopi kepada Rehan. Ia menantang lawan menatap sang PU yang tengah melotot melihatnya.


Mata sang PU terbelakak lebar terkejut melihat pria jahat ada di depannya, sang PU merasa segan mengusap-usap kepala dengan memasang tampang menyedihkan agar tak dimarahin.


"Tu..Tuan maafkan saya, saya tidak tau kalau itu anda. Tapi apa yang sedang anda lakukan disini? Dan untuk apa anda mengambil kopi itu?" sang PU terlihat terkejut gemetaran takut bak mendengar suara petir.


"Aaahhh, gara-gara kau aku harus membuka kumis ku." Nathan kesal mengatasi si PU, ia memasang kembali kumis palsunya.


Ia membuang muka kesal kepada pria pengganggu tersebut, semuanya sudah kembali beres ia pun merebut satu nampan yang berisi gelas kopi tadi dari tangan Rehan. Ada satu nampan lagi diatas meja dan Rehan yang membawanya, mereka berjalan keluar tenda.


Sang PU terdiam mematung seperti kena hipnotis, ia berdiri menggeleng kepala melihat dua orang tadi merampok kopi buatannya sendiri. Bahkan ia tak bisa berkata-kata dan mencegah kemauan Nathan, tanpa sebab dan tau mereka mengambil kopinya dan melakukan hal semacam penyamaran, tak tau apa maksudnya tapi itu sangatlah tidak berprikemanusiaan bagi si PU.


Nathan dan Rehan berjalan perlahan membawa kopi menuju tenda peristirahatan, separuh perjalanan Nathan terhenti ketika melihat sesuatu.


Rehan juga ikut berhenti terheran-heran melihat Nathan.

__ADS_1


"Re, benarkan mereka berselingkuh?" betapa terkejutnya Nathan saat melihat Kasih disuapi oleh Dilan.


Tentu Rehan merasakan hal yang sama seperti tuannya, ia tak boleh gegabah dan membiarkan Nathan mengeluarkan emosi.


"Ternyata mereka berselingkuh?" ia bertambah emosi melihat Dilan mendekati Kasih.


Nathan mengendus banyak udara kian emosi membara, jangankan dia. Rehan yang sedari tadi tak sadar diri ikut berubah panas seperti knalpot, dengan langkah cepat mereka menghampiri tenda.


Tiba disana Nathan dan Rehan langsung melancarkan penyamaran.


"Ini kopinya!" dengan senyum ramah Nathan berikan kepada orang-orang tersebut.


Mereka membagi kopi satu persatu kepada manusia disana, matanya sedikit-sedikit melirik Kasih dengan tatapan sengit, tawa yang keluar dari mulut Kasih cukup membuat Nathan bahagia walaupun bukan bersama dia.


"Kasih, ini untukmu!" Dilan memberikan kopi yang ia punya untuk Kasih.


"Terimakasih Tuan." Kasih mengambil kopi itu dari tangan Dilan.


Lagi-lagi Nathan dibuat emosi ketika tangan Dilan hampir menyentuh tangan Kasih, refleks Kasih menghindar dan segera merebut gelas tersebut. Sudah jelas kasih menolak tapi Nathan tetap tak bisa sabar menyaksikan sebuah kepengkhianatan itu.


Ketika selangkah Nathan mau maju Rehan menarik tangannya.


"Tahan Tuan! Ingatlah kita ini dimana, kita lagi menyamar bukan?" Rehan berbisik menahan amarah sang tuan petir yang hendak menggelegar menyambar manusia.


Berani sekali ya kau udik berselingkuh terang-terangan di hadapanku, huh. Dasar istri pengkhianat, kau mau masuk neraka heh? Sudah berani-beraninya melakukan hal sekotor itu. Batin Nathan.


Rehan menarik lagi tangan Nathan agar segera enyah dari tempat itu, Nathan tak bisa berpaling dari hadapan Kasih. Baru kali ini ia merasakan sesuatu yang sangat mencabik-cabik nyawanya.


Sebentar mereka berdiri disana pura-pura sibuk padahal ingin memata-matai saja, jujur Rehan sudah tak tahan namun Nathan terus saja memaksanya untuk bertahan.


Entah kenapa sendok yang di pegang oleh Nathan jatuh ke tanah, ia menunduk untuk mengambilnya. Namun kumisnya terasa lekang ingin copot maka berusaha ia lengketin kembali.


Setelah sendok itu terambil ia pun kembali berdiri tapi ada sesuatu yang terjatuh.


"Pak itu kumisnya copot." ucap Dilan.

__ADS_1


Entah masih polos atau lugu dan mungkin pura-pura tak tau Dilan memberitahukan hal tersebut kepada Nathan, tentu Nathan menyadari itu dan segera mengecek kumisnya. Hal memalukan itu disadari semua orang disana.


BERSAMBUNG


__ADS_2